#30HMBCM
Penulis: Zakiah Ummu Faaza
Bab 7 Akar yang Tak Terlihat
CemerlangMedia.Com, NOVEL — “… Sesungguhnya Allah telah mewahyukan kepadaku agar bersikap tawadhu (rendah diri), hingga seorang tidak menyombongkan dirinya dihadapan orang lain dan tidak saling menganiaya.” (HR Muslim no. 2865).
Malam ini begitu cerah, langit tampak indah dihiasi jutaan kerlipan bintang. Bunga duduk di atas kursi merah di depan teras rumah dan menatap keindahan lukisan malam ini. Ditemani dengan secangkir teh panas dan beberapa cemilan yang telah disiapkan Melati untuk menemani waktu kesendiriannya.
Melati dan ibu mengetahui pikiran Bunga sedang tidak menentu. Bunga tidak seperti biasanya. Ia terlihat sedikit tersenyum, tidak ceria sehabis pulang mengajar hari ini. Mereka tidak berani untuk menanyakan keadaan Bunga karena khawatir akan mengganggunya. Mereka akan menunggu Bunga bercerita atas persoalan yang sedang dihadapinya.
Namun, tetap mereka tidak membiarkan kondisi Bunga larut dalam kesendiriannya. Ibu dan Malati tetap berusaha untuk mengajaknya tersenyum. Begitupun dengan ayahnya Bunga, responnya memang seolah cuek kepadanya, padahal ayahnya lebih memperhatikan Bunga di sela kesibukannya.
Keluarga Bunga selalu mengutamakan ketenteraman dan saling menyayangi. Mereka berusaha meminimalkan konflik ataupun ketegangan di dalam lingkungan keluarga. Keluarga mereka senantiasa menuntaskan setiap persoalan dengan diskusi santai serta kepala dingin sehingga setiap keputusan sekecil apa pun yang diambil akan menjadi sebuah komitmen yang mesti dipertanggungjawabkan.
Tut… tut… suara telepon Bunga berbunyi. Tampak tertera di layar tipis itu panggilan telepon dari Bu Retno.
“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Bunga, apa kabarnya, Nak? Insya Allah besok Ahad, Ibu dan teman Ibu akan berkunjung ke rumah. Ibu akan silaturahmi sama Ayah dan Ibu Bunga. Bunga besok ada di rumah? Tidak ke mana-mana? Insya Allah sekitar pukul 09.00 WIB.”
“Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Bu Retno, kabar Bunga, alhamdulillah baik. Insyaallah besok Bunga ada di rumah, Bu. Silahkan Ibu, saya tunggu kedatangannya jam 09.00,” jawab Bunga. Layar kaca berwarna merah itu diletakkan di meja belajar yang ada di kamar Bunga. Kemudian Bunga menghampiri kedua orang tuanya untuk menyampaikan pesan dari Bu Retno.
“Mamah, Pak, besok ada Bu Retno ke rumah, ingin bersilaturahim bersama saudara dan rekannya. Bu Retno sempat mengajak ngobrol Bunga terkait seorang pria yang dipandangnya pantas untuk jodoh Bunga, tetapi rasanya, Bunga masih ragu dan bingung terkait hal ini. Apa pun keputusan dan hasilnya, Bunga akan menghargai. Akan tetapi, Bunga harap berikan waktu bagi Bunga untuk memikirkannya kembali,” kata Bunga.
*Naskah ini tidak disunting oleh editor CemerlangMedia. [CM/Na]
Views: 3






















