30HMBCM
Oleh: Fitri Sumantri
CemerlangMedia.Com, STORYTELLING — “Terkadang, kita merasa hidup itu berat, menyakitkan, dan penuh air mata, sampai kita lupa banyak sekali hari-hari yang kita lewati dengan tawa. Hingga kita sibuk bertanya pada Allah Swt., kenapa harus saya, kenapa selalu saya dan kenapa? Padahal Allah hanya ingin kita kembali jadi diri kita, jadi diri yang merasa lebih hidup, lebih bermakna, lebih terasa, lebih dinikmati. Bukan serupa manekin yang menunggu arahan tuannya.”
Sekarang itu rasanya lebih hidup. Ya, bukan berarti sebelumnya nggak hidup, tetapi… lebih ke terpaksa bertahan, sebab tidak ada pilihan. Sebenarnya hidup itu bukan hanya sekadar tentang bernapas atau menjalani rutinitas sehari-hari. Hidup itu adalah cerita di mana aku benar-benar merasakan setiap momen, menghargai detail kecil, dan menemukan makna dalam hal-hal yang sederhana.
Hidup itu akan terasa lebih hidup ketika kita mampu membuka diri terhadap pengalaman baru, menyambut perubahan, dan menikmati perjalanan tanpa terlalu terikat pada hasil akhir. Namun yang terjadi selama ini, justru sibuk pada penilaian orang terhadap hasil tanpa bersimpati pada proses. Padahal sebenarnya, hasil itu hanyalah sebuah hadiah kecil dari proses panjang yang membentuk diri menjadi sesuatu yang berbeda.
Terkadang, ada fase di mana tidak semua jejak perlu untuk diingat, apalagi fase di mana aku merasa hidup seolah berjalan tanpa arah, tanpa tujuan, dengan rutinitas yang monoton, tidak jelas, membuat diri makin lelah, tekanan pekerjaan yang terasa mencekik dan rasa sepi membuatku perlahan kehilangan diriku sendiri. Sepi bukan karena tidak memiliki teman, tetapi rasanya, teman yang ada hanyalah sebatas formalitas semata atau barangkali teman sebatas kepentingan. Sebab, tidak ada empati, yang ada hanya memaksakan kehendak. Dan aku juga pernah merasa asing dengan cermin yang menatap balik diriku setiap pagi. Seolah orang yang kulihat bukan lagi diriku, bukan karena dia tak mirip aku, hanya saja ada detail berbeda yang sulit kujelaskan.
Dulu hari-hari itu berlalu dengan hampa. Tersenyum itu rasanya berat, bahkan aku pernah duduk sendirian di sebuah bukit sambil berteriak sekencang-kencangnya dengan harapan, aku bisa tertawa lepas setelahnya. Akan tetapi sayang, hal-hal yang awalnya membuatku bersemangat, mulai terasa hambar. Aku merasa seolah terjebak dalam lingkaran yang tak berujung, hingga suatu hari, sebuah kesempatan kecil mengubah segalanya.
Kesempatan yang mempertemukanku dengan seseorang yang merubah cara pandangku tentang kehidupan. Membuatku memberanikan diri untuk pergi, memulai cerita baru dengan versi berbeda. Meski awalnya aku ragu, tetapi Allah Swt. kembali menguatkan hati bahwa niat mendekat pada-Nya bukanlah suatu kesia-siaan, tetapi justru kehidupan yang lebih terasa indah.
Namun, setelah kumenemukan kehidupan baru, segalanya terasa berbeda, lebih segar, lebih penuh warna, dan lebih bermakna, serta lebih terasa hidup. Ada semacam energi yang mengalir, membuat setiap langkah terasa lebih ringan dan setiap momen lebih berharga. Hidup tidak lagi sekadar rutinitas, melainkan sebuah rencana-rencana untuk perubahan yang lebih baik, serta perjalanan yang penuh kejutan dan kesempatan.
Agenda-agenda kajian terasa makin menyenangkan. Banyak hal-hal baru yang ingin dicoba, tentu dengan harapan ingin mengubah umat yang sakit. Sakit yang dimaksud tentunya bukan fisik, tetapi lebih ke pemikiran yang sudah tercampur dengan pemikiran sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan.
Dipertemukan dengan orang-orang yang tidak hanya membahas perkara dunia, tetapi akhirat begitu jelas dalam bayangannya. Dengan penuh semangat, terbuka, dan hangat. Mereka menyambutku tanpa syarat, mendengarkan ceritaku tanpa perlu mengubah sisi lain dari diriku, dan mengajakku ikut serta bertumbuh bersama.
Kami sama-sama belajar bagaimana caranya menjadi pembawa acara tanpa harus membuatku serupa patung yang tidak menemukan jedah untuk menanggapi, pembaca do’a tanpa perlu mengkritik caraku yang terlalu dramatis, hingga membuat audiens menangis. Pembaca puisi tanpa menganggapku alay, sebab kecintaanku pada puisi yang lebih. Maupun jadi pemateri dengan minim ilmu yang dipunya. Bersama mereka, aku tidak perlu menginggat jejak masa lalu yang kelam, tidak juga perlu merajut potongan-potongan hati yang kosong, memberinya dengan hiasan terindah ialah sahabat surga, yang menasihati saat khilaf, menyemangati bila futur, serta merangkul saat sedih.
Lingkungan baru itu menjadi titik balik. Tempat di mana aku mulai menemukan kembali diriku dalam tawa teman-teman baru, dalam aktivitas kajian yang terus membuatku sadar akan banyak khilaf yang terlewat, dan dalam percakapan yang membuatku merasa dipahami. Aku menyadari bahwa kehilangan bukanlah akhir, melainkan jalan menuju sesuatu yang lebih indah.
Kini, aku merasa lebih hidup. Aku bangun setiap pagi dengan senyum, menyambut hari dengan rasa syukur, dan menjalani hidup dengan hati yang lebih ringan. Kehidupan baru bersama teman dan lingkungan yang mendukung membuatku bahagia, bahagia karena akhirnya aku menemukan kembali diriku yang sempat hilang. Dan pada akhirnya aku mengerti bahwa Allah tidak pernah melepaskanku, ia selalu ada memberi ruang di hatiku. Hanya saja, aku yang sering kali mengabaikannya hingga hati terasa kosong.
“Ada fase di mana kita merasa semuanya baik-baik saja, tetapi terkadang tidak bagi sebagian orang. Mereka tengah berjuan untuk mencari kepingan-kepingan diri mereka yang sudah lama hilang, hilang tanpa mereka sadari hingga akhirnya menemukan secuil cahaya yang menyadarkan bahwa diri itu harus kembali ditemukan. Meski punya versi berbeda, tetapi tetap pada hati yang ingin merasa dekat pada Penciptanya karena memang begitu fitrahnya manusia.”
*Naskah ini tidak disunting oleh editor CemerlangMedia. [CM/Na]
Views: 0






















