Oleh. Nunik Umma Fayha
CemerlangMedia.Com — Bagi Gen X dan Gen Y pasti pernah mengenal, minimal mendengar telenovela. Drama seri dari Amerika Latin yang menjadi tontonan yang ditunggu sampai kisaran 2000-an. Kisahnya berkisar percintaan, perselingkuhan yang menyebabkan kerusakan nasab. Persis drakor sekarang, bahkan sinetron lokal pun kini ikut mengisahkan.
Saat itu saya sudah berpikir kejadian seperti dalam telenovela ini bisa terjadi di sini kalau anak muda tidak dijaga adab dan akhlaknya.
Saat ini kerusakan moral sudah luar biasa. Tindak asusila sudah makin mengerikan. Perzinahan menjadi hal lumrah di kalangan tertentu. One night stand bahkan pernah dibahas secara terbuka di sebuah acara talkshow di televisi.
Kasus artis yang tetiba digugat nafkah untuk anak yang tiba-tiba dibawa wanita dari masa lalunya adalah contoh nyata.
Belum lagi terkuaknya kasus inses baru-baru ini. Seorang ayah tega menzinahi anaknya sampai harus aborsi berkali-kali. Astaghfirullah.
Generasi
Merusak generasi sudah dilakukan para pembenci Islam sejak lama. Pemuda Islam digelontor berbagai kesenangan baik itu berupa fun, fashion, food, sport, dan faith juga diobok-obok dengan moderasi.
Seperti halnya Arab Saudi yang lebih memilih mempunyai pemain kelas dunia seperti Ronaldo. Selebriti sepak bola ini mendapat priviledge tinggal di Arab Saudi bersama ‘istri’ yang tidak dinikahi dan 4 orang anaknya setelah dia resmi dikontrak klub sepak bola Arab Saudi, Al Nassr. Beberapa pemain kelas dunia sebelumnya sudah mendahului Ronaldo hijrah ke Arab Saudi. Klub Al Hilal dan Al Nassr memberikan gaji tertinggi dan fasilitas mewah bagi mereka, demikian dikutip cnbc.com dari ESPN (6-6-2023).
Kepiawaian dalam permainan bola dan keflamboyanannya membuat Ronaldo memiliki banyak penggemar.
Para penggemar seleb seperti ini kadang membabibuta menyanjung, menganggap baik dan benar apa pun yang idolanya lakukan, bahkan menirunya. Khusus Ronaldo yang dikenal pembelaannya atas Islam dan umat Islam, meski dia bukan muslim, menambah kuat candu atasnya.
Mereka tidak hanya melihat, tetapi juga menemukan sosok idola di sana. Artis, atlit, atau siapa pun yang keren menurut pemikiran mereka atau gank mereka. Para idola yang tidak hanya dikagumi, tetapi banyak juga yang berusaha menirunya. Baik atau buruk yang dilakukan idola selalu tampak baik di mata mereka. Mengimitasi pandangan maupun gaya hidup para idola seakan menjadi pola perilaku para fans mania.
Gen Z khususnya dan generasi setelahnya adalah generasi yang melek teknologi informasi. Mereka native technology. Hidupnya seperti melekat pada gawai. Semua hal dicari atau diunggah melalui gawai. Mereka lebih suka dan lebih percaya apa yang ditampilkan gawai daripada mencari kebenaran dari buku atau melalui kajian keislaman.
Kehidupan Liberal para Seleb vs. Islam
Kecepatan informasi di media online ikut memengaruhi pandangan umum. Kasus Ronaldo dan ‘keluarga’ yang mendapat priviledge tinggal di Arab Saudi meski dia hidup serumah tanpa nikah, ditambah pemahaman umum bahwa Arab Saudi adalah negeri Islam bisa membuat pandangan tentang hidup bersama tanpa menikah seperti yang dilakukan Ronaldo adalah boleh dan baik-baik saja. Padahal Islam memiliki aturan yang jelas dalam hubungan lelaki dan perempuan. Ada larangan ikhtilat, khalwat, harus menjaga aurat dan bagaimana mengelola gharizah nau atau naluri menyukai lawan jenis.
Perbedaan dalam menyikapi ketertarikan pada lawan jenis membuat perbedaan dalam bersikap. Bagi masyarakat sekuler, hal ini dianggap sebagai kebutuhan jasmani sehingga harus segera dipenuhi.
Berbeda dengan Islam yang menempatkan ketertarikan ini sebagai gharizah/naluri yang muncul bila mendapat rangsangan dari luar sehingga hal-hal yang berpotensi menyebabkan rangsangan akan dijaga. Tontonan bersifat pornoaksi, pornografi tidak diperbolehkan. Negara ikut menjaga dan memilah tontonan sehingga generasi terhindar dari tontonan yang meresahkan dan merusak. Tidak seperti saat ini, semua bebas mengakses tontonan porno yang iklannya pun masuk ke semua link tanpa bisa dihindari.
Gharizah nau, pemenuhannya diatur dengan sempurna dalam Islam. Bila belum mampu, maka ada tahapan yang harus dilakukan agar tidak mengganggu ketahanan diri. Bila sudah mampu ada hak dan kewajiban yang juga harus dilaksanakan.
Semua aturan itu semata-mata untuk kebaikan umat manusia. Nasab dijaga. Ikhtilat, khalwat dihindari karena Allah telah melebihkan derajat manusia di atas makhluk lain karena manusia sebaik-baiknya ciptaan, “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (QS At-Tin: 4)
Jangan sampai kita melakukan perbuatan yang membuat derajat kita lebih rendah dari binatang ternak yang hidupnya hanya dihargai sebatas kesehatan, bobot, dan apa yang dihasilkannya.
Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam QS Al A’raf: 179,
“Dan sungguh, akan Kami isi neraka Jahanam banyak dari kalangan jin dan manusia. Mereka memiliki hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka memiliki mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah.”
Manusia hendaknya tidak hanya melihat hidup secara materi. Silau pada apa yang dilihat. Meniru tanpa mengkritisi perilaku para idola. Jangan seperti bebek yang hanya mengikuti apa pun yang dilakukan pemimpinnya. Manusia pun harus kritis dengan idolanya. Bahwa mereka manusia biasa yang bila tidak terisi dan terasah imannya, perilakunya bisa menjatuhkan derajatnya sampai di bawah derajat hewan ternak.
Sungguh tidak ada satu pun aturan Allah yang tidak membawa maslahat bagi umat. Dan aturan itu membutuhkan institusi kekuasaan untuk menjalankannya. Institusi yang menjaga keimanan umat yaitu institusi yang menggunakan aturan Allah dalam semua aspeknya. Wallahu a’lam [CM/NA]
Views: 17






















