Oleh: Nurul Aryani
CemerlangMedia.Com — PUISI
Sebuah bukit di desa nun jauh
Hilang tidak dalam semalam
Tambang timah merenggut napasnya
Alat berat mencabik kulitnya
Kesepakatan merobek denyut nadinya
Primata ketakutan hilang rumah juga kawanan
Burung pontang-panting mencari pengungsian
Adapun pohon, ke mana ia akan bepergian?
Tanah kita
Tempat mengadu nasib kita
Hilang ditelan kerakusan
Terpenggal oleh kekuatan
Mati karena kebungkaman
Tanah kecil kami
Rumah sederhana kami
Kini terbungkus dalam kenangan
Pilu sungguh
Lukamu menganga
Namun, orang merasa baik-baik saja
Seonggok tanah di desa sana
Ia hilang termakan kerakusan
Kelak pun terlupa dimakan zaman
Lantas, ribuan tahun ke depan,
Akankah bukit itu dianggap khayalan?
Tanah kecil itu,
Bukan hanya rumah bagi primata,
Tetapi tanah di mana ayah kami mencari nafkah
Kali ini ia hilang,
Tetapi lain kali tidak boleh lagi
Bangka Belitung, Juni 2025
*Sebuah puisi refleksi untuk sebuah bukit yang “hilang” karena tambang timah. [CM/Na]
Views: 24






















