#30HMBCM
Oleh: Hawilawati
CemerlangMedia.Com, PARENTING — Sebelum melangkah ke fase pernikahan, aku menyadari bahwa kelak menjadi seorang ibu bukan hanya tentang melahirkan, melainkan tentang menyiapkan diri untuk amanah besar setelahnya. Sebab itu, aku mempersiapkan berbagai ilmu, salah satunya dengan mulai menyelami dunia anak; mulai dari literasi tentang ASI eksklusif, MPASI, hingga seni merawat bayi.
Dari semua yang kupelajari, satu hal yang paling membekas di relung hati: betapa istimewanya ASI. Ia bukan sekadar makanan. Ia adalah karunia langsung dari Allah, yang disiapkan dengan begitu sempurna untuk setiap jiwa kecil yang hadir ke dunia.
Allah Swt. bahkan berfirman dengan begitu indah,
“Para ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh, bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan….” (QS Al-Baqarah: 233).
Ayat ini bukan sekadar anjuran, melainkan petunjuk penuh hikmah. Di balik perintah itu, tersimpan maslahat yang luar biasa. ASI adalah hadiah terbaik: alami, steril, dan selalu hadir dalam suhu yang tepat. Di dalamnya ada kolostrum—cairan emas kaya antibodi yang menjaga raga dan mendukung kecerdasan sang buah hati. Bahkan, menyusui adalah cara alamiah Allah menjaga raga sang ibu.
Memahami agungnya nikmat ini, aku bertekad: setiap anak yang Allah amanahkan harus mendapatkan haknya. Aku menjaga asupan dengan sayur dan buah segar, dan Masya Allah… Allah benar-benar mencukupkan. ASI mengalir lancar, bahkan saat aku harus berjuang menyelesaikan skripsi dan membawa bayiku ke kampus. Tanpa booster tambahan, hanya dengan pola makan alami dan keyakinan penuh pada Sang Pemberi rezeki.
Ritual Kecil dalam Dekapan
Selama menjalani masa menyusui, aku menemukan bahwa ketenangan dan kualitas ASI bukan hanya soal teknik, tetapi tentang kebiasaan kecil yang dilakukan dengan hati:
Pertama, Meluruskan Niat Karena Allah: Inilah fondasi utamaku. Aku meniatkan setiap tetesan ASI sebagai ibadah dan bentuk ketaatan atas amanah-Nya. Dengan niat yang kuat, aku berharap nutrisi terbaik ini mengalir ke dalam darah buah hatiku, menjadi wasilah yang menyehatkan raganya, mencerdaskan akalnya, dan melembutkan jiwanya kelak.
Kedua, Menjaga Kebersihan Area Payudara: Aku selalu berusaha memastikan area payudara bersih sebelum menyusui, agar bayi tetap higienis dan nyaman saat menyusu.
Ketiga, Higienitas Tangan: Mencuci tangan dengan bersih—baik tanganku maupun tangan mungil bayiku—menjadi ritual wajib sebelum kehangatan menyusui dimulai.
Keempat, Disertai Doa dalam Menyusui: Aku menyertakan doa-doa penuh kebaikan sepanjang buah hatiku menyusu. Di setiap tegukannya, aku berbisik dalam hati memohon perlindungan, keberkahan, dan karakter mulia bagi masa depannya.
Kelima, Sentuhan Spiritual (Basmalah & Hamdalah): Aku selalu mengawali proses ini dengan basmalah sebagai pembuka pintu rezeki dan menutupnya dengan hamdalah sebagai wujud syukur yang paling dalam.
Keenam, Pijatan Lembut (Massage): Aku rutin melakukan pijatan ringan pada area payudara untuk melancarkan aliran kelenjar susu dan mencegah penyumbatan yang menyakitkan (mastitis).
Ketujuh, Asupan Halal & Thoyyib: Aku percaya apa yang masuk ke tubuhku akan mengalir ke tubuhnya. Fokusku adalah makanan yang tidak hanya halal, tetapi juga thoyyib (baik)—terutama aneka buah dan sayuran yang secara alami meningkatkan kualitas serta kuantitas ASI.
Kedelapan, Perawatan Pasca-Menyusui: Setelah ia kenyang, aku menepuk lembut punggungnya agar ia bisa bersendawa, demi mencegah perut kembung atau gumoh.
Dari perjalanan ini, aku belajar bahwa menyusui bukan hanya soal fisik atau sekadar bonding. Ini adalah tentang keyakinan, tentang bagaimana seorang ibu berserah dan percaya bahwa setiap tetes ASI adalah bentuk kasih sayang Allah yang nyata.
Rasulullah saw. pernah bersabda bahwa setiap tetes susu dan setiap isapan bayi adalah satu kebaikan bagi sang ibu. Bahkan, terjaganya seorang ibu di malam hari karena bayinya, pahalanya setara dengan memerdekakan tujuh puluh budak di jalan Allah. Masya Allah.
“Setetes ASI bukan sekadar penghilang dahaga, melainkan doa-doa yang mewujud nyata. Ia mengalirkan keberkahan dari langit ke bumi, membentuk jiwa yang kuat dan akal yang cerdas. Karena sejatinya, ketika seorang ibu menyusui, Allah-lah yang sedang mengalirkan keberkahan di setiap tetesnya.”
*Naskah ini tidak disunting oleh editor CemerlangMedia. [CM/Na]
Views: 11






















