Password Ajaib (Seni Meminta Sesuatu Tanpa Berteriak)

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

#30HMBCM

Oleh: Hawilawati

CemerlangMedia.Com, PARENTING — “Bunda…mau ituuu!”
“Bunda…mau ituuu!”

Suara melengking itu memecah ketenangan mall. Putri kecilku yang sudah pandai memilih bajunya sendiri, berdiri mematung. Kakinya seolah terpaku di lantai, enggan beranjak satu inci pun. Menariknya, ia bukan menunjuk ke arah pakaian anak perempuan yang cantik, melainkan ke deretan kaos anak laki-laki dengan gambar mobil yang gagah.

Ia mulai meracik “senjata” andalannya: mata yang memerah, napas yang memburu, dan tangisan yang siap meledak. Ia berpikir, dengan berteriak dan menangis, bunda dan ayahnya akan segera menuruti. Yup, bagi anak sekecil itu, tangisan memang sering jadi senjata ampuh ketika ia ingin cepat dituruti segalanya.

Aku tidak menyalahkannya, sebab kunci utamanya memang ada pada kecerdasan orang tua dalam memilih bahasa yang tepat. Melihat tingkah si putri kecil, aku sering kali senyum-senyum sendiri karena teringat masa kecilku yang juga kerap merajuk minta dibelikan aksesoris rambut saat diajak Ibu ke pasar.

Sekarang, setelah berada di posisi sebagai ibu, aku hanya bisa membatin, “Oh Ibu, maafkan aku,” karena ternyata menghadapi keinginan anak memang butuh kesabaran ekstra.

Harus kuakui, membawa si kecil belanja ke mall adalah sebuah challenge yang nyata. Putri kecilku yang unik karena lebih cenderung memilih pakaian yang bergambar nuansa laki-laki, ia tidak menyukai motif bunga yang cantik siap meluncurkan “senjata” rajukannya jika keinginannya tidak dituruti. Agar tidak terus kerepotan, kami pun harus mencari strategi jitu untuk mengubah kebiasaan tersebut.

Yup, memiliki buah hati dengan jarak usia yang berdekatan memang bukan perkara ringan, Bunda. Rasanya seperti berlari dalam maraton panjang tanpa garis akhir yang terlihat jelas. Dari pagi hingga malam, ada saja suara tangisan si putri kecil karena ingin segalanya dituruti, panggilan kecil yang saling bersahutan.

Melelahkan? Tentu saja. Namun, di balik kelelahan itu, ada amanah besar yang Allah titipkan, amanah untuk mendidik, membimbing, dan menanamkan adab sejak dini.

Mereka memang masih sangat kecil. Ke mana pun aku pergi: ke kajian, pasar, hingga silaturahim, mereka selalu menjadi “anggota tetap”. Tidak ada istilah pergi sendiri dengan melenggang. Persiapan pun harus ekstra: makanan kecil, baju ganti, hingga mainan agar mereka nyaman.

Namun, tetap saja, mall atau supermarket selalu menjadi “dunia penuh godaan”. Rak baju dengan gambar mobil-mobilan yang mencolok seolah memanggil-manggil perhatian si putri kecil.

Di sinilah ujian sesungguhnya dimulai. Pemandangan anak merajuk, mogok jalan, sering kali membuat orang tua merasa kewalahan untuk menaklukkannya dan tak jarang yang berakhir menyerah. Tapi aku menyadari satu hal: Jika hari ini aku kalah oleh tangisan, maka esok hari tangisan itu akan menjadi senjata yang makin tajam. Maka, hadirlah si “Password Ajaib” ini.

Sebelum password ajaib ini berlaku, hampir setiap malam sebelum tidur aku mengajak mereka untuk bercerita dan mengobrol terkait adab dengan bahasa anak yang mudah mereka cerna. Yup, malam itu, aku memahamkan bahwa jika meminta sesuatu, mulai hari ini dan selanjutnya harus menggunakan password.

Apa password-nya, Bunda?” tanya si sulung penasaran.

“Dekati Bunda, bicara dengan suara lembut, lalu ucapkan, ‘Bunda sayang, bolehkah aku meminta ini?’” Jelasku.

Pun saat di perjalanan. Sebelum turun dari kendaraan, aku mengingatkan mereka, menatap mata mereka dalam-dalam, dan membuat kesepakatan.

“Anak-anak, hari ini kita punya password, ya. Kalau di dalam nanti Kakak atau Adik ingin sesuatu, tidak boleh berteriak, tidak boleh menangis, dan tidak boleh merajuk. Kalau mau sesuatu, gunakan password-nya, ya.”

“Masih ingat apa password-nya, Anak-Anak?” Tanyaku mengetes kemampuan mereka mengingat.

“Bunda sayang, bolehkah aku meminta ini?’ si sulung menjawab. Namun, si putri kecil masih tak peduli, seakan belum deal dengan kesepakatan password tersebut.

Awalnya tentu tidak mudah. Ada momen di mana bibir kecilnya mulai bergetar menahan tangis karena ingin kaos gambar mobil terbaru.

Aku segera mendekat dan berbisik pelan, “Ingat password-nya, Sayang? Bunda tidak bisa mendengar kalau sambil menangis.”

Perlahan, si kecil menghapus air matanya, menarik napas, dan mencoba bicara dengan tenang.
“Bunda sayang… bolehkah aku meminta baju mobil ini?”

Mendengarnya, hatiku lumer. Aku tersenyum dan memberikan apresiasi, “Terima kasih sudah meminta dengan sangat lembut. Bunda sangat menghargai cara adik bicara.”

Meskipun jawabanku belum tentu “iya” karena terkadang aku harus berkata “tidak” demi kebaikan mereka, setidaknya drama tangisan itu mereda. Mereka belajar bahwa meminta pun ada adabnya. Bahwa kata “tidak” bukanlah penolakan cinta, melainkan bagian dari pendidikan.

Kini, ketika mengenang masa-masa itu, aku tersenyum. Lelahnya nyata, tetapi buahnya manis. Password sederhana itu bukan hanya menyelamatkan kami dari drama di supermarket atau mall, tetapi menjadi jembatan pembiasaan adab yang mereka bawa hingga dewasa.

Karena sejatinya, mendidik anak bukan tentang memenuhi semua keinginannya, melainkan membentuk jiwanya. Dan terkadang, perubahan besar karakter dimulai dari satu kalimat sederhana yang diucapkan dengan lembut, “Bunda sayang, bolehkah aku meminta ini?”

****

“Dari satu kesepakatan sederhana untuk meminta dengan lembut, kita sedang menanamkan adab berbicara yang santun, bermakna, dan menenangkan jiwa.”

*Naskah ini tidak disunting oleh editor CemerlangMedia. [CM/Na]

Views: 8

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *