#30HMBCM
Penulis: Adine Azaria
Bab 1 Pengejaran
CemerlangMedia.Com — Napas Putera Mahkota Wang Won terengah-engah dan wajahnya merah padam. Ia terus memacu kudanya di keheningan jalanan malam hari dengan perasaan gusar. Pemuda delapan belas tahun itu mencapai puncak amarahnya. Bagaimana mungkin, ia, seorang putra pilihan langit Yuan dan bumi Goryeo itu dicampakkan begitu saja. Egonya terluka parah hanya karena Nona Myeonghwa tidak memilihnya meski hanya bisa dijadikan selir, bukan Puteri Mahkota.
Memangnya siapa lelaki yang sudah lancang merebut hati gadis pujaannya itu? Dirinya adalah calon raja, sedangkan pemuda saingannya hanya seorang pedagang rendahan dari Baghdad. Baginya, dia harus bisa mendapatkan apa saja yang diinginkan. Rasa superior itu sudah mendarah daging sejak Wang Won kecil. Bagaimana tidak? Setelah Dinasti Yuan resmi berjaya di bawah klan Khan dari Mongol, Goryeo juga telah ditaklukkan dan menjadi negeri bawahan.
Ayah Wang Won adalah Raja Chungnyeol dari Goryeo, sedangkan ibunya Puteri Jeguk dari Yuan. Wang Won sebagai anak laki-laki otomatis menjadi pewaris sah tahta selanjutnya. Masa depannya sudah pasti cerah dan terjamin. Namun mengapa, gadis bangsawan Goryeo yang ditaksirnya lebih memilih pedagang muslim biasa? Bukankah sebagai bangsawan, seharusnya Nona Myeonghwa sudah terbiasa hidup mewah, dan akan lebih nyaman baginya menjalani kehidupan sebagai Selir Agung di istana?
“Hiyaaa! Hiyaaa!” Derap langkah Kuda terus berpacu membelah keheningan malam. Wang Won bersama pengawal pribadi dan beberapa pasukan khusus miliknya terus mengejar kereta kuda di depannya. Pedang dan panah telah siap. Sebentar lagi mereka akan menangkap target yang tengah kabur.
Wang Won memberi isyarat agar pasukannya melesatkan anak panah. Para bawahan dengan sigap menurut, membidik ke arah roda. Ujung panah itu terbuat dari pisau paling tajam yang dimiliki militer Yuan, sehingga diperkirakan bisa memotong roda kayu pada kereta kuda dan menghentikan buronan yang kabur.
Anak-anak panah telah lepas. Bunyi gaduh di depan menandakan bidikan pasukan berhasil. Mereka juga membidik dengan tepat tali kekang kuda tanpa melukainya, sehingga kuda-kuda itupun lari meninggalkan kereta kayu. Wang Won merasa senang. Dengan cepat rombongannya mendekati kereta ambruk tersebut. Tepat sesuai dugaannya, gadis yang ia cintai berada di dalamnya, bersama dengan budak wanita pribadi, juga Mush’ab, pedagang Muslim dari Baghdad, serta pelayan laki-laki yang mengendarai kereta kuda.
Dengan senyuman menyeringai, Wang Won berkata kepada penghuni kereta, “orang rendahan macam mana yang dengan lancang ingin memiliki apa yang kusukai?! Hari ini tamatlah riwayatmu, Mush’ab!”
“Tidak, tidak! Jangan Yang Mulia! Ampunilah dia. Sesungguhnya ini semua rencana saya. Mush’ab tidak bersalah. Ambil saja nyawaku jika Yang Mulia mau.” Myeonghwa sigap berlutut menghadang pedang Sang Putera Mahkota, berkata sambil terisak memohon pengampunan. Danbi, budak wanita milik Myeonghwa, dan juga Jamal, pelayan pribadi milik Mush’ab, ikut berlutut di depan Wang Won dan melindungi tubuh majikan mereka masing-masing. Pasukan milik Wang Won mengitari mereka sambil menghunuskan pedang.
Dengan tawa yang mengerikan, Wang Won membalasnya, “Apa? Nyawamu kau bilang? Hahahaha! Kalian sungguh sangat saling mencintai? Baiklah. Hari ini akan menjadi akhir kisah cinta kalian yang tragis. Kau akan tetap jadi selirku, Myeonghwa. Dan lelaki ini akan kuhabisi di depan matamu!”
Suara isak tangis dan teriakan minta ampun semakin menggema dari bibir gadis cantik itu. Pasukan Wang Won berinisiatif memegangi Nona Myeonghwa, Danbi, dan Jamal. Sementara, Mush’ab sibuk berdzikir, berdoa, memohon pertolongan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Ia juga siap melafalkan kalimat tauhid, di kala genting seperti ini. Siapa yang tahu akan akhir hidupnya? Maka ia sungguh sudah sangat bersiap.
Baru saja Wang Won hendak melayangkan sabetan pedang terbaiknya, tiba-tiba banyam anak panah melesat bertubi-tubi ke arahnya dan seluruh pasukannya. Semua bawahan Wang Won gugur seketika, kecuali budak pribadinya yang sengaja hanya dilukai kaki dan tangannya. Juga ia sendiri, hanya terkena dua anak panah di bahu kanan dan kirinya, yang membuat tangannya mati rasa dan pedangnya terjatuh.
Orang-orang misterius yang membantu pelarian Nona Myeonghwa tiba dengan pakaian serba hitam dan cadar yang menutupi wajah mereka. Jumlah mereka lebih banyak, dan langsung mengangkut empat orang target pengejaran Wang Won ke atas kuda-kuda mereka. Kini hanya tersisa Wang Won dan pengawal pribadinya yang merintih kesakitan dalam luka yang tidak mematikan. Kawanan misterius itu terus pergi jauh menuju Liaodong, Yuan.
“Aaarrrggghhh sial!” Wang Won mengepalkan tinjunya dan menghantam tanah. Ia terduduk, namun kakinya menyentuh sesuatu yang agak keras. Ia meringis dan memungut benda itu. Tampak olehnya sebuah hiasan pedang berupa gantungan dengan liontin terbuat dari besi berbentuk kepala serigala yang patah tinggal setengah. Sepertinya benda itu milik salah satu pasukan misterius yang tidak sengaja patah saat mereka bergegas berlutut dan berdirj membawa Nona Myeonghwa dan rombongannya naik ke atas kuda.
Wang Won mencabut anak-anak panah yang melukainya. Kepalan tangannya makin erat, menggenggam pecahan ornamen itu, hingga telapak tangannya terluka kena ujung pecahan besi yang agak runcing. Ekspresi wajahnya mengeras. Ia berteriak meluapkan emosinya, seraya berkata, “akan kucari pemilik hiasan ini meskipun harus mengejar hingga ujung dunia!”
Sementara itu, di ujung jalan sepi menuju Liaodong, tak jauh dari tempat Wang Won berdiri, ada seorang dayang wanita terlatih dari istana Yuan yang memantau situasi. Ia bergidik ngeri melihat luapan kemarahan Putera Mahkota Goryeo. Matanya tidak bisa melihat persis apa yang digenggam Wang Won. Tapi intuisinya berkata, benda tersebut bisa mengungkap identitas pasukan rahasia yang dikirim Ratu Jeguk, ibunya Wang Won.
Dengan sangat hati-hati, dayang wanita itu beranjak pergi sambil sembunyi dan berusaha tidak menimbulkan suara. Ia beralih dari pohon dan semak dengan lincah. Ia harus cepat menuju gerbang perbatasan. Tandu khusus sedang menunggunya, agar cepat kembali ke Istana Goryeo, ke kediaman Ratu Jeguk, demi memberikan laporan serta mengambil imbalan yang dijanjikan untuknya dan keluarganya.
Sementara itu keesokan paginya waktu Sa-si (sekitar pukul 09.00 – 11.00 pagi), di kediaman pribadi keluarga Ho-bu Sirang Daegam (sebutan untuk Wakil Menteri Keuangan Goryeo), sang menteri berjalan bolak-balik dengan resah di balkon belakang kamarnya. Ia adalah Kim Yeongmyeong, ayah dari Nona Kim Myeonghwa. Rombongan putri pertamanya belum memberikan kabar dari pos pertama yang mereka siapkan. Belum ada burung elang terlatih miliknya yang pulang membawa pesan rahasia. Ia khawatir dengan nasib dan nyawa putrinya, serta pedagang muslim yang menjadi favoritnya itu.
Mungkinkah anak gadisnya tertangkap? Atau elang peliharaannya ketahuan? Tepat saat ia berpikir kemungkinan terburuk, istrinya berlari ke kamarnya, dengan kasar membuka pintu sambil menggendong Bi-yeon, salah satu elang abu-abu perak yang gagah, cerdas dan terlatih yang mereka pelihara secara rahasia. Yeongmyeong Daegam kaget dan hampir jatuh saking gugupnya.
“Daegam! Daegam! Bi-yeon kita sudah tiba! Ternyata dia lewat dapur belakang, bukan kamarmu. Sepertinya Bi-yeon lapar karena sudah terbang jauh hahaha! Dia melahap jatah lauknya di dapur. Bi-yeon kita yang pintar! Dia mengerti harus dapat bayarannya dulu hihihi ….” Gayeon Mama-nim Bicara sambil tertawa.
“Ah …. Buin (panggilan untuk istrinya), ternyata kamu …. Kenapa berisik sekali? Hampir saja jantungku copot!” balas Yeongmyeong sambil mengelus dadanya. Istrinya, Nyonya Han Gayeon, menyerahkan Bi-yeon pada suaminya. Dengan cepat Yeongmyeong Daegam membuka kertas kecil yang diikatkan ke kaki Bi-yeon. Pesan rahasia tersebut ditulis dalam huruf hanja. Mereka kenal betul tulisan tangan itu. Ya, itu adalah tulisan tangan Nona Myeonghwa, putri sulung mereka. Kabar di sana menyebutkan bahwa rombongan pelarian selamat, dan kini melanjutkan perjalanan melalui jalur sutra menuju Baghdad.
Suami istri tersebut menangis haru dan bahagia. Tidak menyangka bahwa akan ada bantuan datang. Saat ini bagi mereka yang terpenting adalah kebahagiaan putri sulungnya. Mereka sudah merestui Myeonghwa berpindah agama menjadi muslimah, dan akan diperistri Tuan Mush’ab. Yeongmyeong Daegam dan istrinya masih memeluk agama Buddha, dan telah merelakan Myeonghwa menikah di Baghdad menggunakan Wali hakim di sana, dengan sepucuk surat pernyataan resmi darinya beserta stempel khusus milik seorang pejabat istana seperti dirinya, agar bisa meyakinkan Majelis umat Islam di sana untuk memberikan wali hakim. Meski sedih karena sudah tidak bisa melihat putrinya lagi, Yeongmyeong berharap suatu hari nanti keadaan berubah, dan anak menantunya bisa berkunjung ke rumahnya membawa beberapa orang cucu.
Di lain pihak, Putera Mahkota Wang Won tidak tinggal diam. Dia tidak akan membiarkan gadis pujaannya menikah begitu saja dengan pria lain. Wang Won beserta orang-orangnya tengah mengadakan rapat khusus. Sementara itu, Raja Chungnyeol, ayah Wang Won, merasa sedih dan hampir putus asa melihat perilaku putranya. Anak kebanggaan tersebut sama sekali tidak peduli dengan keadaan perpolitikan, perekonomian, maupun urusan negara lainnya. Padahal, Wang Won akan menjadi penerusnya.
Raja Chungnyeol mulai memikirkan pangeran lainnya yang lahir secara rahasia dari selir yang ia sembunyikan keberadaan dan identitasnya. Sejujurnya, di hatinya masih terpatri rasa cinta tanah air Goryeo dan keturunan murni Goryeo. Putera Mahkota Wang Won adalah anaknya dengan pernikahan oleh Putri Jeguk dari Dinasti Yuan, anak Kaisar Kubilai Khan. Pernikahan politik tersebut terpaksa dilakukannya demi stabilitas Goryeo. Namun hati kecilnya, memiliki cinta sejati yang lain, dengan selir rahasia dan pangeran kecil rahasia yang ia tutup rapat-rapat demi keamanan hidup mereka.
Ia terisak, menyeka air matanya. Wang Wong sangat pemberontak dan tidak patuh kepadanya. Putranya itu lebih banyak diasuh oleh pelayan-pelayan kiriman dari Yuan. Wang Won juga lebih sering berada di Yuan daripada di Goryeo. Kesedihan Raja Chungnyeol bertambah dengan banyaknya pejabat istana yang condong ke Yuan. Andai saja bisa ke masa lalu, ia ingin sekali menemui mendiang ayahnya dan mendiang raja-raja sebelumnya. Akan diceritakannya sepak terjang Yuan dalam menguasai Goryeo, agar para pendahulunya bisa lebih bersiap dan mencegah Dinasti Yuan melecehkan kedaulatan Kerajaan Goryeo. Juga, barangkali bisa membuat rencana antisipasi agar bangsawan-bangsawan Goryeo lebih mencintai kedaulatan mereka secara utuh, dan tidak membebek pada Dinasti Yuan.
Beruntung hari ini sedang libur rapat Istana. Raja Chungnyeol merasa lega bisa menikmati kesendiriannya dalam berkontemplasi. Kasim dan dayang yang menemaninya sudah paham akan kebiasaannya. Kebun bunga Istana ini memang tempat favorit Raja Chungnyeol untuk berpikir sambil minum teh.
(*Naskah ini original, tidak disunting oleh editor CemerlangMedia) [CM/Na]
Views: 31






















