Darurat HIV Remaja, Kapitalisme Biang Kerok

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

Penulis: Ratih Wahyudianti

Islam mewajibkan umatnya untuk menjaga kesucian diri, membangun keluarga melalui pernikahan yang sah, serta menjauhi segala bentuk perilaku menyimpang yang dapat merusak kesehatan individu maupun masyarakat. Sistem ekonomi Islam juga menutup celah bagi industri yang mengeksploitasi hawa nafsu, seperti pornografi dan prostitusi yang menjadi salah satu faktor penyebaran penyakit ini.

CemerlangMedia.Com — Fenomena perilaku menyimpang di kalangan remaja Bondowoso, khususnya lelaki sesama lelaki (LSL), menjadi perhatian serius. Data menunjukkan, 729 dari 1.500 pengidap HIV/AIDS berasal dari kelompok ini memicu keprihatinan Dinsos P3AKB dan pihak terkait (beritajatim.com, 08-03-2025).

Rapat koordinasi dengan forum anak dan remaja yang telah dilakukan mengungkapkan keresahan serupa di kalangan remaja. Program Sekolah Siaga Kependudukan dan Sekolah Madrasah Kependudukan digencarkan, berfokus pada edukasi dan pendampingan berbasis teman sebaya. Konsultasi psikologis daring dan luring difasilitasi untuk menjaga kerahasiaan identitas korban.

Selain itu, Komisi IV DPRD Bondowoso berencana menggelar RDP untuk mencari solusi. Sementara itu, Pokja TB HIV Bondowoso menekankan perlunya keterlibatan lintas sektor dan pendekatan yang tepat sasaran.

Perilaku Menyimpang Remaja

Penormalisasian gaya hidup bebas menjadi salah satu dampak nyata dari sistem kapitalisme yang menekankan kebebasan individu tanpa batas. Prinsip ini mendorong perilaku pergaulan bebas dan gaya hidup yang berisiko, seperti s3ks bebas, praktik L687, kohabitasi (hidup bersama tanpa menikah), serta penyalahgunaan narkoba.

Kapitalisme yang berorientasi pada keuntungan, memanfaatkan kebebasan ini sebagai alat untuk mengendalikan opini publik melalui industri hiburan dan media. Pornografi, budaya hedonisme, serta normalisasi hubungan non-marital secara sistematis dikampanyekan melalui film, musik, iklan, hingga media sosial sehingga dianggap sebagai sesuatu yang wajar oleh masyarakat.

Alih-alih melindungi moral dan tatanan sosial, sistem ini justru makin memperburuk kondisi generasi muda dengan merusak nilai-nilai keluarga, meningkatkan angka kehamilan di luar nikah, penyebaran penyakit menular s3ksual, serta berbagai dampak sosial lainnya. Semua ini menunjukkan bahwa kapitalisme tidak hanya gagal memberikan kesejahteraan yang hakiki, tetapi juga telah menjadi alat penghancur moral dengan dalih kebebasan individu yang pada akhirnya merugikan masyarakat secara luas.

Kapitalisme Menghancurkan Remaja

Adanya sistem kapitalisme yang rusak berimbas juga pada sistem pendidikan yang rusak pula. Sistem pendidikan sekuler yang hanya berfokus pada aspek kognitif dan keterampilan teknis tanpa memberikan pemahaman moral dan spiritual yang benar telah melahirkan generasi yang cerdas secara akademik, tetapi miskin nilai-nilai kehidupan.

Akibatnya, banyak individu yang tumbuh dengan pemikiran pragmatis, mengejar kesuksesan materi tanpa mempertimbangkan etika dan moral. Hal ini makin diperparah oleh sistem ekonomi kapitalisme yang menjadikan keuntungan sebagai tujuan utama tanpa memperhatikan dampak sosial dan kemanusiaan.

Sistem ini menunjukkan bahwa tanpa landasan moral dan spiritual yang kuat, manusia akan terjebak dalam siklus eksploitasi yang tidak berkesudahan. Nilai manusia lebih sering diukur dari aspek ekonomi daripada martabat dan kehormatan mereka.

Dampak Hidup Bebas

Meningkatnya angka penderita HIV, termasuk di kalangan remaja dan pelajar menjadi salah satu dampak nyata dari gaya hidup bebas (perilaku menyimpang) yang makin lumrah di kalangan masyarakat. Pergaulan bebas, rendahnya pemahaman tentang moral dan agama, serta kurangnya kontrol sosial berkontribusi terhadap peningkatan kasus ini.

Dampak dari penyebaran HIV tidak hanya terbatas pada kesehatan individu, tetapi juga menciptakan beban ekonomi dan sosial yang makin berat. Biaya pengobatan dan perawatan bagi penderita HIV terus meningkat sehingga membebani sistem kesehatan serta anggaran negara.

Selain itu, stigma sosial terhadap penderita HIV juga memperburuk keadaan serta menghambat mereka dalam mendapatkan pekerjaan dan kehidupan yang layak. Kerusakan ini tidak berhenti di tingkat individu, tetapi merambat hingga ke struktur keluarga dan tatanan sosial. Banyak keluarga yang mengalami disfungsi akibat salah satu anggotanya terinfeksi HIV, baik karena perselingkuhan, penyalahgunaan narkoba, maupun faktor lainnya.

Jadi, pergaulan bebas yang sangat menyimpang pada remaja membuahkan penyakit HIV/AIDS yang mematikan dan berdampak merugikan, baik dari segi pendidikan dan biaya kesehatan. Jika kondisi ini dibiarkan tanpa solusi yang mengakar, tentu akan mengakibatkan peningkatan penyakit tidak terkendali dalam lingkup global.

Solusi Mengakar dalam Prespektif Islam

Pendidikan Islam berbasis akidah bertujuan untuk membentuk siswa yang memiliki kepribadian Islam, yakni pola pikir dan pola sikap yang selalu berlandaskan syariat. Pola pikir Islam terbentuk ketika seseorang memahami dan meyakini bahwa setiap aspek kehidupan harus sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya. Sementara itu, pola sikap Islam tercermin dalam tindakan sehari-hari yang selaras dengan akidah Islam, seperti menjaga kehormatan diri, bergaul sesuai aturan syariat, dan menjauhi perbuatan maksiat.

Sistem Islam yang sempurna dilengkapi oleh solusi yang menyeluruh, salah satunya dalam mencegah dan mengatasi HIV dengan mengatur kehidupan manusia secara sempurna melalui syariat yang telah ditetapkan oleh Allah Swt.. Pencegahan utama dalam penyebaran HIV telah dilakukan sejak dini dalam sistem sosial Islam.

Aturan pergaulan antara laki-laki dan perempuan diatur dengan jelas untuk menjaga kesucian individu dan masyarakat, salah satunya adalah larangan zina. Hal ini tertuang dalam firman-Nya, yakni:

(٣٢) وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنٰىٓ اِنَّهٗ كَانَ فَاحِشَةً ۗوَسَاۤءَ سَبِيْلًا
wa lā taqrabuz-zinā innahụ kāna fāḥisyah, wa sā`a sabīlā

“Dan janganlah kamu mendekati zina; (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk.” (QS Al-Isra’ Ayat: 32).

Masyarakat mendapatkan perlindungan agar tidak mengalami kerusakan moral dengan adanya hukuman/sanksi sesuai syariat Islam. Islam menetapkan sanksi tegas bagi pelaku zina dan penyimpangan s3ksual sesuai dengan hukum hudud yang telah ditetapkan dalam syariat.

Juga, Islam mewajibkan umatnya untuk menjaga kesucian diri, membangun keluarga melalui pernikahan yang sah, serta menjauhi segala bentuk perilaku menyimpang yang dapat merusak kesehatan individu maupun masyarakat. Sistem ekonomi Islam juga menutup celah bagi industri yang mengeksploitasi hawa nafsu, seperti pornografi dan prostitusi yang menjadi salah satu faktor penyebaran penyakit ini.

Namun, semua solusi ini hanya dapat terwujud jika Islam diterapkan secara kafah (menyeluruh) dalam seluruh aspek kehidupan. Tidak hanya dalam tataran individu, tetapi juga dalam sistem pemerintahan dan masyarakat. Oleh karena itu, sudah saatnya umat menyadari bahwa solusi hakiki terhadap berbagai penyakit sosial, termasuk HIV adalah dengan kembali kepada sistem Islam yang mengatur kehidupan berdasarkan wahyu Allah Swt. dengan penerapan Islam secara kafah. [CM/Na]

Views: 36

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *