Nyawa dalam Hitungan Antrean

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

#30HMBCM

Penulis: L. Arelina

CemerlangMedia.Com — Nomor itu tak kunjung berubah. Di layar digital yang menggantung di ruang tunggu, angka B-091 seperti membeku. Sudah hampir satu jam sejak terakhir dipanggil, sementara di tangan Lestari, kertas kecil bertuliskan B-104 mulai kusut karena diremas berulang kali.

“Bu… aku capek…” suara kecil itu nyaris tak terdengar.

Lestari menunduk. Di pangkuannya, tubuh Damar terasa makin ringan—terlalu ringan untuk anak seusianya. Wajahnya pucat, napasnya tersengal, seperti sedang berjuang melawan sesuatu yang tak terlihat.

“Iya, Nak… sebentar lagi ya,” bisik Lestari. Kalimat yang sama, diulang berkali-kali. Meski ia sendiri tidak tahu, seberapa lama lagi “sebentar” itu harus ditunggu.

Semua bermula dari demam dua hari lalu. Awalnya biasa. Lestari bahkan masih sempat menenangkan dirinya—mungkin hanya kecapekan, mungkin hanya flu. Tapi malam tadi, tubuh Damar tiba-tiba kejang. Tangannya menegang, matanya terpejam rapat dan napasnya seperti tersangkut di tenggorokan.

Lestari panik. Subuh-subuh, ia sudah membawanya ke rumah sakit. Rumah sakit yang katanya menjadi sandaran terakhir bagi mereka yang tak punya banyak pilihan. Namun yang ia temui justru antrean panjang yang seperti tak berujung.

“BPJS?” tanya petugas tanpa menoleh.

“Iya,” jawab Lestari cepat. Nomor antrean disodorkan. “B-104. Tunggu dipanggil.” Hanya itu. Tanpa melihat kondisi Damar yang makin melemah di gendongannya.

“Nomor B-091.”

Suara itu akhirnya terdengar lagi. Lestari langsung menegakkan badan. Ia menghitung dalam hati. Tinggal tiga belas nomor lagi. Namun, waktu berjalan seperti sengaja diperlambat.

Di sisi lain ruangan, seorang pria datang dengan langkah pasti. Ia tidak mengambil nomor. Tidak duduk. Ia langsung berbicara dengan petugas. Tidak lama, seorang perawat mempersilakannya masuk. Tanpa antre.

Lestari menatap pemandangan itu lama. Ada sesuatu yang terasa tidak adil, tetapi ia terlalu lelah untuk memperdebatkannya.

“Bu…” suara Damar kembali terdengar. Lebih lemah dari sebelumnya.
Lestari menggenggam tangannya. Dingin.

“Kalau darurat, kenapa tidak ke IGD?” tanya seorang bapak di dekatnya.

Lestari tertegun. “Bisa?”

“Harusnya bisa.” Tanpa berpikir panjang, ia langsung berdiri dan bergegas ke meja perawat.

“Mbak… anak saya kejang semalam. Sekarang makin lemas. Bisa langsung ke IGD?” Perawat itu hanya melirik sekilas.

“Sudah daftar?”

“Sudah, tapi antreannya—”

“Ya, ditunggu saja, Bu. Semua juga antre.”

“Tapi ini darurat—”

“Kalau semua merasa darurat, nanti kacau.”

Jawaban itu jatuh seperti batu, dingin keras tanpa empati. Lestari kembali ke kursinya dengan langkah yang terasa lebih berat dari sebelumnya.

“Nomor B-104.” Akhirnya, Lestari hampir berlari masuk ke ruang pemeriksaan.

“Dok… tolong anak saya…” Dokter itu memeriksa dengan cepat. Terlalu cepat.

“Kenapa baru dibawa sekarang?” tanyanya. Pertanyaan itu menusuk.

“Saya sudah dari pagi, Dok… antre…”

Dokter itu tidak menjawab. Ia hanya menulis sesuatu.

“Kondisinya sudah berat. Harusnya ditangani lebih awal.” Lestari membeku.

Seolah dunia berhenti tepat di kalimat itu. Damar tidak pernah benar-benar sadar setelah itu.

Beberapa jam kemudian, di ruangan yang terlalu sunyi, Lestari duduk terpaku. Tangannya masih menggenggam jemari kecil yang kini tak lagi bergerak. Ia tidak menangis.

Belum, semuanya terasa seperti mimpi buruk yang belum selesai.

Beberapa hari kemudian, kabar itu mencuat.

Tentang dugaan korupsi besar di rumah sakit itu. Anggaran yang dipotong. Fasilitas yang tidak pernah benar-benar tersedia. Jalur cepat bagi mereka yang mampu membayar lebih.

Antrean panjang… ternyata bukan sekadar banyaknya pasien. Melainkan hasil dari sistem yang cacat. Lestari membaca berita itu dalam diam.

Ia teringat pria yang masuk tanpa antre.

Ia teringat penolakan perawat.

Ia teringat kalimat dokter itu.

“Harusnya lebih awal.” Air matanya akhirnya jatuh.

“Jadi ini… bukan sekadar takdir…” Ini akibat.

Malam itu, setelah salat, Lestari duduk lama. Tangannya menengadah, tapi doanya terasa berbeda. Ia tidak hanya meminta ketabahan. Ia mempertanyakan.

Mengapa nyawa harus menunggu?

Mengapa pelayanan bisa dibedakan?

Mengapa rumah sakit menjadi tempat di mana keadilan terasa begitu mahal? Bukankah negara adalah pengurus rakyat. Bukan pedagang. Bukan penentu siapa yang lebih berhak hidup berdasarkan kemampuan membayar.

Kesehatan bukan komoditas. Nyawa bukan angka antrean. Dan amanah bukan sesuatu yang boleh diperjualbelikan. Lestari menunduk, dadanya sesak. Namun di balik itu, ada kesadaran yang tumbuh perlahan. Bahwa selama sistem ini tetap berdiri, tragedi seperti ini tidak akan berhenti.

Ia hanya akan berganti nama.

Berganti wajah.

Dan kembali merenggut mereka yang lemah.

Di dalam laci kecil di kamarnya, Lestari masih menyimpan kertas itu.

B-104, nomor yang akhirnya dipanggil. Namun tidak pernah benar-benar menyelamatkan.

Ia menatapnya lama.

Lalu berbisik pelan—

“Seharusnya… tidak ada satu pun nyawa yang harus menunggu selama ini.”

Di luar sana, antrean masih berlangsung. Dan sistem itu… masih berjalan.

*Naskah ini tidak disunting oleh editor CemerlangMedia. [CM/Na]

Views: 12

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *