Oleh: Mauriz, S.T.P.
“Islam tidak hanya mengatur urusan ibadah ritual saja, tetapi juga seluruh aspek kehidupan, tidak terkecuali urusan perutnya. Islam mewajibkan setiap individu untuk memakan makanan halal lagi tayib.”
CemerlangMedia.Com — Guys, makin ke sini, jenis makanan dan minuman (mamin) makin banyak aja, ya. Mulai dari yang manis aja, yang punya sensasi dingin di mulut, sampai rasa gurih-gurih pun ada.
Nggak cuma rasanya aja yang unik, tetapi dari segi penampilan atau cara penyajiaannya juga beda dari yang sebelumnya. Hmm, makin lama tuh milih pesanan ketika di depan mbak/mas kasir karena kebingungan memilih menu apa yang bakal dipesan.
Banyak Varian Mamin, Makin Banyak yang Penyakitan
Di satu sisi, munculnya berbagai varian mamin ini memang makin menambah kemajuan dalam dunia pangan, Guys. Akan tetapi di sisi lain, kita perlu menelisik lebih jauh terkait mamin yang beredar di masyarakat.
Sebagian besar mamin yang beredar di masyarakat, cenderung mengandung gula yang lebih besar dibandingkan dengan apa yang dibutuhkan oleh tubuh setiap harinya, seperti minuman, misalnya. Banyak minuman di kafe ataupun berupa kemasan mengandung gula yang tinggi.
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Akhriani M., dkk. (2016) yang diterbitkan Indonesian Journal of Human Nutrition, menunjukkan bahwa minuman kemasan yang beredar luas di Indonesia mengandung gula sebesar 37—54 gram dengan sumbangan kalori sebanyak 310—420 kkal. Kandungan gula tersebut tergolong tinggi jika dibandingkan dengan anjuran konsumsi gula setiap harinya. Sementara anjuran konsumsi gula yang diatur dalam Peraturan Kementerian Kesehatan No. 30/2013 dalam satu hari adalah 4 sendok makan (50 gram), yaitu sebesar 10% dari total energi (200 Kkal).
Hmm, miris ya, Guys! Banyak minuman yang beredar di sekitar kita, tidak baik untuk kesehatan. Itu baru minuman kemasan, belum lagi minuman ala kafe yang berbasis gula, seperti boba, palm sugar, dan lain sebagainya yang notabene dalam resepnya memiliki takaran gula yang tinggi.
Tidak hanya minuman, Guys, saat ini banyak juga tersebar makanan berisiko karena mengandung zat yang membahayakan kesehatan. Terbaru, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI menyampaikan bahwa salah satu produk roti, Okko mengandung zat natrium dehidroasetat yang masuk dalam daftar bahan berbahaya bagi kesehatan (Kompas, 26-07-2024). Sementara selama ini, produk tersebut telah beredar di masyarakat, tetapi baru diketahui ada zat berbahaya yang terkandung di dalamnya.
Meskipun produk makanan kemasan secara nyata banyak mengandung pengawet dan bahan kimia yang membahayakan kesehatan, tetapi masyarakat tetap saja memburunya, Guys. Bahkan, merasa ketinggalan tren jika tidak ikut mengonsumsi produk mamin terbaru yang viral.
Parahnya, produk mamin yang beredar saat ini bukan hanya mengandung zat kimia berbahaya, tetapi juga disertai rasa ketagihan bagi orang yang mengonsumsinya. Ini tentu berbahaya karena meskipun masyarakat mengetahui risikonya, tetap saja tergoda untuk membelinya.
Dilansir dari penelitian yang dilakukan oleh Johnson dan Kenny (2010), minuman dan makanan yang lezat biasanya mengandung gula, garam, dan lemak dalam jumlah yang tinggi. Mengonsumsi minuman serta makanan yang memiliki rasa lezat akan dapat mengaktifkan “sistem reward” di otak yang akan memicu pengeluaran hormon dopamin.
Hormon dopamin adalah hormon yang memunculkan rasa senang di otak sehingga mengakibatkan kecanduan terhadap minuman atau makanan tersebut. Hal ini dapat meningkatkan motivasi seseorang untuk terus mengonsumsi minuman atau makanan lezat, meskipun tidak sedang merasa lapar sehingga dapat berimbas pada kelebihan asupan energi harian tubuh.
Ditambah lagi, mamin yang lezat ini biasanya memiliki sifat praktis, yakni siap makan ataupun dapat disajikan dalam waktu yang singkat (instan), memiliki harga yang relatif murah, dan dapat dijangkau oleh seluruh lapisan masyarakat. Hal ini sering dijadikan alasan bagi para orang tua yang sibuk bekerja.
Ketika mereka tidak punya waktu untuk menyiapkan bekal yang sehat bagi anak, maka fast food, junk food, dan sejenisnya seakan-akan telah menjadi makanan “penolong”. Oleh karenanya, tidak heran jika makanan cepat saji sering kali menjadi menu andalan bagi keluarga, padahal mamin tersebut menimbulkan efek yang membahayakan bagi tubuh jika dikonsumsi secara berlebihan.
Bahkan, Dokter Spesialis Anak di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Eka Laksmi Hidayati mengatakan bahwa pola hidup tidak sehat mendominasi sebagai faktor penyebab gagal ginjal. Dokter Spesialis Penyakit Dalam dr. Tunggul D. Situmorang, Sp.PD-KGH juga menyampaikan, kebiasaan mengonsumsi minuman manis dan berwarna dapat meningkatkan risiko diabetes dan diabetes dapat memicu terjadinya gagal ginjal kronis (CNBC Indonesia, 16-07-2024).
Hmm, bagaikan jatuh tertimpa tangga pula. Sudahlah mengandung zat yang melebihi kebutuhan tubuh, bahkan berbahaya, mengakibatkan kecanduan pula. Untuk sekadar urusan perut saja, masyarakat harus dibuat bingung. Sementara rak minuman, baik di toko, pasar maupun supermarket 85% terisi oleh produk pangan yang masuk dalam kategori di atas kan, Guys?
Demi Mengejar Cuan, Kesehatan Masyarakat Tergadaikan
Di sisi lain, faktor kemiskinan juga turut andil bagi kesehatan masyarakat. Masyarakat yang hidupnya pas-pasan akan cenderung memilih mamin yang praktis dan juga harga murah meriah, asalkan perut kenyang.
Tentu bukan menjadi rahasia lagi ya, Guys, saat ini, harga pangan melonjak sehingga wajar saja jika akses pangan bergizi masih terasa sulit bagi kelompok masyarakat ekonomi bawah. Untuk sekadar makan saja susah, apalagi harus memikirkan makanan dengan gizi seimbang?
Selain itu, rendahnya tingkat pengetahuan dan literasi masyarakat serta cara berpikir yang pragmatis membuat masyarakat lebih memilih mamin yang serba instan atau hanya sekadar memuaskan lidah saja, Guys. Tidak ketinggalan, pelaku industri juga turut andil dalam tersebarnya produk mamin dalam masyarakat, Guys.
Bahkan, untuk memenuhi keinginan konsumen, para pelaku industri makanan seakan berlomba-lomba memproduksi makanan dan minuman dengan berbagai jenis. Bagi pelaku industri, ini merupakan bisnis yang menjanjikan karena permintaan masyarakat meningkat dari waktu ke waktu. Bisnis makanan dan minuman memang masuk dalam kategori yang tidak pernah sepi dari peminat.
Dalam pandangan kapitalisme, keuntungan dan cuan yang didapat adalah prioritas utama bagi pelaku industri, Guys. Selama produk makanan dan minuman digemari masyarakat, maka mereka akan memproduksi dalam jumlah sebanyak-banyaknya serta mempromosikannya secara besar-besar, meskipun tahu bahwa produk yang dibuat mengabaikan aspek kesehatan dan keamanan masyarakat.
Hal ini menjadi wajar karena ambisi mencari keuntungan adalah konsekuensi logis dalam kapitalisme. Produsen mencari untung sebanyak-banyaknya, meskipun harus menggadaikan kesehatan konsumen. Inilah kejahatan sistem kapitalisme. Demi mendapat keuntungan, produsen seakan tutup mata dan telinga, mereka tidak menghiraukan keamanan dan kesehatan masyarakat.
Meski terdapat regulasi dari pemerintah yang mengatur tentang kecukupan gizi, hal tersebut tidak berdampak signifikan pada pengurangan penyakit yang dialami oleh masyarakat. Untuk itu, perlu dilakukan evaluasi terkait kadar gula dalam mamin yang diproduksi oleh para pelaku industri.
Negara sudah seharusnya memiliki langkah serius dalam menangani masalah ini. Jangan sampai menunggu banyak yang sakit, baru serius ditangani. Jangan sampai pula ketidakseriusan pemerintah mengakibatkan penurunan kualitas generasi karena absennya negara dalam memastikan asupan makanan sehat bagi rakyatnya.
Bagaimana mau menjadikan negara yang hebat jika masyarakat terus dihantui oleh berbagai macam penyakit dan gangguan kesehatan yang berisiko pada kematian, seperti diabetes, obesitas, gagal ginjal, kolesterol, dan lainnya. Oleh karena itu, sudah menjadi kewajiban negara berperan penting dalam memastikan bahwa masyarakat mendapatkan kehidupan yang sehat dan produktif.
Memang, selama ini, negara sudah menetapkan beberapa kebijakan, seperti cukai pada minuman manis, regulasi mengenai kandungan gula, garam, dan lemak dalam produk makanan. Namun, apakah kebijakan ini efektif? Sementara pola dan gaya hidup masyarakat tidak mengalami perubahan. Sudah saatnya diperlukan solusi tuntas yang dapat mengatasi masalah ini.
Islam Solusi Masalah Pangan
Islam tidak hanya mengatur urusan ibadah ritual saja, tetapi juga seluruh aspek kehidupan, tidak terkecuali urusan perutnya. Islam mewajibkan setiap individu untuk memakan makanan halal lagi tayib. Allah Subhanahu wa Taala telah berfirman dalam surah Al-Maidah ayat 88 yang artinya,
“Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezekikan kepada kalian, dan bertakwalah kepada Allah yang kalian beriman kepada-Nya.”
Dalam ayat tersebut, Allah Subhanahu wa Taala menjelaskan bahwa mengonsumsi makanan dalam rangka memenuhi fitrah adalah suatu kewajiban dan orang yang meninggalkannya atau melalaikannya akan mendapatkan dosa. Perintah bagi manusia untuk mengonsumsi makanan yang halalan thayyiban dan larangan mengikuti langkah-langkah setan di dalam ayat tersebut tentunya mengandung banyak kemaslahatan bagi manusia.
Dalam pandangan Islam, pemenuhan kebutuhan makanan yang halal lagi baik bukan hanya menjadi tanggung jawab orang tua saja, tetapi juga negara yang memiliki peran sentral, Guys. Untuk itu, negara dapat melakukan beberapa langkah sebagai berikut.
Pertama, memberikan jaminan kesejahteraan bagi warga dengan adanya kemudahan akses kebutuhan pangan yang halal, aman, dan sehat. Negara harus memastikan setiap individu rakyatnya dapat membeli bahan pangan dengan harga terjangkau. Hal ini bisa dilakukan dengan cara melakukan pengontrolan atau pengawasan pasar dan proses distribusi bahan pangan untuk mencegah adanya pedagang yang berbuat nakal dan curang.
Kedua, mengatur dan memberlakukan peraturan untuk industri makanan dan minuman agar sesuai dengan ketentuan makanan dalam Islam, yaitu halal dan tayib, tidak mengandung bahan-bahan berbahaya, dan tidak menimbulkan berbagai macam penyakit degeneratif, seperti kanker, diabetes, ataupun jantung.
Ketiga, melakukan edukasi secara berkelanjutan melalui lembaga layanan kesehatan, media massa, dan berbagai tayangan edukatif yang bisa diakses oleh seluruh lapisan masyarakat sehingga mereka dapat dengan mudah memahami kriteria makanan halal dan tayib yang telah diperintahkan Islam.
Halal yang dimaksudkan dalam Islam adalah segala sesuatu yang boleh untuk dikonsumsi, baik dilihat dari aspek zatnya, cara memperolehnya, dan bagaimana cara pengolahannya. Sementara tayib berasal dari kata taba yang berarti lezat, subur, suci, halal, dan membolehkan. Tayib juga dapat diartikan “yang terbebas dari kekeruhan”. Maksudnya, makanan tersebut dapat mendatangkan kebaikan bagi kesehatan, proporsional (tidak berlebihan), dan bergizi bagi orang yang mengonsumsinya.
Keempat, negara harus memberikan layanan kesehatan secara gratis kepada seluruh rakyat seperti deteksi dini penyakit, cek kesehatan secara berkala (cek gula darah, kolesterol, asam urat, kecukupan gizi, dll.), penanganan intensif bagi penderita penyakit kronis, dan layanan kesehatan dalam bentuk lainnya. Semuanya wajib diberikan secara gratis, tanpa dipungut biaya sepeser pun.
Kelima, menindak tegas pelaku industri dan siapa saja yang menyalahi aturan terkait peredaran makanan dan minuman halal dan tayib.
Keenam, negara juga harus menerapkan sistem pendidikan yang kolaboratif antar seluruh elemen dan terintegrasi dengan diberlakukannya kurikulum pendidikan berbasis akidah Islam, khususnya pada materi pola hidup sehat yang ada dalam mata pelajaran penjaskes. Bukan hanya sekadar membentuk peserta didik yang ahli dalam bidang olahraga, tetapi juga harus membentuk pola pikir sehat dan fisik yang kuat.
Semua kebijakan ini harus diterapkan secara komprehensif dan sistemis sehingga dapat mengubah pola dan gaya hidup berparadigma sekuler, hedonis, dan konsumtif ala kapitalisme menjadi pola dan gaya hidup islami dalam segala aspek kehidupan. Masyaallah, sungguh luar biasa aturan Islam.
Sudah saatnya penguasa negara ini menggunakan sistem Islam. Sistem yang sempurna dan paripurna, yang tidak hanya mendatangkan kesejahteraan bagi rakyatnya, tetapi juga mendatangkan berkah dari Rabb alam semesta. Wallahu a’lam bisshawwab. [CM/NA]
Views: 126






















