Penulis: Zakiah Ummu Faaza
Solusi tuntas atas permasalahan bencana banjir dan hilangnya keberkahan hujan adalah dengan mencampakkan sistem buatan manusia yang rusak dan merusak. Kemudian segera kembali kepada sistem yang benar, sesuai dengan fitrah dan akal manusia, yaitu sistem Islam yang diterapkan secara keseluruhan dalam setiap aspek kehidupan.
CemerlangMedia.Com — Hujan merupakan rahmat yang diberikan oleh Allah kepada semua makhluk untuk melangsungkan kehidupannya. Tatkala hujan turun, sering kali doa terucap, “Ya Allah, turunkanlah kepada kami hujan yang bermanfaat.” Namun, keberkahan dan manfaat hujan kini telah hilang, berubah menjadi bencana dan kerusakan lingkungan bagi masyarakat.
Menurut Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bogor, banjir melanda beberapa wilayah di Kota Bogor. Beberapa wilayah yang terkena banjir, di antaranya Kecamatan Bogor Utara, tebing di pinggir Jalan Tanah Baru, Kecamatan Bogor Utara, dapur warga rusak di Pasir Jaya, Kecamatan Bogor Barat (JawaPos.com, 6-7-2025).
Mahalnya Rasa Aman
Hujan deras yang membasahi Kota Bogor pada Sabtu malam (5-7-2025), yang memicu bencana alam telah membuat warga panik. Delapan kejadian bencana dilaporkan terjadi hanya dalam satu malam. Berbagai Fenomena kerusakan alam, seperti banjir, longsor, dan pohon tumbang menjadi bencana berulang setiap kali Kota Bogor diguyur hujan deras.
Tingginya curah hujan di Kota Bogor memang sudah menjadi kehendak Allah, Rabb semesta alam yang tidak dapat diubah karena sudah menjadi qada-Nya. Namun, mitigasi bencana dapat dilakukan oleh negara semaksimal mungkin agar masyarakat aman dari berbagai bencana sehingga hujan tersebut tidak menyebabkan kemudharatan dan bencana.
Sistem Kapitalisme Penyebabnya
Berbagai bencana yang muncul tatkala hujan turun di kota Bogor, tentunya menimbulkan kerugian, kerusakan lingkungan dan menghambat keberlangsungan hidup masyarakat. Jika dibiarkan begitu saja hingga berlarut-larut tanpa adanya penanganan yang tepat, maka keselamatan masyarakat akan terus terancam.
Sistem kapitalisme yang diterapkan adalah penyebab hilangnya keberkahan hujan. Sistem kapitalisme yang berlandaskan keuntungan semata tidak mempedulikan akibatnya. Sistem ini lebih mengutamakan sektor ekonomi daripada sektor-sektor lainnya. Begitu pula dengan mitigasi bencana, menjadi hal yang diabaikan.
Sistem kapitalisme yang mengejar materi telah menyuburkan pembangunan tempat-tempat wisata, restoran, hotel, vila, perumahan dan sebagainya secara masif. Pembangunan ini mengejar manfaat saja tanpa memperhatikan dampaknya. Akibatnya, lahan untuk resapan air menjadi berkurang.
Negara sebagai pengurus rakyat seharusnya memberikan perlindungan bagi masyarakat dari berbagai bencana pada saat turun hujan, salah satunya dengan mengatur tata kelola pembangunan dengan mempertimbangkan terlebih dahulu dampak yang ditimbulkan bagi lingkungan dan masyarakat. Sayangnya, pada sistem ini, negara tidak mampu mewujudkannya.
Solusinya Hanya Islam
Islam merupakan agama sekaligus mabda yang mengatur seluruh sendi kehidupan dengan sempurna. Islam bukan hanya mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya saja, tetapi juga mengatur hubungan antara sesama manusia, serta manusia dengan lingkungannya sesuai dengan aturan syariat, termasuk dalam permasalahan bencana.
Islam akan mencegah bencana alam yang disebabkan tata kelola pembangunan seenaknya. Sebab, pembangunan dalam Islam bersifat adil dan merata bagi seluruh lapisan masyarakat dengan memperhatikan aspek kebutuhan dan pelestarian lingkungan. Oleh karenanya, turunnya hujan akan benar-benar mendatangkan keberkahan bagi manusia.
Bencana alam yang membuat khawatir masyarakat tidak akan terjadi karena dalam sistem Islam, seorang pemimpin lebih mengutamakan kepentingan rakyat. Pembangunan sarana dan prasarana akan mengutamakan tata kelola dari sisi keamanan, keselamatan, dan kenyamanan masyarakat daripada perekonomian sehingga masyarakat akan beraktivitas dengan tenang.
Islam memandang, pengelolaan mitigasi bencana sebagai bagian dari kewajiban manusia terhadap alam dan makhluk lainnya. Mitigasi bencana dalam Islam berdasarkan pada prinsip-prinsip syariat.
Dalam Islam, mitigasi bencana adalah amanah dari Allah, sebagaimana Allah Swt. memberikan amanah pada manusia untuk menjadi khalifah di bumi,
“(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi….” (QS Al-Baqarah:30).
Oleh karena itu, manusia berkewajiban mengelola bumi dengan sebaik-baiknya, termasuk mencegah kerusakan yang dapat memperbesar risiko bencana. Mitigasi bencana juga merupakan tanggung jawab manusia untuk menjaga kelestarian alam dan keseimbangan makhluk hidup.
Islam melarang segala bentuk kerusakan (fasad) di muka bumi, sebagaimana dalam QS Ar-Rum ayat 41, Allah Swt. berfirman, “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”
Selain itu, menjaga jiwa merupakan salah satu tujuan utama syariat. Untuk itu, pembangunan yang aman dan layak, sistem peringatan dini, dan melatih masyarakat merupakan kewajiban negara dalam upaya melindungi manusia dari risiko kematian atau kerugian akibat bencana.
Tentunya kehidupan manusia akan tenang dan tenteram jika terjamin kehidupannya. Keberkahan dari langit ini jika beriringan dengan dengan sistem yang benar akan memberi manfaat. Sistem yang benar adalah yang mampu mengurusi masyarakat, salah satunya mengatur tata letak pembangunan sarana dan prasarana yang sesuai dengan aturan syariat.
Oleh karenanya, perlu disadari bersama bahwa solusi tuntas atas permasalahan bencana banjir dan hilangnya keberkahan hujan adalah dengan mencampakkan sistem buatan manusia yang rusak dan merusak. Kemudian segera kembali kepada sistem yang benar, sesuai dengan fitrah dan akal manusia, yaitu sistem Islam yang diterapkan secara keseluruhan dalam setiap aspek kehidupan. Alhasil, masyarakat hidup dalam keamanan dan ketenangan. [CM/Na]
Views: 35






















