Mengkritisi Sistem Pendidikan Indonesia

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

Penulis: Novianti

Banyak yang belum menyadari bahwa upaya merekonstruksi pendidikan haruslah dimulai dari perubahan tata kelola negara, yakni mengganti sistem sekuler kapitalisme dengan sistem Islam. Di sinilah dibutuhkan peranan dakwah agar mayoritas umat segera menuntut penerapan sistem Islam. Setiap muslim harus menerima dakwah tersebut dan menjadi bagian yang mendukung penerapan sistem Islam secara kafah tanpa nanti dan tanpa tapi.

CemerlangMedia.Com — Kasus-kasus di dunia pendidikan datang silih berganti. Sejak awal 2026 saja, berbagai peristiwa memilukan terjadi. Anak bunuh diri karena tidak mampu membeli alat tulis, pelecehan seksual oleh mahasiswa Universitas Indonesia, penghinaan kepada seorang guru, tawuran antar pelajar, dan setumpuk persoalan lainnya. Ini bukan kasus sporadis, tetapi sudah sistemis karena menyebar di banyak daerah dengan pola berulang.

Oleh karenanya, peringatan Hari Pendidikan Nasional 2026 sebagaimana diwartakan kompas.com (29-04-2026) dengan tema Menguatkan Partisipasi Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua, seharusnya tidak sekadar seremoni. Harus sampai pada upaya merekonstruksi pendidikan secara hakiki demi menyelamatkan generasi.

Akar Masalah

Penyelesaian harus diawali oleh identifikasi masalah dengan tepat. Jika ditelusuri lebih jauh, persoalan dalam dunia pendidikan berpangkal dari paradigma negara yang bekerja dengan kerangka sekuler kapitalistik. Pendidikan dijauhkan dari agama dan diarahkan untuk kepentingan melahirkan tenaga kerja bagi industri-industri, aspek perilaku dan karakter diabaikan.

Meskipun sering diperbincangkan di berbagai forum diskusi, pendidikan karakter sebatas wacana. Kurikulum berorientasi mengejar materi, angka, dan peringkat. Buktinya, persoalan demoralisasi di kalangan pelajar yang terus meningkat tidak diperhatikan secara serius oleh pemangku kebijakan. Materi umum yang padat diprioritaskan, sedangkan porsi materi agama makin dikurangi.

Sekularisasi diperkuat dengan mereduksi materi agama melalui konsep moderasi beragama dan kurikulum berbasis cinta. Bahwa benar dan salah tidak ada yang mutlak, cara pandang beragama tidak boleh ekstrem, melainkan harus di pertengahan untuk menciptakan keharmonisan, kedamaian, dan kemaslahatan bersama di tengah keragaman. Standar perbuatan pada asas manfaat, lakukan jika menguntungkan atau menyenangkan, tinggalkan jika merugikan dan tidak nyaman. Landasan utama pembelajaran diletakkan pada kasih sayang, empati untuk membentuk karakter humanis. Pandangan ini menggoyahkan prinsip akidah dan mengedepankan perasaan sehingga kebenaran ditafsirkan secara subjektif oleh setiap orang.

Ini upaya untuk menanamkan keraguan pada peran agama. Nilai moral bukan bersumber dari keyakinan yang absolut, melainkan dari konsensus sosial yang berubah-ubah. Hasilnya, bisa jadi generasi cerdas secara akademik, tetapi fitrah dan pemikirannya rusak, perilakunya liar tidak terkendali.

Komersialisasi Pendidikan

Sistem sekuler meniscayakan komersialisasi pendidikan. Pendidikan adalah pintu agar manusia tumbuh, berkembang, berdaya, dan produktif. Para orang tua pun berupaya mencari sekolah terbaik dan rela mengeluarkan biaya besar. Peluang ini dimanfaatkan para kapital karena negara yang seharusnya bertanggung jawab penuh atas pendidikan makin mandul. Alhasil, pendidikan yang idealnya bisa diakses semua orang menjadi eksklusif.

Kondisi ini menggeser hubungan relasi orang tua dengan sekolah menjadi bentuk transaksional. Orang tua dan siswa adalah konsumen, sedangkan sekolah sebagai penyedia layanan. Tanpa disadari, sekolah bisa kehilangan otoritas karena harus memuaskan dan tunduk pada konsumen serta permintaan pasar. Ditambah lagi isu hak asasi manusia, memasung semangat guru untuk beramar makruf nahi mungkar. Hilanglah sudah substansi pendidikan untuk membimbing, mengarahkan, dan menasihati.

Solusi Islam

Islam memberikan jalan keluar atas persoalan pendidikan sebagai berikut.
Pertama, kembalikan pendidikan kepada negara sebagai penanggung jawab utama. Negara harus menyediakan fasilitas yang layak agar pendidikan diselenggarakan secara optimal. Sebagai negara yang kaya dengan sumber daya alam, seharusnya Indonesia bisa mengupayakan. Dengan pendidikan yang merata dan layanan yang terstandarisasi, proses belajar berkualitas terselenggara secara masif dan terencana. Kehadiran negara benar-benar dirasakan karena dalam Islam, penguasa adalah pelayan rakyat.

Kedua, tujuan utama pendidikan fokus pada pembentukan kepribadian Islam, bukan untuk mencetak pekerja. Pola pikir (akliah) dan jiwa (nafsiah) dibangun berdasarkan akidah Islam. Kurikulum disusun dan dilaksanakan untuk merealisasikan tujuan tersebut. Materi tsaqafah Islam diberikan untuk menanamkan keimanan sekaligus membentuk akhlak. Ilmu-ilmu umum seperti matematika dan sains disesuaikan dengan usia dan kebutuhan. Dalam Islam, ilmu tidak sebatas teori, tetapi harus dipraktikkan dalam keseharian.

Ketiga, peran guru dimuliakan dan disesejahterakan. Guru diberi pelatihan secara reguler dan terencana agar profesional dan berintegritas. Tidak seperti dalam sistem sekuler kapitalisme, beban guru sangat berat oleh tekanan ekonomi yang terkadang memaksa mereka mencari penghasilan tambahan demi menyambung hidup. Dampaknya, mereka tidak bisa hadir dengan performa terbaik ketika mengajar.

Keempat, peran keluarga khususnya para ibu dikuatkan. Sebagai institusi terkecil dalam negara, keluarga memegang peranan strategis sebagai persemaian bibit kebaikan. Rasulullah mendorong para orang tua untuk berbuat baik kepada keluarganya, “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik pada keluarganya.”

Pemberian terbaik orang tua adalah menjadi madrasah pertama bagi anak, mengajarkan adab, membiasakan terikat pada syariat, menjadi teladan dalam keseharian. Ini dalam rangka melaksanakan perintah Allah dalam surah At-Tahrim ayat 6, “Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.”

Kelima, negara harus memastikan agar suasana ketakwaan terpelihara. Wilayah publik dibersihkan dari hal yang rusak dan merusak seperti pornografi, kekerasan, L687, karena menjadi distraksi bagi proses pendidikan. Upaya pencegahan lebih diutamakan, selain ada upaya represif dan kuratif. Adanya sanksi tegas bagi pelaku dosa seperti zina, membunuh, dan kekerasan fisik untuk mencegah dosa berjemaah.

Perubahan Paradigma Tata Kelola Negara

Selama ini, persoalan pendidikan hanya dilihat pada permukaan sehingga kasus terus berulang, bahkan dengan bentuk yang lebih kompleks. Padahal suramnya dunia pendidikan akibat sistem yang salah arah, yakni sistem sekuler kapitalisme. Proses pendidikan tidak berdiri di atas landasan yang kukuh, tidak memanusiakan pelajar.

Dalam Islam, pendidikan bukan sekadar untuk sukses dalam akademik, melainkan membentuk manusia yang mengintegrasikan iman, ilmu, dan amal dalam satu kesatuan. Tujuan akhirnya adalah melahirkan manusia bertakwa yang sadar bahwa semua akan dimintai pertanggungjawaban. Inilah perbedaan mendasar dengan sistem sekuler, di mana ada dimensi transendental sebagai pengendali. Lembaga pendidikan adalah salah satu tempat untuk membangun kendali tersebut agar cara berpikir pelajarnya lurus dan semangat mengembangkan ilmu.

Untuk itulah, membenahi pendidikan tidak bisa sekadar pada tataran teknis, melainkan mutlak dengan perubahan paradigma tata kelola negara. Solusi Islam hanya bisa terimplementasikan dalam negara yang dibangun di atas akidah Islam, bukan akidah sekuler. Tata kelola negara diatur oleh syariat Islam secara kafah sehingga penyelenggaraan pendidikan didukung penuh oleh mekanisme politik, sosial, dan hukum secara sinergi dan menyeluruh.

Penutup

Banyak yang belum menyadari bahwa upaya merekonstruksi pendidikan haruslah dimulai dari perubahan tata kelola negara, yakni mengganti sistem sekuler kapitalisme dengan sistem Islam. Gagasan masih fokus pada mengganti pemimpin dan menteri, membuat kebijakan atau kurikulum baru. Dengan bukti kerusakan yang terlihat nyata, seharusnya sudah membukakan mata umat agar bergerak dari tataran tehnis ke upaya lebih substantif dan strategis.

Di sinilah dibutuhkan peranan dakwah agar mayoritas umat segera menuntut penerapan sistem Islam. Indonesia sangat memungkingkan untuk itu, asalkan setiap muslim menerima dakwah tersebut dan menjadi bagian yang mendukung penerapan sistem Islam secara kafah tanpa nanti dan tanpa tapi. [CM/Na]

Views: 19

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *