Generasi Tanda Tanya

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

#30HMBCM

Penulis: Yulweri Vovi Safitria
Bab 8 Echo Chamber Kebenaran

CemerlangMedia.Com — Fahmi sangat bersemangat dalam menuntut ilmu agama. Laki-laki berusia 25 tahun itu telah memutuskan untuk mengikuti sebuah manhaj tertentu yang ia yakini paling benar. Metode tersebut ia temukan melalui grup Telegram, YouTube, Instagram, dan akun-akun dakwah yang ia ikuti.

Setiap akun yang ia follow, setiap grup chat yang ia ikuti, dan setiap video yang disarankan algoritma, semuanya mengulang dan memperkuat pandangan yang sama persis. Mereka saling memuji, saling menguatkan, dan saling menganggap kelompok lain berada dalam bid’ah.

Fahmi merasa tenang. Ia yakin ia sudah berada di jalan lurus yang paling murni. Echo chamber ini telah membangun dinding kaca yang tak terlihat di sekeliling hatinya.

Dinding itu memungkinkan Fahmi melihat dunia luar. Ia melihat ulama-ulama lain dan juga pandangan mazhab lain, tetapi ia tidak bisa mendengar mereka dengan hati terbuka. Semua pandangan yang berbeda langsung ia anggap sesat atau kurang ilmu, tanpa tabayun.

Suatu hari, ayahnya yang memiliki akidah Islam yang benar dan berpikir cemerlang, mencoba menasihatinya.

“Nak, Ustaz Ramadan yang di masjid kita itu sudah berumur, sanad ilmunya jelas. Dengarkan juga nasihat beliau,” kata ayahnya mengingatkan.

“Tidak, Yah,” jawab Fahmi cepat, nadanya tegas.

“Manhaj beliau sudah tidak murni. Dalil-dalil yang beliau gunakan kurang kuat. Hanya kelompok kami yang memiliki pemahaman yang paling sahih,” lanjut Fahmi.

Ayahnya menghela napas. Ia tahu, anaknya tidak berdebat dengan niat mencari kebenaran, melainkan dengan fanatisme yang disalurkan secara digital. Fahmi tidak belajar dari seorang ustaz. Ia belajar dari caption dan video yang hanya menyajikan satu sisi.

Fahmi menjadi ahli dalam men-judge. Setiap interaksi di luar echo chamber-nya terasa seperti ancaman. Bahkan, ia mulai meragukan keimanan teman-teman lamanya yang merayakan walimah dengan cara yang berbeda dari kelompoknya.

Fahmi telah mengubah mencari kebenaran menjadi memenangkan perdebatan. Ia lupa bahwa cinta sejati pada haq seharusnya melunakkan hati, bukan mengeraskan.

Suatu malam, Fahmi membaca salah satu kisah tentang seorang sahabat Nabi yang menasihati dengan penuh kelembutan, meskipun orang yang dinasihatinya itu salah. Ada pula kisah Khalifah Umar bin Khattab yang terkenal tegas dan keras terhadap orang zalim, tetapi lemat lembut kepada orang yang berpegang pada agama Allah.

Hati Fahmi tersentuh. Ia merasa ada yang salah dengan dirinya selama ini. “Kenapa aku yang merasa paling benar, justru paling cepat menghakimi dan paling keras hati?” batinnya.

Fahmi sadar, ia telah menjadi korban dari echo chamber kebenaran. Echo chamber itu telah memberikan kepastian yang terbungkus ragu. Fahmi yakin ia benar, tetapi keraguannya pada kebaikan orang lain justru menunjukkan keretakan dalam hatinya sendiri.

Fahmi pun memutuskan untuk mematikan notifikasi dari grup-grup yang selama ini membentuk mindset yang keliru dalam beragama. Ia mulai mempelajari akidah Islam yang benar.

Ia berhenti unfollow orang-orang yang berbeda pandangan. Fahmi mulai mendengarkan kembali kajian dan nasihat Ustaz Ramadan secara langsung, tanpa ponsel.

Fahmi menyadari, ilmu syar’i yang berlandaskan akidah Islam tidak akan pernah membuat seseorang menjadi eksklusif dan judgemental. Ilmu yang autentik akan mendorong seseorang pada tasamuh dan kerendahan hati.

Keluar dari echo chamber itu terasa menakutkan, seperti melepaskan benteng pertahanan. Namun, Fahmi tahu, keikhlasan dan kebenaran sejati hanya ditemukan di hati yang terbuka menerima nasihat selama tidak bertentangan dengan akidah Islam.

Fahmi kembali merenungi nasihat Baginda Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam, “Sesungguhnya Allah meridai kalian tiga perkara dan membenci kalian tiga perkara pula; Allah meridai kalian bila kalian menyembah-Nya dengan tidak menyekutukan dengan-Nya sesuatu apa pun. Berpegang tegung kepada tali Allah dan tidak pecah belah. Dan membenci kalian berkata sia-sia, banyak bertanya dan membuang-buang harta.” (HR Muslim no 1715) [CM/Na]

Views: 43

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *