Puji dalam Olokan

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

#30HMBCM

 

Oleh: Nurhy Niha

CemerlangMedia.Com — Kepergian ayah menyisakan kesedihan di ruang hatiku. Rindu ini sangat menyiksa, namun semua harus tetap berjalan. Aku harus menyelesaikan sekolahku dan ibu harus bekerja untuk melanjutkan hidup kami.

Setiap hari aku selalu berdoa semua aku kuat menghadapi cobaan hidup ini. Aku tau roda kehidupan berputar dan ini saatnya memulainya dengan kebahagian.

Sudah cukup menangisi kepergian ayah. Aku menyibukan diri dengan berbagai kegiatan sekolah yang bisa membuatku lebih pintar dan juga mengikuti beberapa lomba menyanyi seperti yang biasa aku lakukan.

Ayah selalu berpesan ketika aku kalah lomba, namanya lomba ada kalah ada menang. Menang, alhamdulillah, kalau kalah, ya kita latihan lagi, siapa tau lomba berikutnya menang. Tetapi kejadian di kantin itu menyadarkanku, aku tak sekuat itu menerima bullyan dari temanku.

“G**, lo sadar gak, wajah lo gak mendukung jadi penyanyi?” Kata-kata yang selalu terngiang di kepalaku.

Apakah aku sedih karena paggilan g**** mengingatkan pada bullying yang diterima ayah atau aku yang tidak terima dipanggil g**?

Pertanyaan yang belum bisa aku jawab dan membuatku tidak nafsu makan. Aku bingung apakah aku seburuk itu sampai aku tidak bisa menang jadi penyanyi?

Nenek dan ibu khawatir dengan keadaanku, aku jadi murung dan kehilangan nafsu makan. Aku bingung, rasanya ingin menyendiri tanpa ganguan apa pun. Keadaanku semakin mengkhawatirkan, tidak masuk sekolah selama beberapa hari. Aku mengurung diri di kamar yang gelap dan terkunci.

“Star, kamu baik-baik saja? Kenapa kamarnya dikunci? Ibu mau mengajakmu makan, Sayang,” suara ibu terdengar cemas.

Aku tak punya tenaga untuk bangun, dan perutku sakit sekali seperti diperas.

Dug…. dug…. suara pintu semakin keras.

Sepertinya ibu coba mendobraknya, dan bruk…. akhirnya berhasil dibuka.

Ibu menyalakan lampu lalu memeriksa kedaaanku. Ibu kemudian menggendongku keluar dan membawaku ke rumah sakit terdekat.

Dalam perjalanan, ibu terus berdoa dan memelukku. Aku merasa nyaman dan sakit dalam waktu bersamaan.

Aku dirawat karena asam lambungku naik. Selama beberapa hari dirawat, ibu tak pernah bertanya alasanku mengurung diri. Aku merasa senang karena ibu tak membahas soal itu. Jujur, aku belum siap dan tak tahu mau cerita apa. Takut membuat ibu semakin sedih.

Setelah kondisiku membaik, aku diizinkan pulang. Dalam perjalanan pulang, aku melihat teman yang merundungku. Air mataku turun tanpa bisa ditahan. Ibu yang sadar aku menangis, langsung memelukku.

Sampai di rumah, aku menumpahkan semua kesedihanku pada ibu. Ibu hanya memelukku tanpa berkata apa pun.

Aku bingung, kenapa ibu diam saja sampai nenek datang tanpa kami sadari.

“Sayang, cucu kesayangan nenek. Maaf, nenek baru datang. Nenek senang kamu sudah sehat.” Nenek membuka percakapan.

“Aku kangen sama Nenek,” jawabku lemah.

“Sayang, Nenek tadi mendengar pembicaraan kamu,” sahut nenek lembut.

“Apa yang harus aku lakukan, Nek?” tanyaku penasaran.

“Hadapi semua, kamu adalah ciptaan Allah yang sempurna, tidak ada alasan untuk kamu minder dengan bentuk tubuhmu. Kamu mungkin kalah dalam lomba ini, kamu bisa menang dalam lomba lain,” jawab nenek menyemangati.

“Tidak mungkin semua orang menyukai kita, Nabi saja yang sudah dijamin kesuciannya masih ada yang tidak suka. Jadi hadapi saja, terus berkarya, jangan pernah mengharapkan pujian dari orang lain,” lanjut nenek menasehatiku.

Aku merasa nasihat nenek seperti nasihat ayah. Aku berharap bisa menjadi lebih kuat dan tidak lemah karena ucapan orang lain.

Setelah percakapan itu, aku kembali sekolah dan lebih rajin belajar. Aku ingin lebih berprestasi tanpa memikirkan perkataan orang lain. Aku hanya akan fokus pada cita-citaku.

Ibu selalu menyemangatiku dan menemani setiap langkahku. Walau ibu tak pandai berkata-kata seperti ayah dan nenek, tetapi ibu selalu mengusahakan yang terbaik untukku.

Menyiapkan makananku, menemaniku pergi ke sekolah, dan selalu mensuport setiap kegiatanku, baik kegiatan sekolah maupun perlombaan menyanyi.

Aku memang tak seceria dulu, tetapi aku menjadi lebih berprestasi. Bukan hanya menyanyi, aku juga mengikuti beberapa olimpiade mewakili sekolahku.

Teman-teman yang dulu menertawakanku tetap merundungku. Aku tak bisa membuat mereka berhenti merundungku karena teko hanya akan mengeluarkan sesuai isinya.

Dari waktu ke waktu, perundungan tetap ada, hanya berganti pelaku dan korban. Sulit memutusnya karena perlu usaha dari berbagai pihak dan terkadang kita mengabaikan alasan perundungan itu terjadi.

Tak jarang pelaku perundungan adalah korban di masa lalu atau mungkin bentuk mencari perhatian yang salah. Hukuman tak jarang bukannya membuat jera, malah menimbulkan dendam baru. Seperti benang kusut, perlu diuraikan akar masalahnya, bukan hanya melihat masalah di permukaan saja.

Selama penanganannya belum benar, kita masih akan melihat kasus perundungan terjadi. Satu kata bisa mengubah segalanya, jadi kita harus menjaga setiap ucapan kita. Seperti firman Allah dalam Al-Qur’an, surah Al-Hujurat ayat 11 tentang larangan mencela dan mengolok-olok dengan panggilan yang buruk. Jangan sampai ucapan kita menyakiti orang lain. Niat bercanda bisa menjadi bencana.

Mensyukuri setiap yang kita miliki adalah cara terbaik menjaga diri dari kesombongan dan tidak menganggap sepele siapa pun.

Peluk jauh untuk semua korban perundungan di luar sana. Semoga kalian bisa menemukan nilai dari diri kalian dan lebih percaya diri.

Aku mengira, aku tidak akan bisa mengikuti olimpiade karena dulu aku hanya bercita-cita sebagai penyanyi. Rasanya aku malas belajar, cukup ayah saja yang pintar, aku dan ibu kebagian kagum saja.

Terima kasih temanku, kalau kamu tidak merundungku dengan memanggilku g**, aku tidak akan rajin belajar dan hanya bercita-cita jadi penyanyi. Jadi penyanyi dengan otak yang cerdas sepertinya terdengar bagus. Astaga, ini aku dosa gak ya, kalau aku ujub seperti ini?

Maafkan Star, Ya Allah

Terima kasih karena sudah membuat aku tidak menyerah. Setiap kehilangan, pasti Allah ganti dengan yang lebih baik. Ayah, terima kasih telah menjadi ayah terbaik untukku, aku menyayangimu ayah. Setiap aku rindu, aku selalu berdoa untuk ayah.

(*Naskah ini original, tidak disunting oleh editor CemerlangMedia) [CM/Na]

Views: 30

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *