Otak Bulus Lelaki

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

#30HMBCM

Penulis: Nur Rahmawati, S.H.
Bab 7 Modus Syahwat Berbungkus Dakwah

CemerlangMedia.Com, FAKSI — (Analogi Dakwah Palsu yang Tujuannya Syahwat, Bukan Syariat)

Ada satu “aliran dakwah” baru yang sekarang cukup marak: bukan dakwah murni, bukan dakwah ilmiah, bukan dakwah karena Allah…
tapi dakwah beraroma syahwat.

Ini bukan hal baru sebenarnya.
Dari dulu selalu ada orang yang memakai agama bukan sebagai petunjuk, tapi sebagai kosmetik.

Bedanya, zaman sekarang kemasannya lebih rapi: ada template dakwah, ada kutipan hadis, ada latar musik religi, dan ada pembacaan ayat dengan nada mendayu.

Semua tampak islami…
sampai kamu sadar bahwa target dakwahnya bukan hati manusia, tapi hatinya perempuan tertentu.

Sekarang banyak lelaki sowan ke DM perempuan dengan kalimat:
“Ukhti, izinkan saya menasihati…”

Padahal lebih tepatnya:
“Ukhti, izinkan saya mendekati…”

Ada yang kirim potongan ayat, padahal yang ia incar bukan pahalanya, tapi balasan chat dari perempuan yang ia kagumi diam-diam.

Ada pula yang rajin sekali mengingatkan tentang hijab, tapi intensitasnya hanya untuk satu wanita saja.

Kalau dia benar peduli, mestinya dakwahnya untuk semua, bukan personal dan penuh tanda tanya.

Ada yang suka kirim voice note tausiyah, tapi entah kenapa suaranya mendadak lembut seperti ingin menenangkan jiwa atau membuka celah perasaan.

Kalimat-kalimatnya terdengar religius, tapi rasanya ada sesuatu yang “menggelitik” jiwa:
bukan keimanan yang bangkit, tapi kecurigaan.
Allah sudah memperingatkan sejak awal:

“Di antara manusia ada yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan ia mempersaksikan kepada Allah apa yang ada dalam hatinya, padahal ia adalah penantang yang paling keras.” (QS. Al-Baqarah: 204)

Kalimatnya manis.
Gayanya seperti orang alim.
Tapi niatnya busuk.

Ayat ini bukan hanya tentang penipu dunia usaha, tapi juga penipu yang memakai agama untuk keuntungan pribadi termasuk keuntungan syahwat.

Ada beberapa ciri dakwah yang sebetulnya adalah modus:
1. Dakwahnya Personal, Bukan General. Kalau nasehatnya memang untuk kebaikan, mengapa dikirim ke satu perempuan saja?
Kenapa tidak diposting umum?
Kenapa tidak disampaikan di majelis?
Karena tujuannya bukan menyebar kebenaran.
Tujuannya menjaga perhatian perempuan itu agar tetap tertahan di arahnya.

2. Menyentuh Ranah Emosional. Katanya ingin “mengingatkan tentang akhirat”, tapi caranya penuh perhatian personal yang memancing perasaan:
“Ukhti, saya perhatikan akhir-akhir ini kamu terlihat letih. Jangan lupa jaga hati, ya.”
Kalimat itu bukan nasihat.
Itu kode.

3. Menyamar sebagai Wali Padahal Jauh dari Tanggung Jawab. “Mungkin kamu butuh teman cerita.”

“Saya ingin menjaga kamu dari laki-laki yang salah.”

Ironisnya, dia sendiri adalah ujian itu.
Dakwah murni tidak membuat wanita bergantung. Dakwah syahwat justru sengaja menciptakan keterikatan.

Islam mengajarkan bahwa dakwah harus bersih.
Bersih dari riya’, bersih dari kepentingan dunia, dan terutama bersih dari syahwat.
Rasulullah Saw bersabda:

“Sesungguhnya amal itu tergantung pada niat.”
(HR. Bukhari)

Kalau niatnya sudah salah, amalnya tidak akan bernilai apa pun. Kalau dakwahnya untuk mendekati perempuan, maka itu bukan dakwah itu rayuan berkostum syariat.

Analogi sederhananya begini:
Dakwah palsu itu seperti kue yang kelihatannya enak, tapi isi dalamnya adalah racun.

Warnanya cantik, aromanya sedap, tapi siapa pun yang mencicipinya tidak akan sadar bahwa ia sedang menelan bahaya perlahan-lahan.
Ia juga seperti api kecil yang disembunyikan di bawah tikar. Tidak terlihat, tapi membakar rumah secara perlahan.

Atau seperti serigala berbulu domba.
Bicaranya lembut, kutip ayat sana-sini, tapi ujungnya ingin mendekat, mengambil hati, dan menjerat dengan perasaan.

Dakwah sejati mengangkat derajat wanita.
Dakwah palsu menjerumuskan wanita dalam jebakan cinta tanpa kepastian.

Sebagian perempuan sering bingung,
“Dia ini berdakwah atau flirting?”
Sederhana, ukhti:
Dakwah itu menuntunmu ke taat, bukan ke chatting setiap malam.

Dakwah itu membuatmu lebih takut Allah, bukan lebih menunggu perhatian.

Dakwah itu menghadirkan wali, bukan meningkatkan intensitas obrolan personal.

Dakwah itu mengarah ke akad, bukan memperdalam perasaan tanpa kepastian.

Kalau dia mengajakmu mengingat Allah tapi tidak pernah mengarah ke akad, itu bukan dakwah itu umpan syahwat yang dibumbui ayat.
Sebab, laki-laki yang benar-benar beriman tahu bahwa nasihat antara lawan jenis harus dijaga batasnya.

Ia akan bicara jelas, tidak berputar-putar, dan tidak memancing hati. Ia tidak akan memakai agama untuk membuka pintu kemaksiatan. Karena syahwat yang diselimuti dalil tetaplah syahwat. Tidak berubah menjadi ibadah hanya karena dikutipkan ayat.

Untuk para perempuan, ingat:
Jangan mudah luluh pada lelaki yang melafalkan ayat dengan suara selembut kapas.
Karena ada ayat yang dibaca untuk mendekat pada Allah, dan ada ayat yang dibaca untuk mendekat pada dirimu.

Jangan menilai kesalehan dari kefasihan menyebut dalil, tapi dari komitmennya menjaga batas. Perhatikan apakah ia ingin menyelamatkan imanmu, atau justru diam-diam ingin menyelundup ke dalam hatimu. Dan untuk para lelaki:
Jika benar ingin menasihati, lakukan dengan adab.

Jika benar ingin membimbing, lakukan tanpa tipu daya.

Jika benar ingin mencintai, lakukan dengan cara yang Allah ridai.

Karena dakwah bukan permainan. Dan syariat bukan selimut untuk menutupi syahwat. Dakwah itu amanah, bukan alat.

Bab ini hanya mengajak kita jujur: apakah dakwah kita mengangkat manusia mendekat kepada Allah, atau hanya mendekatkan kita pada seseorang yang kita inginkan? Karena dakwah palsu adalah jalan licin yang akhirnya menyeret kita, bukan menuju surga, tapi menuju keegoisan yang dibungkus kesalehan palsu.

(*Naskah ini original, tidak disunting oleh editor CemerlangMedia) [CM/Na]

Views: 45

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *