MBG: Ingin Sehatkan Generasi atau Sekadar Pencitraan?

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

Penulis: Yanti Fariidah
Founder Rumah Pintar ZR Magelang

Dengan penghasilan yang layak, orang tua dapat membeli makanan terbaik tanpa harus menunggu belas kasihan bantuan pemerintah. Hal ini dibarengi dengan kebijakan menjaga stabilitas harga pangan, yakni negara melarang praktik penimbunan (ikhtikar) yang merusak pasar sehingga kebutuhan pokok tetap murah dan terjangkau oleh semua lapisan masyarakat.

CemerlangMedia.Com — Persoalan anak kurang gizi atau stunting sejatinya bukan sekadar masalah tinggi badan, melainkan sebuah pertaruhan masa depan peradaban. Peluncuran program Makan Bergizi Gratis (MBG) setahun yang lalu sempat memunculkan harapan besar bahwa anak-anak akhirnya mendapatkan perhatian yang layak dari negara.

Namun, setelah setahun berjalan, rasa optimisme tersebut perlahan berubah menjadi kekhawatiran yang mendalam. Program dengan anggaran yang luar biasa fantastis ini justru diwarnai dengan berbagai persoalan pelik di lapangan.

Realita di Lapangan: Sebuah Catatan Merah

Rapor program MBG sepanjang tahun 2025 menunjukkan hasil yang memprihatinkan. Ada beberapa fakta yang sulit dinalar oleh logika sehat.
Pertama, distribusi yang dipaksakan. Berdasarkan pemberitaan (Kompas TV, 23-12-2025), pemerintah tetap membagikan paket makan gratis saat sekolah sedang memasuki masa libur akhir tahun. Secara logika, ketika sekolah tutup dan anak-anak berada di rumah, tidak ada jaminan bahwa makanan tersebut benar-benar sampai ke tangan mereka dalam kondisi segar dan layak konsumsi.

Kedua, ancaman keamanan pangan. Sepanjang tahun 2025, kabar duka mengenai keracunan massal kerap terdengar. Data dari Komnas PA (Detik, 02-01-2026) mencatat, lebih dari 7.000 anak mengalami keracunan yang diduga kuat bersumber dari menu makan gratis ini. Angka ini sungguh mengkhawatirkan. Belum lagi persoalan kebersihan wadah yang sempat memicu protes warga di berbagai daerah.

Ketiga, beban anggaran yang selangit. Laporan Harian Kontan (18-12-2025) menyebutkan bahwa anggaran MBG untuk tahun 2026 diproyeksikan menembus Rp335 triliun. Angka ini sangat besar, terutama saat negara membutuhkan dana darurat untuk penanganan bencana alam. Muncul pertanyaan mendasar: apakah anggaran sebesar itu sebanding dengan hasil jika kenyataannya, angka kurang gizi tetap menghantui anak-anak?

Mengurai Akar Masalah di Balik Program

Jika ditelaah lebih dalam, persoalan MBG bukan sekadar masalah teknis distribusi. Masalah yang jauh lebih mendasar adalah niat yang tampak hanya mementingkan tampilan luar. Program ini terkesan dipaksakan agar pemerintah terlihat “bekerja”.

Membagikan paket makanan adalah cara paling instan untuk didokumentasikan sebagai bentuk kepedulian di media sosial. Padahal, kesehatan anak bukan terkait merasa kenyang dalam sehari demi sebuah foto, melainkan terkait asupan gizi jangka panjang yang tidak bisa diselesaikan secara seremonial.

Kondisi ini diperparah dengan dugaan bahwa anggaran ratusan triliun tersebut menjadi celah bisnis bagi pihak-pihak tertentu. Uang rakyat dalam jumlah besar ibarat gula yang mengundang semut. Proyek dapur umum hingga pengadaan bahan pangan berpotensi menjadi ajang mencari keuntungan bagi pengusaha yang memiliki kedekatan dengan kekuasaan.

Akibatnya, demi mengejar margin keuntungan, kualitas makanan menjadi nomor dua. Ironisnya, anak-anak yang harus menanggung dampaknya, mulai dari menu yang tidak layak hingga keracunan massal.

Pola pikir pemerintah saat ini cenderung “memberi ikan tanpa memberikan kail”. Rakyat seolah dibiasakan bergantung pada jatah makanan gratis daripada diberdayakan untuk mandiri. Padahal, martabat orang tua akan jauh lebih terjaga jika mereka mampu menyediakan makanan sehat untuk buah hati dari hasil kerja keras sendiri melalui lapangan kerja yang luas.

Solusi Hakiki: Mengurus Rakyat dengan Iman

Islam menawarkan konsep kepemimpinan yang jauh lebih mulia dan tulus dalam mengurus rakyatnya melalui sistem yang komprehensif. Landasannya adalah kepemimpinan yang bertanggung jawab sebagai bentuk ibadah kepada Allah Swt..

Rasulullah saw. mengingatkan dalam hadisnya, “Imam (pemimpin) itu adalah pengurus rakyat dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyat yang diurusnya.” (HR Al-Bukhari).
Dengan kesadaran akan amanah ini, negara tidak akan pernah membiarkan kualitas pelayanan rakyatnya, apalagi terkait gizi karena ada pertanggungjawaban di akhirat kelak.

Selanjutnya, Islam menyelesaikan masalah gizi dari akarnya dengan mewajibkan negara menyediakan lapangan pekerjaan bagi para kepala keluarga, sebagaimana Allah Swt. memerintahkan untuk mencari karunia-Nya, “Maka bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah karunia Allah.” (QS Al-Jumu’ah: 10).

Dengan penghasilan yang layak, orang tua dapat membeli makanan terbaik tanpa harus menunggu belas kasihan bantuan pemerintah. Hal ini dibarengi dengan kebijakan menjaga stabilitas harga pangan, yakni negara melarang praktik penimbunan (ikhtikar) yang merusak pasar sehingga kebutuhan pokok tetap murah dan terjangkau oleh semua lapisan masyarakat.

Negara juga wajib memberikan edukasi bagi kaum ibu mengenai pengetahuan pola asuh dan gizi secara cuma-cuma. Tujuannya adalah menjalankan perintah Allah untuk tidak meninggalkan generasi yang lemah.

“Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)nya.” (QS An-Nisa: 9).
Dengan pola ini, kesejahteraan anak-anak terjaga secara alami melalui kemandirian ekonomi keluarga dan jaminan harga pangan yang stabil, bukan melalui ketergantungan pada paket bantuan yang rawan dipolitisasi.

Generasi Kuat Butuh Kebijakan Bermartabat

Setahun perjalanan MBG mengajarkan bahwa dana yang melimpah tidak akan membawa berkah jika niat dan caranya keliru. Selama kebijakan hanya dijadikan panggung pencitraan atau ladang bisnis, masa depan generasi tetap menjadi taruhannya.

Sudah saatnya beralih dari solusi yang hanya “bagus di kemasan” menuju solusi yang menyentuh akar masalah. Dibutuhkan negara yang benar-benar melayani dengan berani membuka lapangan kerja dan menjaga kedaulatan pangan, bukan sekadar membagikan paket makanan demi sebuah popularitas yang semu. [CM/Na]

Views: 24

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *