Di Balik Rasa Jeruk

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

#30HMBCM

Oleh: Fitri Nur Laila
Bab 8 Bola Dan Jeruk

CemerlangMedia.Com — Galih seorang anak petani, berumur 16 tahun. Ia kini duduk di kelas 2 SMA Negeri 1 Dau. Tinggi badannya170. Kakinya panjang. Larinya kencang. Ia memiliki cita-cita sebagai pemain bola profesional.

Rumah Galih berada di Desa Gading Kulon Kecamatan Dau, Kabupaten Malang. Di belakang rumahnya ada dua petak tanah warisan milik Mbahnya.

Petak sebelah kiri adalah lapangan bola ukuran 20×30 meter. Tanahnya keras. Rumput tumbuh tidak rata. Ada dua gawang dari bambu petung. Jaringnya terbuat dari tambang plastik. Itu adalah lapangan Galih sejak ia masih kanak- kanak.

Sementara itu di petak sebelah kanan ada kebun jeruk. Ditanami 50 pohon Keprok Batu 55. Sudah berumur 15 tahun. Itu kebun milik bapaknya.

Bapaknya bernama Tanto, usia 48 tahun. Ia mantan buruh pabrik. Memilih pulang kampung pada tahun 2010 untuk merawat kebun Mbah. Katanya, “Bola bisa membuat hati senang. Jeruk bisa membuat perut kenyang. Dua-duanya sama penting.”

Semenjak kecil, Galih hidup di antara dua bulat. Bulat satu untuk ditendang dan bulat satu lagi untuk dipetik.

Pada Juli 2020, Galih dinyatakan lolos seleksi SSB Arema Junior tingkat kabupaten. Ia amat senang, tetapi jadwal latihannya berat. Senin sampai Jumat, jam 15.30 sampai 17.30. Lapangannya di Kepanjen, ia harus naik angkot 45 menit dari rumahnya.

Masalahnya, Juli juga musim petik jeruk. Pesanan yang datang banyak. Toko oleh-oleh Batu minta 100 kilogram per minggunya.

Bapak bilang, “Le, Bapak butuh bantuanmu satu jam saja. Habis Asar, angkat keranjang ke pinggir jalan,” ucapnya penuh harap.

Galih mengangguk. Tetapi hatinya kesal.

Seusai ia berangkat latihan, teman SSB-nya Rino, bertanya, “Kamu kok, telat terus, Gal?” protes Rino sambil gondok.

“Aku bantu Bapak,” jawabnya.

Rino menghembuskan napas kasar, “Lho, pilih mana? Bola apa jeruk?” tanyanya seraya menatap ke atas.

Galih diam.

Di rumah, Bapak juga bertanya. “Kamu capek, Le? Kalau capek, istirahat. Tapi, jeruk tidak bisa menunggu,” ujarnya memberi pengertian.

Dua kalimat itu bertabrakan setiap hari.

Pada 2 Agustus 2025, Galih pulang dari latihan dengan peluh yang membanjiri tubuhnya. Langkahnya gontai, wajahnya terlihat murung, tadi dimarahi pelatih saat kalah sparing.

Sampai di rumah, Bapak berteriak dari dalam kebun dengan napas terhempas, “Le, sini! Ada tiga keranjang belum naik!”

Galih membuka sepatu lalu membantingnya.

Bruk

Ia mengambil bola pergi ke lapangan.

“Sebentar, Pak!” teriaknya tergesa.

Tapi tidak sebentar. Galih latihan tendangan bebas. Kencang dengan emosi. Tendangan kelima, melenceng. Bola terbang ke kanan. Dan masuk ke kebun.

Plak. Kena cabang.

Tuk tuk tuk tuk

Delapan jeruk jatuh. Menggelinding.

Bapak lari dari dalam kebun. Wajahnya memerah, tangan di kanan membawa sabit.

“Galih! Kamu sengaja!”Bentak Bapak, rahangnya mengeras, dadanya terlihat naik turun.

Galih berdiri di lapangan. Napas cepat. “Iya! Sengaja! Biar Bapak tahu rasanya gagal!” jawabnya dengan geram.

Bapak memungut delapan buah jeruk. Ditaruhnya di atas tangan Galih. Satu persatu.

“Ini, Le. Satu jeruk Rp12.000. delapan biji Rp96.000. Uang SPP kamu sebulan Rp150.000. Kurang Rp54.000. Bapak tambal dari mana?”

Galih membuang semua jeruk. Bletak. Pecah tiga.

“Aku tidak minta lahir di kebun, Pak!” Galih menatap bapaknya dengan mata membulat.

Galih berlari membawa bola. Ia tidak pulang dua hari. Menginap di rumahnya Rino. Bapak tidak mencarinya meskipun ada kecemasan dalam hatinya.

Kata Ibu, “Sudahlah, Pak. Nanti kalau sudah tidak ngambek juga balik pulang,” raut wajahnya terlihat datar.

Hari ketiga, Galih pulang. Ia malu dan lapar.

Bapak berada di teras, sedang duduk di depan karung goni. Ia membuka karung dan menuangkan isinya. Jeruknya busuk semua, ada 30 kilogram. Lalat- lalat datang mengerubungi karena bau asam.

“Ini yang kamu bilang bisa tumbuh lagi? Ini, Le. Busuk. Tidak ada yang beli. Dibuat pupuk pun harus dicacah dulu,” sorot matanya nanar terpendar.

Galih tak tahan aroma dari jeruk- jeruk busuk itu. Ia menutup hidungnya. “Terus?” pikirannya berputar.

Bapak mengambil bola Galih dari dalam rumah. Bola baru. Hadiah ulang tahun. Lalu Bapak memasukkan ke dalam karung bersama jeruk-jeruk busuk lalu mengikatnya.

“Jeruk tidak penting, bola juga tidak. Dua-duanya sampah kalau tidak dijaga,” sorot matanya kosong.

Kemudian Bapak menaruh karung di lapangan, menaruh korek di atasnya.

“Silakan, bakar kalau berani!” suara Bapak menancap dingin di telinga Galih.

Galih menoleh lambat, ia kemudian mengambil korek dengan tangan gemetar. Bapaknya terlebih dahulu sudah masuk rumah tanpa menolehnya.

Galih membakar ujung karung perlahan api memakan karung goni. Terkena jeruk. Terkena bola. Bau karet kebakar. Bau asam kebakar. Galih menatapnya sampai habis dan jadilah abu.

Sampai seminggu kemudian, rumah terasa sunyi. Tak ada sapa, apalagi canda. Semuanya membisu.

Kini Bapak bekerja di ladang orang. Jadi buruh tebang tebu. Bila pulang, membawa uang Rp70.000 sehari.

Galih tidak ke SSB. Malu. Ia sudah tidak memiliki bola, apalagi muka.

Suatu hari, pelatih menelepon. “Galih, kenapa tidak latihan?”

Galih menjawab, “Bola saya rusak, Coach,” ucapnya pelan.

“Beli lagi.”

Galih menutup telepon.

Sementara itu, di kebun, jeruk-jeruk rontok tidak ada yang memungut. Tikus datang. Burung datang.

Ibu menangis di dapur. “Rumah ini seperti kuburan.” suaranya terdengar parau, ada pilu di dalam batinnya.

Hari ke-15, Bu Lurah dan Bu Wiwik datang sambil membawa kertas.

“Galih, ini undangan. Seleksi lanjutan SSB. Minggu depan di Stadion Brantas, Batu. Kamu perwakilan dari Dau harus datang. Bawa bola sendiri,” ucap Bu Lurah dengan sorot mata ceria.

Seketika tubuh Galih lemas. “Saya tidak punya bola, Bu.” matanya menunduk ke bawah.

“Usaha, Le, sayang. Kamu yang terbaik,” ucap Bu Lurah sambil tersenyum tipis, tangannya menepuk bahu Galih sebelum pulang.

Malam harinya, Galih membuka celengan. Isinya Rp23.000. Sedangkan bola paling murah harganya Rp85.000. Ia pergi ke kamar bapaknya mau meminjam uang, tetapi kamarnya kosong. Di atas kasur ada sarung, di bawahnya ada bantal dan buku tabungan. Saat di bukanya, ada saldo Rp40.000. Ia kemudian menutup pintu dan duduk.

Pukul tiga pagi, saat masih sunyi, terdengar suara dari luar. Srek… srek…. Galih mengintip. Terlihat bapak sedang di kebun mengenakan senter kepala, ada karung kecil di sampingnya. Ia tengah memetik jeruk sisa. Tinggal yang kecil, berbintik, dan tidak laku. Bapak mengangkatnya hingga punggungnya terlihat bungkuk.

Paginya, di meja ada karung yang dibawa bapak semalam, “Juallah ke pasar, berapa pun lakunya, uangnya untukmu.”

Galih melongo, tangannya meraih karung itu, “22 kilogram jeruk jelek,” gumamnya tak percaya.

Akhirnya Galih pergi ke Pasar Dau, udara panas begitu menyengat. Galih sebenarnya malu. Untuk bisa membeli baju SSB, ia harus menjual jeruk bintik. Ia tawarkan kepada 4 pedagang, semuanya menolak.

“Kasihkan ayam, Le,” ucap salah satu dari mereka. Pedagang ke-5, wanita tua penjual jamu.

“Berapa, Le?”

“Terserah, Bu.”

“Aku beli Rp2.000 per kilo ya. Mau tak peras. Tak campur kunyit buat jamu kuat.” Kalimat itu seketika membuat Galih lega. Semua menjadi Rp44.000. Galih menambah dengan uang tabungannya jadi Rp67.000, berarti masih kurang Rp18.000.

Di jalan saat pulang, ia melihat anak SD bermain bola plastik. Sudah lonjong dan diikat karet. Anak itu tertawa, menendangnya lalu terjatuh, ia bangun kemudian tertawa lagi.

Galih teringat saat berumur 7 tahun, bapak membelikan bola plastik warna biru. Harganya Rp15.000. Uang dari jual jeruk dua karung. Galih lari pulang. Di teras, ada bungkusan koran. Saat dibuka, isinya bola baru, kulitnya sintetis, merk Specs-Bagus.

Bapak datang dari belakang. Malam-malam ia menjual jeruk, terus ke rumah Pak RT. Pinjam Rp50.000 dan berjanji akan membayar kalau panen tahun depan. Hati Galih terenyuh, ia pun memeluk bapak, tak peduli bau keringat bercampur bau jeruk. Yang ia rasakan hanyalah cinta bapak untuk dirinya.

“Maaf, Pak. Aku sudah membakar jeruk, membakar bola, dan juga telah membakar… hati Bapak,” ucap Galih dengan kepala tertunduk.

“Hati Bapak tidak terbakar, Le. Cuma gosong dikit. Masih bisa dipakai,” ujarnya sambil terkekeh.

Stadion Brantas, 10 Agustus 2022.

Galih memakai nomor 10. Sayang sekali, bola dari bapak tidak dipakai karena harus menggunakan bola dari panitia. Pada permainan pertama, waktu 2×20 menit, Galih mencetak 2 gol dan 1 asis.

Coach Hari sebagai pelatih memanggilnya, “Kamu, Galih? Tendanganmu bagus. Kaki kiri kuat. Latihan di mana?” tanyanya antusias.

Galih menjawab, “Di samping kebun jeruk, Coach. Tiap nendang, saya takut kena pohon. Jadi belajar kontrol,” jawab Galih ringan. Seketika, Coach tertawa. “Bagus, takut itu rem. Rem yang membuat selamat.”

Galih lolos. Masuk Arema U-17. Mendapatkan beasiswa sekolah dan uang saku Rp500.000 per bulan. Saat pulang, ia tidak merayakan keberhasilannya. Ia mengajak bapaknya ke lapangan sambil membawa bola baru dan membawa keranjang jeruk. Ia menaruh satu jeruk di titik penalti.

“Pak, tendang!” pintanya dengan wajah serius.

“Le… Bapak tidak bisa.” Mata Bapak melebar dan mulutnya terbuka sedikit.

“Pelan saja, anggap ini aku yang dulu Bapak benci,” ujarnya memaksa sambil tersenyum kecil.

Bapak mengangguk, memasang ancang-ancang dan… buk. Jeruk itu menggelinding 3 meter dan pecah sampai keluar sarinya, kemudian terkena tanah.

Bapak melihatnya. “Hancur, Le.”

“Jadi sari, Pak. Masuk tanah. Besok jadi pupuk.”

Galih menaruh bola. Berlari. Menendang. Jleb. Gol.

“Kalau ini, Pak?”

“Masuk, akan menjadi kenangan.”

“Bedanya apa?”

“Jeruk pecah biar hidup. Bola masuk gawang biar senang. Dua-duanya harus ditendang.”

Bapak tertawa, gigi depannya yang masih utuh terlihat. Rasanya sudah lama ia tidak tertawa selepas itu, seakan ada beban yang ikut hilang dalam tawanya.

Kini Galih sudah kelas 3, jadwalnya sudah teratur. Pukul 15.00-16.00 ke kebun mengangkat keranjang jeruk, menyortir, dan menimbang. Bapak tidak boleh mengangkat berat, pinggangnya sakit.

Pukul 16.30-18.00 pergi ke lapangan untuk latihan. Di gawangnya ada jeruk tergantung pakai tali rafia.

Temannya bertanya, “Buat apa, Gal?”

“Kalau bola kena jeruk, tendanganku liar. Kalau masuk gawang, berarti fokus,” tandasnya.

Sementara itu di kebun, Bapak memajang bola di dahan dengan mengikatnya.

Orang yang lewat bertanya, “Buat apa, Pak Tan?”

“Buat nakutin burung dan biar ingat, kalau tekad anak saya bulat. Kalau sedang ada masalah, larinya ke sini.”

Lebaran 2027, Galih membuka tabungan dari uang sakunya untuk membeli gawang yang baru. Terbuat dari besi dan jaring baru.

Sementara bapak memakai uang hasil panen untuk membeli pompa air. Mereka berdua memasang sendiri apa yang mereka beli secara bersamaan.

****

Majalah dinding SMA. Judul: Galih: Kaki di Lapangan, Hati di Kebun.

“Tidak berat, Galih?”

“Berat, Kak. Bola 400 gram. Jeruk 1 keranjang 20 kilo. Tapi hidup juga berat. Tinggal pilih, mau angkat yang mana? ”

“Pilih mana?”

“Dua-duanya. Bola itu besok. Jeruk itu sekarang. Kalau tidak ada sekarang, tidak ada besok,” ucapnya dengan mata berbinar.

Bapak membacanya sambil tersenyum tipis. Ia menggunting dan melipatnya, kemudian memasukkan ke dalam dompetnya.

Setiap Minggu, ada anak-anak kecil yang selalu menonton Galih latihan. Salah satu dari anak itu Dio, berusia 8 tahun, “Kak, Cita-cita Kakak apa?” tanyanya suatu hari.

Galih menaruh bola di tanah. “Pemain bola,” jawabnya mantap.

“Lho, tapi kok bantu petik jeruk?” ujarnya sembari mengernyitkan dahi.

Galih memanggil Dio, menunjuk kebun. Beralih menunjuk lapangan.

“Lihat. Dua-duanya bulat. Bola kalau tidak ditendang, diem. Jeruk kalau tidak dipetik, busuk. Aku menendang bola biar maju dan memetik jeruk biar tidak busuk. Kamu pilih mana?”

Dio berpikir. “Dua-duanya, Kak.”

“Pinter,”puji Galih.

Terdengar Bapak berteriak dari kebun, “Le, habis latihan, bantu ngangkat!”

“Siap, Pak!”

Galih menatap Dio dan berkata, “Dengar? Itu pelatih kedua saya,” senyumnya mengembang tulus.

Di Gading kulon, jangan heran kalau lihat gawang ada jeruknya. Jangan heran kalau lihat pohon ada bolanya. Itu adalah tanda. Tanda bahwa mimpi dan hidup itu bulat. Dua-duanya menggelinding. Dua-duanya bisa gol. Asal tahu kapan yang tepat untuk menendangnya dan kapan harus memungut.

*Naskah ini tidak disunting oleh editor CemerlangMedia. [CM/Na]

Views: 1

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *