#30HMBCM
Oleh: Hawilawati
CemerlangMedia.Com, PARENTING — Alhamdulillah, akhirnya satu tugas besar bernama skripsi selesai juga. Rasanya seperti baru saja melepas ransel berat yang selama ini digendong ke mana-mana. Kini, aku bisa kembali fokus penuh membersamai si kecil, sosok penyemangat utama yang selama ini harus rela “mengalah” dan berbagi waktu demi selesainya tanggung jawabku.
Setelah kembali beraktivitas penuh di rumah, Bunda pernah tidak sih, merasa kalau hari-hari kita itu seolah hanya pengulangan aktivitas yang itu-itu saja? Dari pagi memandikan, menyuapi, menemani main, sampai menidurkannya kembali. Rasanya rutinitas kita berputar terus seperti tidak ada habisnya.
Namun, kalau kita perhatikan lebih dalam, sebenarnya di balik rutinitas yang sederhana itu, ada banyak keajaiban besar yang sedang tumbuh pada diri anak kita. Dan semua aktivitas tersebut bukan hal yang biasa, tetapi bernilai ibadah yang mendatangkan pahala. Jadi, kita patut bersyukur ya, Bun, bahwa ladang pahala kita, banyak sekali yang diperoleh di dalam rumah kita sendiri, tidak harus memburu ke luar rumah.
Namun, menjadi seorang ibu ternyata bukan sekadar memastikan perut anak kenyang atau dia tidak kehausan lagi. Kita ini ibarat “arsitek” bagi masa depan mereka. Mau ada asisten atau tidak di rumah, urusan pendidikan dan pengawalan tumbuh kembang anak tetaplah hak prerogatif kita sebagai orang tua. Itulah mengapa kita sebagai ibu perlu sekali untuk terus belajar dan upgrade diri. Kita tidak boleh kalah dengan perkembangan zaman supaya bisa memberikan bekal terbaik buat anak.
Salah satu amanah besar yang sering kali luput dari perhatian adalah membangun fondasi kecerdasan bahasa anak sejak dini. Kita harus sadar bahwa tugas kita tidak berhenti di urusan “sehat dan kenyang” saja, tetapi juga menjadi model utama tentang bagaimana cara dia berkomunikasi dengan dunia. Kecerdasan bahasa anak itu tidak tumbuh begitu saja secara ajaib. Semuanya butuh proses panjang yang sangat dipengaruhi oleh kualitas stimulasi di dalam rumah.
Anak itu ibarat sebuah perekam yang sangat hebat. Apa pun yang dia dengar setiap hari dari lisan kita, itulah yang akan dia serap dan dia tiru nantinya. Di sinilah peran lisan orang tua menjadi vital. Kualitas “rekaman” yang dia terima akan menentukan seberapa cerdas dia mengolah kata di kemudian hari. Itulah sebabnya, sejak awal kami memilih untuk benar-benar konsisten tidak membiasakan “bahasa bayi” yang cadel atau baby talk.
Mungkin memang terlihat lucu dan sangat gemas ya Bun, kalau kita mengikuti gaya bicaranya seperti, “Adek mimi cucu dulu ya,” atau “Ayo kita mamam picang” Tapi kami lebih memilih untuk memberikan stimulasi berupa kata-kata utuh dengan artikulasi yang jelas.
Saat dia mau makan, ya aku katakan “Makan”, bukan “Mamam”.
Saat dia lagi haus, aku katakan “Minum”, bukan “Mimi”.
Pembiasaan ini jauh lebih penting lagi dalam urusan mengenalkan tauhid. Mungkin kita sering mendengar si kecil memanggil nama Sang Pencipta dengan sebutan “Awoh… Awoh…”. Meski terdengar lucu dan menggemaskan di telinga kita, tugas kita adalah terus melatihnya melafazkan nama Zat yang Maha Kuasa ini dengan benar: “Allah… Allah…”. Kita ingin kata pertama dan utama yang menancap di ingatannya adalah sebutan yang sempurna bagi Penciptanya.
Hal ini sejalan dengan apa yang dipesankan oleh Rasulullah saw. dalam sebuah hadis,
“Bukalah lisan anak-anak kalian pertama kali dengan kalimat ‘Laa ilaaha illallaah’.” (HR Al-Hakim).
Hadis tersebut mengisyaratkan bahwa kurikulum pertama yang harus sampai ke pendengaran dan lisan anak adalah kalimat tauhid yang fasih dan benar. Maka, memberikan artikulasi yang jelas bukan sekadar urusan kecerdasan kognitif, melainkan juga bagian dari menjaga fitrah mereka agar terbiasa dengan kalimat-kalimat yang ahsan (terbaik).
Bahkan, kalimat-kalimat thoyyibah mungkin sudah sering sekali kita perdengarkan sejak mereka masih di dalam kandungan. Namun, saat mereka hadir ke dunia, tidak serta-merta kalimat indah tersebut fasih mereka ucapkan. Tetap kitalah yang harus sabar membimbing dan melatih mereka melafazkan kalimat-kalimat indah tersebut.
Allah Swt. berfirman dalam surah Ibrahim ayat 24, “Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit.” Kata-kata benar yang kita tanamkan hari ini adalah benih pohon yang akarnya akan menguat di hati mereka hingga dewasa.
Dan kadang, kita memang akan dibuat tersenyum oleh “logika unik” mereka. Aku ingat fase saat si sulung menganggap semua yang lepas dari genggamannya adalah “Jatuh”.
Ketika air di gelas tumpah, ia berkata, “Airnya jatuh, Bunda.”
Ketika balon yang ia pegang terlepas ke udara, ia berseru, “Yah….Balon aku jatuh, Bunda.”
Bahkan saat melihat layang-layang putus di langit yang tinggi, ia tetap menunjuknya sambil berucap, “layang-layang itu jatuh, Bunda…”
Momen itu membuat aku termenung. Ia sedang mencoba menggunakan kosakata terbatas yang ia miliki untuk menjelaskan dunia yang luas. Di sinilah peran kita sebagai orang tua diuji. Kita tidak hanya hadir untuk menyuapi fisiknya, tetapi juga untuk “menyuapi” logikanya. Tugas kita adalah mendampingi dan menyempurnakan artikulasinya tanpa mematahkan semangatnya untuk terus mencoba.
Melatih kecerdasan bahasa berarti melatih cara ia berpikir. Dengan artikulasi yang jelas dan pemilihan kata yang tepat, kita sebenarnya sedang melatih anak untuk mampu mengungkapkan isi kepala dan perasaannya secara sistematis di masa depan.
Rumah adalah laboratorium bahasa pertamanya, dan lisan kita adalah kurikulum utamanya. Mari pastikan setiap kata yang kita sampaikan adalah kualitas terbaik karena di sanalah kecerdasan bahasanya sedang kita rakit dengan penuh kesadaran. Yuk Bun, kita semangat melatih artikulasi dan perjelas setiap kata bagi si kecil tiap berkomunikasi.
Jangan lagi membiarkan baby talk menjadi kebiasaan hanya karena alasan gemas. Jadikan lisan kita sebagai bimbingan penuh kasih yang membantunya mengenal dunia dengan kata-kata yang tepat dan bermakna. Sebab pada akhirnya, setiap kata yang kita ucapkan adalah warisan berharga yang akan ia bawa sepanjang hayatnya.
“Tugas orang tua tak hanya berhenti pada urusan sehat dan kenyang, tetapi juga menjadi arsitek bagi caranya berkomunikasi dengan dunia.”
*Naskah ini tidak disunting oleh editor CemerlangMedia. [CM/Na]
Views: 13






















