Oleh. Neni Nurlaelasari
(Kontributor CemerlangMedia.Com)
CemerlangMedia.Com — Jemaah haji mulai berdatangan ke tanah air, tanda rangkaian ibadah haji telah usai dilaksanakan. Sujud syukur dan tangis para jemaah pecah saat mendarat dengan selamat di bandara. Namun, penampakan berbeda terjadi pada jemaah wanita dari Makassar. Mereka berdandan nyentrik, menggunakan baju mewah dan kerudung yang penuh manik-manik. Dan videonya pun viral beredar di media sosial. Selain itu, tampak pula salah seorang jemaah wanita yang memakai kalung dan gelang emas berukuran besar (Liputan6.com, 8-7-2023).
Menanggapi hal itu, pihak bea cukai Makassar mendatangi kediaman wanita yang viral memamerkan perhiasan saat mendarat di Bandara Internasional Sultan Hassanudin Makassar. Dari hasil penyelidikan terungkap bahwa perhiasan yang dipamerkan bukanlah emas, tetapi hanya imitasi yang dibeli seharga Rp900 ribu. Dengan demikian dipastikan bahwa tindakannya tidak akan dikenakan pajak bea masuk dan pajak barang impor (detikNews.com, 11-7-2023). Akan tetapi di sisi lain, aksi ini mengundang nyinyiran dan komentar negatif dari para netizen. Lantas, mengapa perilaku ini dapat terjadi?
Pamer Materi Bukti Rusaknya Sistem Kehidupan
Haji adalah rangkaian ibadah yang sakral. Tidak semua orang dapat kesempatan memenuhi panggilan Allah ini. Bahkan di Indonesia sendiri, gelar haji juga turut disematkan kepada mereka yang telah berhasil menunaikannya. Dan tak jarang sepulangnya dari tanah suci, para jemaah haji akan memiliki rasa bangga. Kondisi ini adalah gambaran indikasi pergeseran pandangan dalam memaknai ibadah haji saat ini. Dan inilah yang menjadi faktor dan berpengaruh terhadap perilaku para jemaah, salah satunya pamer barang yang di belinya dari tanah suci.
Pamer materi yang dilakukan oleh jemaah haji tak lepas dari rusaknya sistem kehidupan yang diterapkan. Sistem kapitalisme yang memuja kesuksesan berdasarkan materi membuat manusia berlomba demi eksistensi diri. Sementara itu, sekularisme sebagai sistem yang memisahkan agama dari kehidupan menjadikan kaum muslim hanya mengambil Islam dari aspek ibadah semata. Maka tak jarang dijumpai umat Islam yang masih berperilaku yang tidak sesuai syariat Islam.
Selain itu, virus liberalisme pun merasuk dalam tubuh kaum muslim. Di mana kebebasan tanpa batas diagungkan atas nama hak asasi. Alhasil, perilaku apa pun selama tak merugikan pihak lain dianggap sah-sah saja. Hal ini menihilkan rasa empati pada orang lain yang hidup dalam kondisi memperihatinkan. Maka patutlah jika perilaku tak terpuji lahir akibat sistem yang diadopsi dalam kehidupan jauh dari tuntunan Islam.
Haji Penggerak Perubahan
Dalam pandangan Islam, ibadah haji adalah wajib bagi yang mampu secara fisik dan perbekalan. Ritual ibadah haji merupakan gambaran jika harta, tahta dan segala atribut dunia ditanggalkan dan semua memutih (berihram) tunduk mengikuti aturan Islam. Mengakui hanya Allah-lah yang Maha Segalanya, sementara manusia hanyalah hamba yang tak pantas sedikit pun untuk menyombongkan diri.
Ibadah haji dalam pandangan Islam tak hanya sebatas mendapatkan kepuasan spiritual semata, tetapi juga mengandung dimensi politik (siyasah). Jika berkaca pada sejarah, haji merupakan simbol persatuan kaum muslim seluruh dunia. Bahkan pada masa penjajahan Belanda, jemaah yang pulang dari tanah suci memiliki spirit jihad fisabilillah melawan segala bentuk kezaliman termasuk penjajahan.
Hal inilah yang ditakutkan Belanda kala itu sehingga menyematkan julukan haji untuk menandai orang yang dianggap berbahaya. Sementara itu, pada musim haji pula Rasulullah dibaiat kaum Anshar yang mengikrarkan ketundukan pada Islam. Selepas peristiwa baiat ini, tak lama Rasulullah pun hijrah ke Madinah untuk menerapkan sistem Islam.
Dengan demikian, seharusnya jemaah haji tak hanya meningkatkan kualitas ketakwaan, tetapi ikut berperan dalam tegaknya dinul Islam agar sepulang dari tanah suci mendapatkan predikat haji mabrur, yang hanya tunduk pada aturan Allah semata dan mendapatkan balasan surga. Sebagaimana hadis Rasulullah saw.,
“Haji mabrur tidak ada balasannya kecuali surga.” (HR al-Bukhari dan Muslim)
Maka sudah selayaknya jemaah haji menularkan spirit Islam, semangat persatuan, dan bergerak agar Islam bisa diterapkan secara kafah (menyeluruh) dalam segala aspek kehidupan. Bukan sebaliknya, sibuk dengan materi yang dimiliki dan menampakkannya demi eksistensi diri sehingga sakralnya haji ternodai. Wallahu alam bisshawwab. [CM/NA]
Views: 26






















