Gaza Masih dalam Derita, Mereka Salah Apa?

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

Penulis: Ikhtiyatoh
Pegiat Literasi

Penyebab berlarut-larutnya perang Palestina-Israel tidak lain karena penguasa-penguasa muslim yang berkhianat dan bergandengan tangan dengan Israel. Wajar jika rakyat Gaza menunjukkan kekecewaannya terhadap penguasa muslim dunia. Hancurnya wilayah yang diduduki Israel pasca serangan Iran setidaknya mampu membantah narasi ‘militer Israel tidak bisa ditembus’.

CemerlangMedia.Com — Tidak habis pikir, Isra3l belum puas setelah menginvasi Gaza selama dua tahun lebih. Serangan Iran yang menghancurkan wilayah yang diduduki Isra3l urung membuat mereka jera. Kebakaran hebat pada akhir April 2025 yang merusak 4.942 hektare lahan belum menyadarkan Netanyahu akan dosa-dosanya. Pengakuan Palestina sebagai negara merdeka melalui Deklarasi New York juga tidak memengaruhi kebijakan Isra3l untuk mengosongkan Gaza.

Rakyat Gaza Salah Apa?

Lagi-lagi, Isra3l melanggar kesepakatan gencatan senjata yang dilakukan pada (10-10-2025) dini hari di Mesir. Mereka terus menyerang warga Gaza hingga korban terus berjatuhan. Kementerian Kesehatan di Gaza menyebutkan, jumlah korban syuhada setelah gencatan senjata terus meningkat hingga mencapai lebih dari 350 jiwa. Jumlah korban syahid terhitung sejak (7-10-2023) dilaporkan lebih dari 70.000 jiwa. (kompas.com, 30-11-2025).

Jumlah korban yang luar biasa tersebut ternyata belum menghentikan Netanyahu melakukan serangan. Tampaknya, Netanyahu tidak menjadikan akhir hidup Ariel Sharon sebagai pelajaran. Kekejaman si tangan besi tersebut diganjar dengan kondisi stroke dan organ dalam yang membusuk secara bergantian. Ariel koma selama delapan tahun sebelum akhirnya meninggal pada (11-1-2014).

Kecaman warga dari berbagai belahan dunia tidak menyentuh hati Netanyahu. Upaya perundingan hanya menghasilkan retorika dan mentok pada “Two State Solution” yang tidak menyolusi. Deklarasi New York yang mana 142 negara anggota PBB menyetujui secara de facto kemerdekaan Palestina, tidak memengaruhi kebijakan Isra3l. Sampai detik ini, Isra3l masih agresif menangkap, menembaki, dan mengebom warga Gaza.

Dalih apa pun yang dilontarkan pihak Isra3l untuk membela diri, tidak menutupi kenyataan bahwa mereka telah terang-terangan melakukan pembinasaan demi mengosongkan Gaza. Gaung sambut gencatan senjata dan kemerdekaan Palestina yang sempat menggelegar, berujung kecewa. Sampai saat ini, rakyat Gaza yang mayoritas muslim masih berada dalam derita. Mereka salah apa hingga Isra3l tidak menyisakan belas kasih sedikit pun?

Hidup Terkatung-katung

Seharusnya, Yahudi berterima kasih karena di bawah kekhalifahan telah diberikan keleluasaan beribadah. Seperti diketahui, Al-Quds merupakan tempat suci tiga agama samawi, yaitu Yahudi, Nasrani, dan Islam. Pada masa pemerintahan Islam, tembok ratapan sebagai sisa reruntuhan bangunan Haikal Sulaiman dibiarkan tetap ada. Seharusnya, Yahudi Isra3l juga paham bahwa kehancuran Haikal Sulaiman tidak ada kaitannya dengan warga Palestina.

Miris. Isra3l yang memulai konflik, tetapi mengeklaim diri sebagai korban. Mereka datang ke wilayah yang sudah bertuan, merampas tanah, membuat kekacauan, mengusir, hingga melakukan upaya genosida. Penduduk asli yang melawan demi mempertahankan tanahnya seperti Hamas justru dituding sebagai teroris. Upaya Hamas mengusir penjajah dalam Badai Al-Aqso pada (7-10- 2023) dibalas oleh Isra3l tanpa ampun.

Menarik untuk mengulik kembali sejarah Bani Israel yang diklaim Yahudi sama dengan entitas Yahudi Isra3l saat ini. Awalnya, Bani Israel merupakan sebutan untuk keturunan Nabi Yakub bin Ishak bin Ibrahim. Nabi Yakub mendapat julukan Israel yang artinya berjalan bersama Allah karena di masa mudanya suka melakukan perjalanan malam. Nabi Yakub memiliki 12 anak dari empat istri. Yusuf merupakan anak yang paling saleh hingga paling dicintai ayahnya.

Saat Yusuf dibuang ke sebuah sumur oleh saudara-saudaranya, sebuah kafilah menyelamatkannya kemudian dijual di Mesir. Singkat cerita, Yusuf sukses menjadi pejabat di Mesir. Di saat bersamaan, Nabi Yakub dan keluarganya mengalami bencana kelaparan di Kanaan. Allah mempertemukan kembali Yusuf dengan saudara-saudaranya ketika saudaranya meminta bantuan makanan ke Mesir.

Yusuf pun mengundang ayahnya bersama seluruh keluarga yang jumlah sekitar 70 orang untuk menetap di Mesir. Selama tinggal di Mesir, Bani Israel sangat dihormati dan disegani. Namun, ketika Nabi Yusuf dan Nabi Yakub wafat, Bani Israel ditindas dan dijadikan budak. Puncak penindasan terjadi di masa kekuasaan Firaun. Raja yang mengaku sebagai Tuhan tersebut memerintahkan pasukannya untuk membunuh setiap bayi laki-laki dari kalangan Bani Israil.

Perilaku kejam dilakukan karena Firaun mendengar ramalan bahwa keturunan Bani Israel akan menghancurkan kerajaannya. Atas izin Allah, seorang bayi dari Bani Israel lahir selamat dan dibesarkan di dalam istana Firaun. Dialah Musa. Setelah dewasa, Musa tahu bahwa Firaun bukan ayah kandungnya. Allah memerintahkan Nabi Musa untuk mengajak Firaun bertobat. Namun, Firaun tidak mau bertobat meski ditunjukkan banyak mukjizat melalui Nabi Musa.

Ketika Firaun berniat buruk, Allah memerintahkan Nabi Musa membawa Bani Israel ke tanah yang dijanjikan, yaitu Filistin (sekarang Palestina). Orang Yahudi di zaman sekarang mengeklaim jumlah Bani Israel sebanyak 700 ribu orang mengikuti Nabi Musa ke Palestina. Namun, jumlah tersebut dibantah oleh para ulama.

Firaun dan pasukannya mengejar Nabi Musa dan pengikutnya sampai Laut Merah. Seperti sering dikisahkan, Laut Merah terbelah saat Nabi Musa memukulkan tongkatnya. Nabi Musa dan pengikutnya berhasil menyeberangi Laut Merah sedangkan Firaun dan tentaranya ditenggelamkan oleh Allah. Sangat disayangkan, setelah selamat dari kejaran Firaun, Bani Israel justru menyembah patung sapi emas.

Banyak mukjizat dari Allah Swt. yang ditunjukkan melalui Nabi Musa hingga kehidupan Bani Israel dimudahkan selama tinggal di Mesir. Namun, Bani Israel lebih memilih menyembah berhala. Puncaknya, Bani Israel menolak ajakan Nabi Musa untuk berjihad memerangi orang kafir yang ada di Palestina. Bani Israel enggan berjihad saat mengetahui orang-orang Palestina bertubuh besar dan kuat.

Allah berfirman dalam Al-Qur’an surah Al-Maidah ayat 21-22 yang artinya, “Wahai kaumku! Masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu berbalik ke belakang (karena takut kepada musuh), nanti kamu menjadi orang yang rugi.” Mereka berkata, “Wahai Musa! Sesungguhnya di dalam negeri itu ada orang-orang yang sangat kuat dan kejam, kami tidak akan memasukinya sebelum mereka keluar darinya. Jika mereka keluar dari sana, niscaya kami akan masuk.”

Karena membangkang, Allah menjadikan Bani Israel hidup terkatung-katung di padang pasir selama 40 tahun sebagai hukuman. Bani Israel mulai melepaskan diri dari berhala di masa kepemimpinan Yusya’ bin Nun setelah benteng Yerikho ditaklukkan. Wilayah Palestina dibagi oleh Nabi Yusya’ as menjadi 12 bagian sesuai jumlah anak Nabi Yakub. Mereka mendirikan dua kerajaan, yaitu Kerajaan Israel di utara dan Kerajaan Yehuda di selatan.

Haikal Sulaiman dihancurkan oleh Kerajaan Babilonia saat berhasil menaklukkan kedua kerajaan tersebut. Giliran Kerajaan Persia datang menaklukkan Babilonia, Haikal Sulaiman dibangun kembali. Untuk kedua kalinya, Haikal Sulaiman dihancurkan, yaitu ketika Palestina ditaklukkan oleh Romawi. Setelah itu, melalui tangan Salahudin Al Ayubi, muslimin berhasil menaklukkan Romawi.

Setelah itu, umat tiga agama bisa melakukan ibadah di Al Quds. Sayangnya, umat Yahudi kerap membuat masalah hingga diusir dan berpindah-pindah dari satu negara ke negara lain. Muncullah tokoh Teodore Hezl dengan bukunya yang kontroversial, menginginkan adanya negara Yahudi. Hezl menawarkan banyak uang kepada Sultan Hamid II dan meminta sedikit wilayah Palestina demi mendirikan sebuah negara, tetapi ditolak.

Hingga akhirnya, Utsmaniah bergabung dengan blok sentral yang diketuai Jerman melawan blok sekutu Inggris dan Perancis dalam Perang Dunia I. Blok sentral kalah. Sebagai konsekuensi, blok sentral menanggung biaya kerugian perang. Khusus Utsmaniah, wilayahnya dibagi-bagi oleh Inggris sekutu. Melalui perjanjian Balfour, Inggris mempersilakan umat Yahudi dari seluruh penjuru dunia memasuki wilayah Palestina.

Rissing Lion untuk Gaza?

Perlu dipahami bahwa tidak semua pemukim Yahudi Israel saat ini merupakan Bani Israel (keturunan Nabi Yakub), mengingat banyak di antara mereka sudah tercampur dengan warga Eropa dan negara lainnya. Yahudi Israel saat ini lebih tepat disebut sebagai Zi*nis. Mereka tidak memiliki rasa kemanusiaan. Setelah pencapaiannya sampai saat ini, Israel akan mengupayakan segala cara untuk mempertahankan diri sebagai negara yang berdaulat.

Zi*nis Israel tentu tidak ingin hidupnya kembali terkatung-katung tanpa negara. Israel sempat menggaungkan slogan “Rising Lion” atau “Singa Bangkit” saat membalas serangan Iran. Tampaknya, slogan itu sebenarnya ditujukan untuk rakyat Gaza. Sebelumnya, Netanyahu membuat catatan di Tembok Ratapan yang berbunyi, “Lihatlah, bangsa itu akan bangkit seperti seekor singa besar” beberapa jam sebelum menyerang Iran, Kamis (12-6-2025).

Catatan tersebut merupakan kutipan Kitab Bilangan 13:24 sebagai perumpamaan kekuatan dan kekuasaan bangsa Israel layaknya seekor singa yang tidak akan beristirahat sampai merasa kenyang. Artinya, perang akan dilakukan sampai titik darah penghabisan. Mereka tidak peduli akan hujatan masyarakat dunia. Ribuan masyarakat Amerika dan Eropa turun jalan menyerukan ‘Free Palestine’, meski pemerintahan mereka mendukung Israel.

Sungguh, jika warga Gaza mencintai dunia, tampak konyol bertahan di Gaza dan menghadapi Zi*nis yang bengis. Melawan Israel saat ini hanya dihadapkan dengan dua pilihan, yaitu tewas atau hidup dengan tubuh cacat. Kekuatan ruh dan keyakinan kuat bahwa ‘melindungi tanah Palestina adalah kewajiban’ menjadikan rakyat Gaza mampu menahan perih dan sakitnya penderitaan akibat gempuran bom dan bencana kelaparan.

Mirisnya, di tengah penderitaan panjang rakyat Gaza dan Palestina, pemimpin negeri muslim lebih banyak memilih menjadi penonton. Bahkan, penguasa muslim yang berbatasan langsung dengan Gaza pun bungkam. Lihatlah, ribuan orang berkumpul dari berbagai belahan dunia ke Kairo, Mesir untuk membuka blokade Gerbang Rafah. Hati penguasa Mesir belum juga terketuk dengan aksi Global March to Gaza tersebut.

Tampak jelas bahwa penyebab berlarut-larutnya perang Palestina-Israel tidak lain karena penguasa-penguasa muslim yang berkhianat dan bergandengan tangan dengan Israel. Wajar jika rakyat Gaza menunjukkan kekecewaannya terhadap penguasa muslim dunia. Hancurnya wilayah yang diduduki Israel pasca serangan Iran setidaknya mampu membantah narasi ‘militer Israel tidak bisa ditembus’.

Jika penguasa muslim di dunia bersatu, tamatlah Israel. Sayangnya, mereka terkena wahn (cinta dunia dan takut mati). Lisan para penguasa muslim selalu menyatakan membela Palestina. Namun, perilaku dan sikap mereka bertolak belakang. Giliran muslimin menginginkan kembalinya Khil4f4h, upaya propaganda digencarkan. Palestina optimis merdeka, tetapi hanya dengan jihad di bawah kepemimpinan Islam syar’i yang mengikuti metode kenabian.

Wallahu a’lam bisshawab.

Views: 37

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *