Lumba-Lumba dan Hiu

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

#30HMBCM

 

Penulis : Dini

CemerlangMedia.Com, FABEL — Di dasar lautan yang dalam. Tampak seekor hiu kecil sedang berenang dengan cepat. Seolah sedang menghindar dari sesuatu. Sesekali dia menyelinap masuk ke celah celah batu karang yang kokoh di sekeliling lautan.

Hampir saja dia tertangkap sekawanan ikan dan gurita yang sedang berenang.

Entahlah, para penghuni lautan itu bila bertemu dengannya seolah ingin membinasakannya.

Sebenarnya, bukan salah mereka bila membencinya seperti itu, karena bagaimanapun juga para ikan itu juga merasa sedih, marah dan takut telah kehilangan anggota keluarganya. Akibat ulah dari sekawanan ikan hiu. yang sering memangsa mereka.

” Nah, itu dia,” tiba-tiba terdengar sebuah seruan dari balik karang.

Seekor ikan pari yang lebih besar darinya tiba-tiba muncul dari sela-sela batu karang yang gelap.

Bergegas hiu kecil itu berlari keluar dari balik batu karang. Dia berupaya berenang secepat mungkin menghindar dari kejaran ikan pari itu.

Untungnya, lautan cukup sepi dari penghuni lautan yang lain. Sehingga hiu kecil itu berhasil lolos dari serangan ikan pari itu.

Sambil terus waspada mengawasi sekitarnya, ikan hiu itu berenang untuk mencari kawanan hiu yang lain.

Dirinya telah kehilangan rombongan ikan hiu karena terlalu asyik bermain sehingga tanpa sadar dia telah berenang jauh dari kawanan hiu. Dan sekarang dirinya tersesat seorang diri ditengah lautan lepas yang dalam tanpa tahu arah ke mana hendak dituju.

Sesekali bila bertemu sekawanan ikan dia akan menyelinap masuk ke sela-sela batu karang dengan terus menatap waspada. Khawatir ada penghuni laut yang lain yang juga bersembunyi disana.

Saat bersembunyi di sela karang yang cukup sempit dan gelap, tiba-tiba muncullah seekor ikan paus yang cukup besar.

“Ya Allah, Ya Robb. Lindungilah aku, dari segala mara bahaya,” bisik ikan hiu kecil itu penuh harap pada pertolongan Allah.

Siapa lagi yang akan menolongnya dalam situasi terjepit seperti ini. Tanpa teman , tanpa penolong, tiada siapa pun yang akan membantunya menghadapi berbagai kesulitan hidup selain Allah, Sang Pencipta dan Pengatur seluruh alam raya.

Sesaat kemudian ikan paus itu berenang menjauh darinya. Bergegas dia keluar dari persembunyiannya. Untuk melanjutkan perjalanannya.

Sebenarnya ikan hiu kecil itu sedang kelaparan. Tapi dirinya tidak berani memangsa ikan-ikan besar yang lewat di hadapannya. Kecuali terpaksa, maka ia akan memakan ikan kecil-kecil yang ditemuinya.

Saat sedang berenang, di sela-sela batu karang, tiba-tiba dia merasa gelap, matanya tak bisa melihat sekeliling dengan jelas. .

“Ah, rupanya matanya terkena tinta kita, sehingga dia sudah tidak bisa berenang cepat lagi,” sebuah suara terdengar di sekelilingnya.

Tanpa disadarinya, dirinya telah terkena tinta kental gurita yang sedang bersembunyi di sela-sela batu karang.

Ikan hiu kecil itu hanya bisa berpasrah pada nasib. Karena dia sudah tidak bisa berenang menjauh. Matanya tidak bisa melihat terkena tinta para gurita.

“Ya Allah, aku hanya berharap pada-Mu. Lindungilah dan tolonglah aku. Dari segala keburukan makhluk-Mu, ” ucap ikan hiu kecil itu dalam hati. Dia terus memanjatkan doa di dalam hati. Hanya berharap pada pertolongan Allah.

Tanpa disadarinya, tiba-tiba ada sesuatu yang mendorongnya berenang menjauh dari tempat semula.

Ikan hiu kecil itu tidak menyadari bahwa ada seekor lumba-Lumba yang mendorongnya menjauh dari kawanan gurita yang ingin menyakitinya.

Mereka kemudian bersembunyi di balik batu karang yang lain demi menghindar dari kejaran gurita tadi.

“Ah, aku di mana, ya?” ucap lirih ikan hiu itu. Perlahan penglihatannya mulai terang dan samar-samar dirinya mulai bisa melihat.

“Bagaimana keadaanmu, kawan,” sebuah suara lembut menyapanya dengan nada khawatir.

Sesaat dia mulai bisa melihat dengan jelas. Dan tampak di depannya seekor lumba-lumba sedang berenang mengelilinginya.

Dia tampak menyemburkan sesuatu ke arah wajahnya. Sehingga tinta hitam pekat gurita yang tadi menyelimuti wajah ya perlahan hilang.

“Alhamdulillah, aku sudah bisa melihat lagi,”
seru ikan hiu kecil itu kegirangan.

“Syukurlah,” ucap ikan lumba-lumba lega.

“Wahai Lumba-Lumba, apakah engkau yang telah menolongku?” tanya ikan hiu.

“Iya, tadi aku melihatmu diserang sekawanan gurita, yang menyemprotkan tinta hitam ke wajahmu untuk melumpuhkanmu, ” jelas Lumba-Lumba.

“Terima kasih, Lumba-lumba, kau baik sekali mau menolongku, ” jawab ikan hiu kecil itu.

“Ini semua atas kehendak Allah yang menjadikan jalan bagiku bisa bertemu denganmu, “sahut lumba-lumba sembari tersenyum dan berenang mengelilinginya.

“Wahai Ikan Hiu, hendak kemana engkau pergi seorang diri?” tanya lumba-lumba lagi.

“Aku kehilangan teman-temanku, lumba-lumba, dan aku tersesat tidak tahu arah kemana harus berenang mencari mereka,” jawab hiu kecil itu sedih.

“Ah, aku tahu sekawanan hiu beberapa hari yang lalu. Aku bertemu mereka lewat disekitar sini,” jelas Lumba-lumba.

“Benarkah, Lumba-lumba? Apakah kau tahu mereka sekarang ada dimana?” tanya ikan hiu kecil itu penuh harap.

“Ya, aku tahu di mana mereka. Aku akan mengantarmu ke sana,” jawab lumba-lumba baik hati itu.

“Alhamdulillah, terima kasih, Ya Allah. Engkau mengabulkan doa-doaku selama ini, ” ikan hiu kecil berenang mengeliling lumba-lumba kegirangan karena akan bertemu keluarga dan teman-temanya kembali.

“Baiklah, sekarang kita akan segera ke sana untuk mengantarmu pulang, ” ajak lumba-lumba penuh semangat.

Betapa bahagianya hiu kecil itu karena akan bertemu kembali dengan keluarganya lagi.

(*Naskah ini original, tidak disunting oleh editor CemerlangMedia) [CM/Na)

Views: 16

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *