#30HMBCM
Oleh: D’Ikhty
Bab 7 Karet Gelang
CemerlangMedia.Com, NOVEL — Langit masih berselimut awan hitam, ragu apakah mau melanjutkan malam ataukah berganti siang. Hujan semalam turut menyisakan jejak di aspal jalan raya. Hujan telah usai, tetapi jejaknya masih menggelayut di udara. Pepohonan di pinggir jalan tampak kaku, daunnya berlapis embun tipis yang mengkristal.
Lintang menghirup udara dalam-dalam hingga kesejukan merasuki saluran pernapasan. Pagi begitu menggigit hingga setiap udara yang keluar dari mulut berubah menjadi asap putih. Namun, Lintang seperti tak memedulikan hawa dingin yang menyusup ke tulang. Ada hal lain yang sedang berlari-lari dalam benaknya.
Kepala Lintang mulai terasa berat memikirkan siapa gerangan yang menjual dan menggusur rumah peninggalan nenek.
“Tidak mungkin. Tidak mungkin Paman Wira melakukan hal itu. Meski pekerjaannya tidk jelas, tetapi tidak mungkin Paman Wira tega melakukan ini semua.” Lintang berusaha mengusir pikiran buruknya.
“Dek, udah sampai,” tegur sopir taksi menyadarkan Lintang.
“Saya sudah bayar, ya, Pak? Terima kasih.” Gadis itu turun usai menyatakan pembayaran dilakukan lewat aplikasi.
Gerimis yang sedari tadi bersembunyi akhirnya turun malu-malu diantar oleh angin tipis. Pepohonan meliuk-liuk lembut seolah bersorak melihat para siswa Budi Mulia berlarian menghindari air yang jatuh dari langit.
Tanpa jaket, tanpa payung, mengharuskan Lintang berlari bergegas memasuki area sekolah. Meski sudah mendekati jam belajar, suasanya sekolah tidak seramai hari sebelumnya. Cuaca mendung dan hujan menjadikan banyak siswa dan guru sedikit terlambat datang.
Lintang menjatuhkan ransel di atas meja. Kepalanya bertambah pusing memikirkan perkara gusur menggusur rumah tua di kampung halaman, Ranupani.
Lintang menarik ponsel dari dalam saku rok.
[Kamu tahu dalangnya, gak? Paman Wira terlibat, gak, ya?] 06.50
[Aku gak paham masalahnya, Tang. Warga memang tuduh Om Wira terlibat. Tapi ini setelah Om Wira dipenjara, penggusuran malah makin luas. Ada 20 rumah yang digusur termasuk panti asuhan] 06.02
[Hah? Paman Wira dipenjara?] 06.02
[Jadi, kamu gak tau apa apa, ya? Kampung heboh saat alat berat masuk dan umumkan akan ada penggusuran. Om Wira terlibat baku pukul dengan camat, trus ditangkap polisi] 06.02
“Huh! Kenapa semua jadi terasa sesak?” gumam Lintang.
Lintang berdiri mengambil sebuah remot untuk membuka tirai. Embun menempel lekat di jendela kaca. Lintang mengusap kaca dengan tangan hingga pemandangan di luar makin terlihat jelas. Rasa sesak di dada terlepas sedikit demi sedikit saat melihat pemandangan di luar kelas. Hujan rintik mulai pergi meninggalkan titik-titik air di dedaunan dan rerumputan.
Langit mendung membuka diri perlahan membiarkan cahaya matahari menerobos celah-celah awan. Titik-titik hujan yang berpadu dengan sinar matahari berkilau bak prisma transparan. Lengkungan warna-warni lembut membentang dari satu sisi cakrawala ke sisi lain, seolah sedang menghibur siapa saja yang sedang bersedih.
“Masyaallah, pelangi, cantiknya…,” gumam Lintang lirih.
“Aiiih. Ponsel kau ini keren pisan….” Bimo mengambil ponsel milik Lintang yang diletakkan di meja. “Woi! Ada aksesoris penangkap sinyalnya! Hahaha.”
Teriakan Bimo yang menggelegar menarik perhatian siswa lain. Gelak tawa pun bersahutan memenuhi ruangan saat Bimo mengangkat ponsel Lintang tinggi-tinggi. Sebuah gelang karet yang berfungsi sebagai pengikat LCD yang hampir lepas, melingkar di ponsel tersebut. Udara dingin pagi berubah menjadi panas dengan keriuhan siswa kelas XID.
“Woi! Teman-teman, kalian lihat, nih, I-Phone keluaran terbaru!”
Masih dengan posisi lengan menjulur ke atas, Bimo berjalan ke sana ke mari dengan maksud memamerkan ponsel antik milik Lintang.
“Bemo! Kembalikan!” Beryl mengejar Bimo untuk mengambil ponsel milik kawannya.
Beryl mencengkeram kemeja Bimo dari belakang dan berjinjit agar bisa menggapai ponsel. Gadis berambut ikal itu mengikuti gerak Bimo. Namun, upayanya sia-sia. Tubuh Bimo yang bongsor tidak sebanding dengan kekuatan gadis kurus seperti Beryl.
Di saat sepasang siswa berebut ponsel, di saat siswa lainnya tertawa riuh, mereka tidak sadar pemilik ponsel tidak lagi punya daya hingga jatuh tersungkur. Suara benturan memecah kekacauan yang terjadi. Kelas hening seketika.
Beryl melepaskan cengkeraman kemudian mencari sumber suara. Tanpa aba-aba, ia melompat dan berlari ke arah Lintang yang tergeletak di bawah jendela. Wajah pucat Lintang membuat Beryl khawatir.
“Lintang!” Beryl menepuk pipi Lintang, tetapi tidak merespons.
“Lintang pingsan! Tolong siapa saja yang bisa bawa dia ke klinik!” Beryl memiringkan tubuh Lintang sebagai pertolongan pertama.
Para siswa mulai penasaran untuk melihat kondisi siswa baru tersebut, sementara Bimo kebingungan dengan apa yang sedang terjadi. Ia tidak menyangka kalau keisengannya berdampak sedemikian rupa.
Aditama yang baru masuk kelas, melempar ransel di meja depan saat mendengar teriakan Beryl. Ia mendorong siswa yang berkerumun agar bisa membuka jalan untuk melihat kondisi Lintang.
“Beryl, tolong luruskan posisi Lintang.” Aditama berupaya menggendong Lintang dan meminta Beryl memperbaiki posisi gadis yang hilang kesadaran itu.
Sekolah elite itu memiliki klinik yang diasuh oleh tenaga medis. Namun, lokasi klinik berada di lantai bawah hingga Aditama harus berjuang lebih keras melewati anak tangga sambil menggendong Lintang. Beruntung berat badan gadis itu hanya 42 kg. Kelas pun kembali riuh. Siswa sekelas mulai mempersalahkan Bimo.
“Kau ini! Berhentilah bikin kacau!” tegas Beryl menunjuk-nunjuk Bimo sebelum berlari menyusul Aditama.
“Huuuu! Bemo…, tanggung jawab!” sorak siswa sekelas.
“Eh, kalian lupa, ya. Bukankah tadi… kalian juga ikut menertawakan Lintang?”
Citra yang baru memasuki kelas tampak kebingungan seraya berujar, “Ada apa ini?”
Ketua kelas turut emosi setelah mendengar cerita yang disampaikan teman-teman. “Heh, Bemo! Dia itu aset kelas kita, tau! Awas kalau ada apa-apa dengan Lintang!” Citra melotot tajam sebelum akhirnya menuju klinik.
***
[CM/Na]
Views: 10






















