Oleh: Nur Rahmawati, S.H.
CemerlangMedia.Com, MEMOAR —Enam bulan itu terasa seperti satu kehidupan yang lain, bukan sekadar rentang waktu yang bisa dihitung dengan kalender, tapi semacam lorong panjang yang harus kulewati tanpa benar-benar tahu di mana ujungnya. Segalanya berjalan seperti biasa di luar sana, aku tahu itu. Orang-orang tetap bekerja, tertawa, merencanakan masa depan. Tapi aku, seolah tertahan di satu titik yang sama, berputar di antara ruang-ruang rumah sakit yang dingin dan sunyi.
Tahukah kalian bahwa perjuangan melawan sakit membuatku terpuruk dan benar-benar melupakan semua, termasuk dunia menulis. Aku tidak pernah benar-benar menghitung berapa kali aku harus kembali ke sana. Ya, ke rumah sakit. Rasanya seperti siklus yang berulang: pulang dengan harapan akan membaik, lalu kembali lagi dengan tubuh yang lebih lemah dari sebelumnya. Setiap kali melewati pintu otomatis itu, ada perasaan yang sulit dijelaskan, campuran antara pasrah, lelah, dan sedikit takut yang selalu mencoba kusembunyikan.
Yang paling kuingat justru hal-hal kecil. Bau antiseptik yang khas, lampu putih yang terlalu terang, bahkan di tengah malam, suara alat monitor yang berbunyi ritmis, seolah mengingatkanku bahwa hidupku sedang diukur oleh angka-angka yang muncul di layar. Terkadang aku menatap langit-langit terlalu lama, mencoba mencari bentuk-bentuk imajiner hanya untuk mengusir rasa sepi.
Pernah suatu waktu dunia hening, hanya kepala yang terasa berputar dan langit-langit ruang kelas satu yang kutempati seperti menghantam wajah. Akhirnya, kupejamkan mata. Kusempatkan untuk menghidupkan suara penyemangat dalam alam bawah sadarku. Ya, suara murottal favoritku. Lagi-lagi pikiranku berucap tanpa suara, “Akankah aku berakhir di sini? Ah, tidak ya Allah, hamba belum siap!”
Tubuhku berubah. Itu yang paling nyata. Tenaga yang dulu terasa biasa saja, tiba-tiba menjadi sesuatu yang mahal. Untuk duduk saja butuh usaha, untuk berjalan beberapa langkah harus berhenti berkali-kali. Ada hari-hari ketika aku merasa tubuh ini bukan lagi milikku—ia bergerak lambat, berat, dan sering kali tidak mau bekerja sama. Berat badan yang kuanggap cukup, ternyata jauh dari kata sehat. Tapi yang lebih sunyi dari semua itu adalah apa yang terjadi di dalam diriku sendiri.
Ketika kesehatan berangsur kembali, menulis, yang selama ini menjadi bagian tak terpisahkan dari hidupku, perlahan menjauh. Awalnya aku berpikir itu hanya sementara. Aku berkata pada diriku sendiri, “Nanti kalau sudah sembuh, aku akan kembali.” Tapi hari berganti hari, minggu berganti minggu, dan kata-kata itu tidak juga kembali.
Aku mencoba beberapa kali. Membuka catatan, menatap halaman kosong, mengetik satu dua kata—lalu berhenti. Bukan karena tidak tahu harus menulis apa, tapi karena rasanya kosong. Seperti ada jarak antara pikiranku dan kata-kata yang dulu begitu mudah mengalir. Aku mulai merasa asing dengan diriku sendiri.
Ada satu malam yang sangat kuingat. Aku terbangun lebih awal dari biasanya, sekitar pukul tiga pagi. Ruangan begitu sunyi, hanya terdengar suara mesin yang berdengung pelan. Aku mencoba menulis sesuatu—apa saja. Tapi setelah beberapa menit, aku hanya menatap layar yang tetap kosong. Saat itu, untuk pertama kalinya, aku benar-benar takut.
Bagaimana kalau aku tidak bisa menulis lagi? Pertanyaan itu tidak datang dengan suara keras. Ia muncul pelan, tapi menetap. Mengendap di pikiran, mengganggu setiap kali aku mencoba lagi. Aku mulai menghindari mencoba. Rasanya lebih mudah menerima bahwa aku sedang “istirahat” daripada menghadapi kemungkinan bahwa aku benar-benar kehilangan sesuatu yang sangat berarti.
Hari-hari berikutnya terasa makin panjang. Aku lebih banyak diam, lebih sering menatap daripada melakukan. Terkadang aku membuka tulisan lama—bukan untuk melanjutkan, tapi sekadar mengingat bahwa aku pernah bisa. Pernah ada waktu di mana kata-kata mengalir begitu saja, tanpa dipaksa, tanpa rasa takut.
Ada bagian dari diriku yang merindukan itu. Tapi ada juga bagian lain yang mulai menyerah.
Orang-orang di sekitarku mencoba menguatkan dengan cara mereka masing-masing. Mereka berkata bahwa aku hanya butuh waktu. Bahwa semua akan kembali seperti semula. Aku mengangguk, tersenyum, berusaha percaya. Tapi di dalam, aku tidak sepenuhnya yakin. Karena yang kurasakan bukan sekadar lelah fisik. Ini seperti kehilangan arah. Seperti berdiri di tempat yang familiar, tapi tidak lagi mengenali jalan pulang.
Sampai suatu hari, aku bahkan tidak ingat tanggalnya, terjadi sesuatu yang sangat sederhana. Aku sedang duduk sendirian, tidak melakukan apa-apa. Tidak ada rencana untuk menulis. Bahkan, tidak ada keinginan khusus. Tapi entah kenapa, aku mengambil ponselku, membuka aplikasi catatan, dan menatap layar kosong itu.
Tidak ada tekanan. Tidak ada target. Tidak ada harapan besar. Aku hanya menulis satu kalimat. Kalimat itu biasa saja. Tidak puitis. Tidak dalam. Bahkan, mungkin tidak penting. Tapi saat aku selesai menuliskannya, ada perasaan yang sulit dijelaskan—seperti sesuatu yang lama tertidur, tiba-tiba bergerak sedikit. Aku tidak melanjutkan. Aku menutupnya, lalu beristirahat. Tapi kalimat itu tetap ada di pikiranku.
Keesokan harinya, aku membacanya lagi. Masih sederhana. Masih biasa. Tapi kali ini, aku menambahkan satu kalimat lagi. Begitu saja. Tidak ada perubahan besar. Tidak ada keajaiban yang tiba-tiba membuat semuanya mudah. Tanganku masih sering lelah, pikiranku masih sering kosong. Ada hari-hari ketika aku kembali tidak menulis apa pun. Tapi ada juga hari-hari kecil di mana aku bisa menambahkan satu paragraf, atau sekadar memperbaiki kalimat yang sudah ada.
Perlahan, tanpa kusadari, aku mulai kembali. Bukan sebagai diriku yang dulu. Itu yang pertama kali kusadari. Aku tidak lagi menulis dengan cara yang sama. Dulu, aku bisa menulis berlembar-lembar tanpa berhenti. Sekarang, satu halaman saja sudah terasa seperti pencapaian besar.
Dulu, aku menulis tanpa banyak berpikir. Sekarang, setiap kata terasa lebih berat, lebih sadar. Tapi anehnya, justru di situlah aku menemukan sesuatu yang baru. Aku mulai menulis bukan karena terbiasa, tapi karena aku memilih untuk tetap melakukannya. Setiap kalimat menjadi semacam pernyataan kecil: bahwa aku masih ada, bahwa aku masih mencoba.
Aku mulai menerima bahwa bangkit tidak selalu berarti kembali seperti semula. Kadang, bangkit berarti membangun ulang dari awal—dengan bagian-bagian yang tersisa, dengan kekuatan yang berbeda.
Ada hari-hari ketika aku masih merasa tertinggal. Ketika aku membandingkan diriku dengan masa lalu, dan merasa jauh. Tapi aku belajar untuk tidak tinggal terlalu lama di sana. Karena kenyataannya, aku sudah berjalan sejauh ini.
Enam bulan itu tidak hilang. Ia tetap tinggal dalam bentuk kenangan yang terkadang datang tanpa diundang. Dalam rasa lelah yang sesekali masih muncul. Dalam cara pandang yang berubah tanpa kusadari.
Aku menjadi lebih pelan. Lebih berhati-hati. Tapi juga lebih peka. Menulis tidak lagi sekadar aktivitas yang kulakukan. Ia menjadi sesuatu yang kujaga. Sesuatu yang kurawat dengan kesabaran.
Setiap kata yang kutulis sekarang terasa lebih jujur. Mungkin karena aku tidak lagi berusaha menjadi seperti dulu. Aku hanya berusaha menjadi cukup, cukup untuk menulis hari ini, cukup untuk melanjutkan besok. Dan mungkin itu yang selama ini tidak kusadari. Bahwa kekuatan tidak selalu datang dari kemampuan untuk terus berlari, tapi dari keberanian untuk tetap berjalan, meski perlahan.
Jika aku melihat ke belakang, aku tidak lagi hanya melihat masa sakit sebagai sesuatu yang harus dilupakan. Ia memang berat. Ia memang melelahkan. Tapi dari sana, aku belajar mengenali batas, mengenali diri, dan memahami bahwa tidak semua hal harus kembali sama untuk bisa disebut pulih. Menulis telah kembali, tapi dalam bentuk yang berbeda.
Dan aku pun demikian. Sekarang, setiap kali aku membuka halaman kosong, aku tidak lagi melihatnya sebagai sesuatu yang menakutkan. Ia bukan lagi pengingat akan kehilangan, tapi ruang kecil yang selalu terbuka, ruang di mana aku bisa mulai lagi, tanpa harus sempurna. Karena aku tahu, selama masih ada satu kata yang bisa kutulis, sekecil apa pun itu, berarti aku belum selesai. Dan mungkin, memang tidak perlu selesai. Cukup terus berjalan. Satu kata, satu kalimat, satu hari dalam satu waktu.
Kesempatan itu akan selalu ada jika kita memberikan tempat khusus di hati kita. Ya! Tempat khusus sebagai penulis selamanya.
Memoar, 8 Mei 2026 [CM/Na]
Views: 9






















