Senja di Balik Resah

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

A Cerpen by Fawatifu Syu’ara

CemerlangMedia.Com — Berjalan menyusuri jalan setapak, dengan jejeran pohon yang tampak tak beraturan, tak lantas membuat Senja menghentikan laju langkahnya. Sesekali dia menoleh ke belakang, dan membatin.

“Apakah ada yang mengikuti? Ya Allah, lindungi Senja!” Sambil terus menenteng tas berukuran sedang yang berisi pakaiannya.

Sejauh dia melangkah, tak juga ditemukan permukiman. Ada rasa getir dalam hatinya, ketakutan mulai merundung pikirannya. Akankah dia sampai ke tempat yang Senja sendiri belum tahu akhir pelariannya? Matahari sudah tampak menunjukkan warna senjanya, dengan tenaga yang telah letih, akhirnya Senja menemukan sebuah rumah yang terlihat lusuh namun masih terawat. Rasa syukur yang dalam terpanjat dari lisannya.

“Alhamdulillah, ya Allah!” Ucap Senja dengan meletakkan tas yang dijinjingnya dan mencoba mengetuk pintu.

“Assalamu’alaikum!” dengan menengok ke samping kanan dan kiri rumah. Namun, tak juga terdengar jawaban dari dalam.

“Assalamu’alaikum, Assalamu’alaikum!” Senja mencoba memperkeras suaranya. Akhirnya terdengar suara hentakkan kayu.

“Wa’alaikumussalam. Kamu, siapa Nak?” Suara serak khas orang tua. Nenek-nenek yang terlihat tua dengan membawa tongkat, dengan kisaran usia 75 tahun.

“Nek, saya Senja! Bolehkan Senja menginap di rumah Nenek? Insyaallah besok pagi, Senja sudah pamit.” Jawab Senja yang membuat nenek tak tega melihat kondisi Senja yang tampak lelah.

“Masuklah, Cu!” dengan melangkahkan diri, diiringi suara tongkat yang samar terdengar karena rumah nenek beralaskan tanah.

“Istirahatlah, Cu, di atas dipan itu!” Sembari menunjuk ke arah dipan yang berukuran 2×1 meter yang sudah tampak usang.

Senja pun hanya mengangguk, dan bertanya pada nenek.

“Nek, di manakah Senja bisa mandi dan berwudu?” tanya Senja sopan. Namun nenek hanya membalasnya dengan tunjukkan jari ke arah belakang. Tanpa pikir panjang, Senja segera menuju arah belakang yang tampak gelap, hanya ada lampu tembok dan cahaya bulan yang sedikit redup. tetapi tak menyurutkan niat Senja untuk melaksanakan salatnya. Hingga akhirnya Senja mengakhiri dengan merebahkan tubuhnya yang sangat letih di atas dipan.

****
Suara kokok ayam membangunkan lelap Senja. Segera dia bangun dan mengambil air wudu, terlihat nenek yang sibuk memasak dengan tungku bahan bakar kayu, panci yang hitam legam telah menunjukkan eksistensinya selama yang tak mampu ditebak oleh Senja.

“Nenek, maaf, Senja telat bangun!” Sembari menampakkan wajah menyesalnya.

“Tak apa, Cu! Lekaslah salat, kemudian sarapan,” pinta nenek yang sangat ramah itu. Senja hanya mengangguk setuju.

Setelah selesai salat dan mandi, Senja bergegas menemui Nenek, berniat membantu. tetapi ternyata hidangan telah tersedia di dipan dapur.

“Makanlah, Cu!” Sambil meletakkan bakul nasi di antara tumis sayur kangkung.

“Terima kasih banyak, Nek!” Senja merasa terharu, dan bersyukur dipertemukan oleh nenek.

Senja pun melahap habis hidangan yang ada di depannya, dia sangat kelaparan karena sejak kemarin kepergiannya dari rumah, dia tidak makan sama sekali. Senja pergi dari rumah, tepatnya kabur tanpa sepengetahuan siapa pun, hal itu dilakukannya karena senja tidak ingin dinikahkan dengan pemuda yang usianya 10 tahun lebih tua darinya. Selain itu, Senja merasa belum siap, apalagi Senja masih sekolah. Usia Senja kini 16 tahun, dia duduk di bangku kelas XII. Masih panjang cita-citanya yang ingin dia raih. Inilah yang menyebabkan dia kabur dari rumah.

“Kamu dari mana, Cu? Kamu pergi dari rumah ya?” Selidik nenek, yang tak disangka oleh Senja bahwa tebakkannya benar.

“Iya, Nek! Nenek tahu dari mana?” Tanya Senja balik.

“Nenek, sudah pengalaman soal beginian Cu! Jadi Nenek hanya menebak!” Sembari tersenyum.

Senja pun menceritakan semua yang dialaminya, namun tidak membuat nenek langsung mengiyakan. Karena bagi nenek, perlu tahu dari kedua belah pihak yaitu orang tua Senja.

“Nek, seperti janji Senja, hari ini akan pamit dari rumah Nenek!” Dengan menampakkan wajah muram, dalam hatinya masih bingung akan ke mana dia setelah ini, karena Senja tidak punya kenalan siapa pun.

“Mau pergi ke mana?” tanya nenek serius.

“Senja juga belum tahu Nek!” jawabnya.

“Tinggallah di sini selama kau mau, namun jika hatimu sudah tenang, Nenek berharap Senja pulang, karena Nenek yakin orang tuamu khawatir saat ini,” ucap nenek menghentikan niatnya pergi dari rumahnya.

Senja pun memeluk nenek dan berterima kasih atas kebaikannya.

****
Ibu Senja tak hentinya menangis, meratapi kepergian Senja. Rasa sesal yang dalam membuat Ibu Senja meminta pada suaminya untuk membatalkan niat menjodohkannya dengan Tama pemuda saleh dan sopan. Sayangnya Senja, tidak menanyakan alasan mengapa orang tuanya menjodohkannya dengan Tama.

“Pak, ayo cari Senja lagi! Kita turuti saja apa keinginan anak itu Pak. Ibu gak mau kehilangan Senja.” Dengan suara isak tangis yang membuat suaminya merasa iba.

“Iya, Bu! Bapak akan cari terus, dan minta tolong warga untuk membantu mencari. Jadi Ibu tenang ya!” Sembari memeluk istrinya untuk menenangkannya.

Hampir seluruh warga yang laki-laki Desa Makmur Berseri mencari keberadaan Senja. Mereka menyusuri sungai dan area yang membawa mereka ke kota atau tempat sekiranya dilewati oleh Senja. Namun, hasilnya nihil, tak ada jejak sama sekali yang ditinggalkan Senja, sehingga warga kesulitan untuk mendeteksi keberadaannya. Bapak Senja makin sedih, namun dia tak putus asa. Akhirnya Bapak Senja memutuskan untuk mencarinya ke hutan. Ada ikat rambut Senja ditemukan oleh bapaknya.

“Bukankah, ini ikat rambut Senja?” batinnya dalam hati. Akhirnya Bapak Senja memutuskan untuk mencari seorang diri keberadaan Senja, dengan menyusuri hutan, dan jejak rumput yang telah terinjak. Sampai pada sebuah gubuk yang berada di hutan. Bapak Senja pun yakin bahwa Senja berada dalam gubuk tersebut. Tanpa pikir panjang, Bapak Senja mendatangi gubuk tersebut dan mengetuk pintu yang terbuat dari kayu.

“Assalamu’alaikum. Permisi!” ucap salam Bapak Senja di balik pintu gubuk milik nenek.

“Wa’alaikumussalam,” jawab nenek sembari melangkah untuk membuka pintu, namun Senja mencoba menghentikan langkah nenek.

“Nek, jangan! Itu suara Bapak saya!” ucap Senja.

“Senja, biarkan Bapakmu masuk, biar segera selesai masalahmu!” jelas nenek, dan akhirnya Senja mengangguk pasrah.

“Iya!” jawab nenek singkat.

“Nek, saya Pak Ahmad. Saya lagi mencari anak saya yang bernama Senja! Kemarin dia pergi dari rumah tanpa sepengetahuan kami!” jelas Pak Ahmad.

“Masuklah dahulu, Pak!” pinta nenek pada Pak Ahmad, orang tua Senja.

“Cuuu, kemarilah!” Panggil nenek pada Senja.

Senja kemudian ke luar dari dapur. Melihat anaknya, Pak Ahmad lantas memeluk bahagia sekaligus haru. Melihat pemandangan itu, nenek ikut terharu.

“Ndok, kamu mengapa pergi! Kita kan bisa bicarakan baik-baik!” Sembari mengusap air mata yang tak sengaja menetes.

“Pak, Senja belum mau menikah!” Jelas Senja dengan terisak.

“Senja, bingung mau menolak, akhirnya Senja memutuskan pergi sampai Senja siap! Senja resah harus seperti apa Pak!” lanjut Senja menjelaskan.

“Duduklah dahulu!” pinta nenek.

Kemudian bapak dan anak itupun duduk di atas dipan yang sederhana, yang terletak di ruang tamu berukuran 3×3 meter.

“Ndok, apakah kamu ingat dahulu kamu pernah pingsan di sekolah? Waktu itu, gurumu mengantarkanmu ke rumah sakit daerah. Singkatnya, dokter mengatakan kamu terkena kista yang harus segera dioperasi sebelum membahayakan rahimmu, Nak! Sedangkan Bapak tidak punya uang untuk operasimu, sehingga anak dokter yang memeriksamu yaitu Nak Tama, yang telah lama menyukaimu karena akhlakmu Nak! Jadi, Nak Tama ingin memperistrimu, dan membawamu ke kota untuk operasi, karena kamu tahu sendiri, Bapakmu ini sudah tua dan gak sanggup untuk membawamu ke kota. Nak Tama, ingin menjadikanmu halal, agar lebih bebas membawamu berobat, dan tetap membiarkanmu melanjutkan sekolah,” jelas Pak Ahmad panjang lebar.

Senja pun seketika bersujud di hadapan bapaknya memohon maaf, dan akhirnya menuruti niat baik orang tuanya. Senja kini memahami keresahannya selama ini sebab kurangnya komunikasi dengan bapak, ibunya. Akhirnya, Senja menikah dan Tama membawanya berobat. Kemudian, sebagai bentuk tanggung jawab Tama, dia mendukung Senja mengikuti paket C dan melanjutkan kuliah dengan bantuan suaminya Tama. [CM/NA]

Views: 40

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *