Not Forcing (Tidak Memaksa)

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

#30HMBCM2

Oleh: Lailatul Maulina

CemerlangMedia.Com — Siapa pun tentu begitu senang dan antusias ketika apa yang menjadi harapan dirinya terwujud. Namun di sisi lain, pasti ada beberapa hal yang tidak sejalan dan terealisasi berdasarkan kehendak diri. Banyak yang justru terjebak dengan hal ini, yang kemudian justru membuat dirinya menjadi bersikap memaksa agar semua berjalan sesuai harapannya. Padahal, tidak semua hal belum terwujud itu buruk, melainkan ada maksud tersembunyi di baliknya. Baik dikarenakan belum waktunya atau yang lebih baik dari rencana dan harapan kita tengah dipersiapkan sebagai gantinya. Terlalu memaksa, akhirnya hanya sesak yang terasa. Jika diri tahu bahwa ada Allah Yang Maha Mengetahui atas segala sesuatu di balik semua itu, diri akan cenderung lebih bahagia dibandingkan memaksakan kehendak sendiri.

Benar, semua hal harus diusahakan, tetapi tidak semua harus memberikan hasil yang mengesankan diri. Bisa saja, kegagalan usaha menuju tujuan kita membawa diri pada hikmah yang mendalam dan lebih menenangkan. Tidak memaksa bukan berarti pasrah begitu saja, melainkan tetap harus ada peran diri di dalam mewujudkan apa yang kita kehendaki. Artinya, tidak memaksa hasil selama semua sudah diupayakan dan dido’akan dengan benar. Sikap tawakal sering kali sudah melekat di dalamnya. Itulah mereka yang punya value, tidak pernah ragu maju dengan impiannya, tetapi tidak memaksakan semuanya.

Punya value artinya tidak akan memaksa wilayah yang memang bukan wilayah yang ia kuasai. Namun, berusaha dengan keras dan maksimal dalam memohon dalam untaian do’a di wilayah yang ia kuasai. Itulah yang seharusnya. Akhirnya, diri menjadi orang yang senantiasa rida dengan segala ketetapan dari Sang Pencipta dan Pengatur kehidupan. Bahkan, tidak ada istilah mengeluh dan menyalahkan-Nya ketika sesuatu yang kurang nyaman terjadi. Orang akan cenderung memaksa, sebab belum ada ilmu di dalam dirinya. Ada pula yang sudah tahu, tetapi belum menggunakannnya dalam menyikapi berbagai hal di dalam kehidupannya. Jadi, dua kemungkinan itulah yang mengantarkan seseorang menjadi individu yang suka memaksa.

Lebih parahnya lagi, ada seseorang yang memaksakan kehendaknya terhadap orang lain. Padahal orang lain belum tertentu setuju dengan pandangan dan rencananya itu. Berpikir seolah hanya dengan rencananya, seseorang bisa maju dan berjaya. Padahal, seseorang pun punya rencananya sendiri yang juga perlu dihormati. Siapa pun boleh menyampaikan saran pada orang lain, tetapi tidak dengan memaksakannya. Memaksakan kehendak terhadap seseorang, artinya melanggar batas yang telah ada. Terlebih jika itu menyangkut masalah pribadi atau hal privasi yang perlu untuk tidak diikutcampuri oleh orang luar. Jangan pernah jadikan orang lain sebagai objek, yang harus tunduk terhadap semua aturan yang telah dirimu buat. Mereka adalah subjek yang juga butuh diberikan ruang, yang tidak semua orang ada di dalamnya dan terdapat batas yang tidak boleh siapa pun mengabaikannya.

Ketika ruang dan batas yang sudah dibuat oleh seseorang dipaksa untuk diri kita hadir di dalamnya, yang ada hanyalah kezaliman. Berbeda halnya jika memaksakan diri dalam perkata yang baik dan benar. Sebab setiap amal adalah tanggung jawab diri sendiri. Tidak mungkin ada amal seseorang yang salah, kemudian orang lain yang dihukum. Beda halnya dengan yang mengajak, mendukung, dan turut di dalam melakukan kesalahan tersebut.

Berikut hal penting agar punya value tanpa perlu memaksa orang lain:

Hidup orang lain tidak harus punya jalan yang sama dengan dirimu. orang lain mungkin punya jalan yang mereka rasakan sendiri kebaikannya. Tidak perlu memaksakan, cukup beri saran dengan sikap yang lembut dan rendah hati. Kemudian berikan ruang padanya untuk berpikir. Jangan begitu ambisius untuk mengubahnya, sebab dirimu adalah perantara di dalam kehidupan seseorang, sedangkan satu-satunya yang layak mengatur kehidupannya adalah Sang Penciptanya saja.

Ketika pendapatmu ditolak orang lain, maka jangan mengintimidasi. Orang lain berhak menolak saran atau pandanganmu. Terlebih jika itu menyangkut kehidupan pribadinya, sebab tidak ada yang berhak mencampuri urusannya kecuali atas seizinnya. Bisa saja saran dan pandangan yang telah ditolak olehnya, telah dipikirkan dengan sebaik-baiknya. Jangan sampai merasa pendapatmu paling benar sehingga penolakan orang lain atasnya membuat dirimu mencela keputusannya. Parahnya lagi dengan melukai perasaan dan mengecam dengan kata-kata yang tidak pantas.

Dirimu mengingatkan mungkin berniat baik, tetapi Allah yang lebih mengetahui yang terbaik untuk hambanya. Menurut pandanganmu, apa yang dirimu sarankan sudah pasti baik untuk seseorang lakukan, tetapi nyatanya itu hanyalah ambisi dirimu saja. Ini akan terasa ketika dirimu berusaha memaksakan seseorang menerima pendapatmu, sedangkan mereka justru mempertimbangkan dengan analisis yang menyeluruh terhadap apa yang telah dirimu sampaikan.

Hal ini yang akan terjadi ketika seseorang sudah punya value di dalam dirinya dan sudah mengenal dirinya sendiri dengan baik. Maka tidak akan lagi yang bisa mempengaruhi pemikiran dan perasaannya melainkan ketenangannya atas kuasa dan pertolongan Allah. Allah lah yang paling tahu kondisi dan kebutuhan setiap hambanya, tugasmu hanya mengingatkan dengan baik tanpa perlu menuhankan saranmu untuk dipatuhi. Seakan orang lain akan sengsara jika tidak mengikuti kata-katamu dan menguatkannya dengan iming-iming dalil. Padahal sebenarnya, itulah orang-orang yang berusaha mengontrol dengan dalih agama.

Orang yang punya value tidak akan memaksa. Walaupun ditolak pendapatnya, dia akan berlapang dada. Dirinya sadar bahwa hanya Allah yang Maha Benar dan Maha Mengetahui yang terbaik bagi setiap makhluk-Nya.

*Naskah ini tidak disunting oleh editor CemerlangMedia. [CM/Na]

Views: 1

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *