Female Breadwinners, Dampak Sekularisme

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

Dalam kacamata Islam, fenomena female breadwinners adalah bentuk kegagalan sistem dalam menjamin kebutuhan keluarga, terutama dalam memampukan para kepala keluarga akan tanggung jawabnya. Terkait hal ini, negara harus bertanggung jawab karena keluarga adalah institusi terkecil yang butuh dukungan kebijakan, yang mampu menopang berjalannya peran suami terkait lapangan pekerjaan dan upah yang layak demi terpenuhinya kebutuhan hidup.

CemerlangMedia.Com — Kepala Kepolisian Resor Kota (Kapolresta) Yogyakarta melakukan penggrebekan di daycare little Aresha daerah Sorosutan, Umbulharjo. Ini merupakan tindak lanjut atas pelaporan mantan karyawan daycare tersebut yang mengatakan bahwa ada dugaan kekerasan yang dilakukan oleh para pengasuh terhadap anak-anak yang dititipkan. Dari total 103 anak yang terdaftar di daycare, ada 53 yang terindikasi sebagai korban (27-04-2026).

Bagi para working mom, daycare dianggap sebagai solusi bagi anaknya yang harus ditinggalkan. Selain biaya yang lebih murah dibanding pengasuh, anak juga melatih kemampuannya dalam bersosialisasi, dilatih disiplin, dan mandiri. Namun, ada dampak negatifnya juga, salah satunya anak akan mudah terpapar penyakit menular karena adanya interaksi dengan banyak orang. Ini tentu menjadi dilema bagi seorang ibu.

Ketika biaya hidup yang tinggi dan ketidakstabilan pekerjaan suami, mendorong para ibu menjalani peran ganda. Selama ini, perempuan melakukan sekitar 75 persen dari total perawatan dan pekerjaan rumah tangga. Dan ini berdampak tidak baik, terutama bagi kesehatan mental. Wanita rentan mengalami kelelahan fisik dan psikis sehingga memicu depresi. Belum lagi kerentanan hubungan suami istri, juga berpotensi melahirkan konflik terkait peran dan tanggung jawab yang makin besar.

Dampak lain yang muncul ialah dalam hal pengasuhan anak. Minimnya bonding antara ibu dan anak karena keterbatasan waktu berpotensi menumbuhkan anak dalam situasi motherless, bahkan juga fatherless. Secara materi mungkin tercukupi, tetapi semua itu harus dibayar mahal dengan menukar waktu bersama anaknya demi menghasilkan pundi-pundi rupiah. Bahkan, tidak sedikit sekarang ditemui female breadwinners, yaitu wanita yang menjadi pencari nafkah utama dalam pemenuhan kebutuhan rumah tangga, baik sebagai satu-satunya atau berkontribusi besar dalam pendapatan keluarga.

Beban hidup yang berat dalam sistem sekuler kapitalisme menjadikan peran suami dan istri tidak berjalan dengan semestinya, bahkan juga mandul. Perempuan ditempatkan sebagai aset ekonomi, diberdayakan agar memberi kontribusi materi, didorong agar mandiri, memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri, bahkan keluarganya sehingga ini menyebabkan bangunan keluarga menjadi rapuh.

Dalam kacamata Islam, fenomena female breadwinners adalah bentuk kegagalan sistem dalam menjamin kebutuhan keluarga, terutama dalam memampukan para kepala keluarga akan tanggung jawabnya. Terkait hal ini, negara harus bertanggung jawab karena keluarga adalah institusi terkecil yang butuh dukungan kebijakan, yang mampu menopang berjalannya peran suami terkait lapangan pekerjaan dan upah yang layak demi terpenuhinya kebutuhan hidup.

Perempuan tidak wajib menjadi tulang punggung, terlebih menjalankan peran ganda. Mengurus rumah tangga dan anak saja sudah berat, maka sangat tidak manusiawi jika masih dibebani urusan mencari nafkah. Tanggung jawab nafkah keluarga ada di pundak suami. Jika tidak ada (single parent), maka jalur wali dari kerabat laki-laki yang menggantikannya. Jika pun tidak ada, negara wajib hadir untuk menjaminnya.

Female breadwinners adalah realita yang kompleks. Solusi utama adalah mengembalikan peran laki-laki sebagai pencari nafkah utama dengan hadirnya negara dalam memberikan lapangan pekerjaan yang luas dan gaji yang layak demi terpenuhinya kebutuhan keluargan. Namun, mengingat sistem sekuler saat ini yang menciptakan female breadwinners, maka hanya Islam solusi tuntas untuk mengentaskan persoalan ini.

Mia
Bekasi [CM/Na]

Views: 14

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *