Pinjaman untuk Allah

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

#30HMBCM

Oleh: Muslihah

CemerlangMedia.Com — Risda menangis. Sejak menikah tujuh bulan lalu, ia merasa tertekan. Rustam hanya memberinya uang sebulan satu juta untuk semua keperluannya. Sementara dirinya mencukupkan diri sebagai pengurus rumah suaminya. Mungkin gaji lelaki itu memang tak memadai. Wanita itu berusaha memahami. Setiap hari, ia mengeluarkan uang dengan penuh perhitungan. Sering kali puasa menjadi pilihannya.

Dengan uang sebesar itu memang kalau untuk makan berdua dengan lauk tahu, tempe, atau telur dengan sayur kangkung atau bayam memang cukup. Namun, kebutuhannya tak hanya soal makan. Ia harus membayar listrik, air PAM, dan iuran warga. Belum lagi gas elpiji dan air minum.

Kini setelah tujuh bulan, Risda merasa bebannya makin berat. Apalagi sekarang bahan makanan naik harga. Mulai dari beras, minyak goreng, tempe, tahu, telur, cabe bahkan garam. Memang selama ini untuk bahan bakar motor, Rustam tak pernah mengusik uang yang diberinya. Namun, beban berat tak kasat mata itu tetap ada.

Risda tak mau cerita masalah keuangan kepada orang tuanya. Baginya, ia harus menutup semua aib rumah tangga. Lagi pula, biarlah orang tuanya hanya mengetahui bahagianya. Masalah kesulitan dan kesedihan biar ia telan sendiri. Dalam keadaan pusing, ia datang ke rumah Bu Nyai Layyin Al Hafizah.

“Assalamu’alaikum,” ucap Risda di ambang pintu.

Di belakang rumah beliau dibangun kamar-kamar. Ada sepuluh kamar, yang dihuni masing-masing empat anak yang menghapalkan Al-Qur’an.

“Wa’alaykumussalam warahmatullahi wabarakatuh.”

Seorang santri perempuan keluar dari rumah Bu Nyai penghafal Al-Qur’an itu.

“Ada yang bisa saya bantu, Bu?” tanya santri perempuan itu dengan sopan.

Ia mengenakan baju kurung warna biru muda berpadu dengan rok biru dongker dan kerudung instan senada.

“Bisa bertemu dengan Bu Nyai Layyin?” tanya Risda.

Layyin adalah sahabat Risda saat SMP, namun Layyin melanjutkan SMA di pesantren sambil menghafalkan Al-Qur’an. Sedangkan Risda sebagaimana teman yang lain melanjutkan ke SMA Negeri di kotanya. Rumah mereka pun sebenarnya tak jauh. Cukup dengan berjalan kaki selama lima belas atau dua puluh menit. Hanya saja, sekarang Layyin memiliki banyak santri di rumahnya. Sangat berbeda dengan Risda yang hanya seorang ibu rumah tangga biasa.

“Bu Nyai sedang menyimak hafalan santri. Boleh tahu saya dengan siapa? Nanti saya sampaikan,” ujar santri itu.

“Saya Risda.”

“Silakan duduk, Bu.”

Risda duduk di sofa ruang tamu. Santri itu masuk sebentar. Kemudian keluar sambil membawa nampan berisi secangkir teh dan makanan ringan.

“Silahkan diminum dan cicipi snacknya. Sebentar lagi Bu Nyai turun,” kata santri perempuan itu.

Sambil menunggu, Risda membaca majalah yang disediakan di bawah meja tamu.

“Hai, Risda. Tumben, nih, nengok aku. Lama kita tak berjumpa, meski dalam satu desa,” ujar Layyin seraya memeluk Risda, setelah mengucap salam tanpa menunggu dijawab.

Penghafal Al-Qur’an yang masih muda itu terlihat sangat bersuka cita didatangi teman lama.

“Iyalah, kamu pasti sibuk. Maaf, ya jika aku datang mengganggu kesibukanmu dengan para santri.”

Risda merasa tak enak hati.

“Aku harusnya yang minta maaf, sebab membiarkanmu menunggu. Ceritakan tentang dirimu. Apa yang bisa kubantu,” ujar Layyin.

Dari raut wajah Risda, Layyin bisa tahu jika sahabat lamanya sedang memiliki masalah.

“Kamu benar ….”

Risda menuturkan kesulitannya.

“Kamu percaya, sama Allah? Percaya, dong. Ya, kan?” tanya Layyin.

“Sudah pasti.”

“Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

مَنْ ذَا الَّذِيْ يُقْرِضُ اللّٰهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضٰعِفَهٗ لَهٗ وَلَهٗۤ اَجْرٌ كَرِيْمٌ
“Barang siapa meminjamkan kepada Allah dengan pinjaman yang baik, maka Allah akan mengembalikannya berlipat ganda untuknya, dan baginya pahala yang mulia.” (QS Al-Hadid 57: 11).

Dan masih banyak lagi firman Allah terkait sedekah dan keutamaannya. Maka saranku, bersedekahlah. Semoga kemudian Allah membukakan solusi dari seluruh kesulitanmu.”

Dengan lancar Bu Nyai Layyin Al Hafizah membacakan ayat Al-Qur’an.

“Tapi, Yin, bagaimana aku bisa bersedekah, sementara untuk biaya sehari-hari saja aku masih sering kekurangan?” tanya Risda sendu.

“Hey, ingat. Saat kamu bersedekah, itu sama halnya kamu memberi pinjaman kepada Allah. Sementara Allah sebaik-baik yang mengembalikan pinjaman. Katanya yakin kepada Allah? Sekarang kamu bawa uang berapa?” tanya Bu Nyai berlesung pipit itu.

“Uangku tinggal dua puluh lima ribu, nih. Usia bulan ini masih seminggu lagi. Bagaimana, ya?” Risda masih ragu.

“Jika kamu percaya kepada Allah bahwa Dia akan mengurai masalahmu, sedekahkan apa yang kamu punya. Bismillah, lillah.”

Layyin berucap lembut, tetapi tegas sambil menggenggam jemari sahabat lamanya. Seakan ia ingin menyalurkan kekuatan. Bisa saja ia memberi Risda sembako untuk dibawa pulang. Namun, Risda tak sekadar butuh saat ini. Layyin ingin agar masalah sahabatnya terurai oleh Sang Maha Pengatur alam raya.

“Baiklah, uang yang ada dalam dompet akan kusedekahkan. Tolong doakan aku!” ujar Risda sambil membalas genggaman tangan serta menatap mata Bu Nyai berhidung mancung itu penuh harap.

“Iya. Semoga Allah mengurai kesulitanmu. Semoga Allah memberikan rezeki yang cukup untuk kalian berdua dan anak-anakmu kelak,” ucap Layyin.

Risda segera pamit. Ia langsung menuju penjual gorengan di pinggir jalan. Seluruh uang yang ia miliki dihabiskan untuk membeli gorengan.

“Ya Allah, tolong hamba,” pintanya dalam hati.

Dari penjual gorengan, langkah kaki Risda menuju panti asuhan yang berjarak lima ratus meter lagi. Semua gorengan yang ia beli ia berikan kepada pengasuh panti.

“Bu, tolong ini diberikan kepada anak-anak. Mohon doa agar Allah memberikan kecukupan rezeki untuk saya dan keluarga. Maaf, Bu. Saya hanya bisa memberikan gorengan,” Risda berucap hati-hati.

“Terima kasih. Anak-anak pasti senang. Semoga apa pun yang menjadi hajat Mbak, dikabulkan Allah.” Pengasuh panti menyambut ramah.

“Aamiin.”

****

Sementara itu, Rustam di tempat kerja tiba-tiba teringat dengan istrinya. Ia menghitung nafkah yang ia berikan. Tadi tanpa sengaja ia mendengar obrolan teman kerjanya bicara tentang kebutuhan bulanan rumah tangga. Apa selama ini Risda tak kesulitan dengan uang pemberiannya? Sedangkan Risda tak pernah terlihat mengeluh.

Sebenarnya, Rustam memiliki uang tabungan yang tak diketahui Risda. Rustam ingin membeli rumah untuk mereka agar tak membayar kontrak rumah setiap tahun. Uang gajinya yang lima juta, ia pegang satu juta untuk keperluan bahan bakar motor dan makan siangnya di kantor. Maka menurutnya, untuk Risda pun cukup satu juta per bulan. Jika uangnya banyak ditabungkan, maka mereka akan segera memiliki rumah.

Namun, setelah mendengar obrolan teman kerjanya, ia jadi khawatir dengan istrinya. Ia merasa menjadi suami yang pelit. Hari itu, begitu jam pulang kantor, Rustam bergegas pulang.

“Dek, selama ini kita selalu makan di rumah. Malam ini kita jalan-jalan dan makan di luar, ya?” ujar Rustam sesampai di rumah.

“Beneran, Mas?” Risda hampir tak percaya dengan pendengarannya.

Baru kali ini sang suami mengajak makan di luar. Usai jalan-jalan yang hanya duduk-duduk di alun-alun kota seusai makan malam mereka pun pulang. Risda sudah merasa senang dengan perlakuan sang suami.

“Dek, maafkan Mas selama ini. Jika nafkah yang Mas kasih kurang. Mulai saat ini uang belanjamu akan Mas tambahi. Ini untuk peganganmu,” ujar Rustam sambil menyerahkan amplop coklat berisi uang sesampai mereka di kamar.

Risda seakan tak percaya jika suaminya memberi uang sebesar tiga juta untuk sebulan.

“Alhamdulillah, Ya Rabb. Engkau mengabulkan doaku,” bisik Risda dalam isak tangis bahagianya.

“Tapi, Mas. Darimana Mas dapat uang sebanyak ini?”

Rustam menceritakan apa yang selama ini tak diketahui sang istri.

“Kata Ustaz, suami istri itu harus selalu berkomunikasi, Mas. Jika Mas tak berterus terang, bagaimana aku dapat memahami. Jika terus-menerus, bukan tak mungkin aku bisa berpikir dan curiga tanpa alasan. Di situ pintu setan.”

“Kamu benar, Sayang. Maafin Mas, ya.”

Sidoarjo, 19 November 2025

(*Naskah ini tidak disunting oleh editor CemerlangMedia) [CM/Na]

Views: 23

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *