Giok Putih Nona Myeonghwa

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

#30HMBCM

Penulis: Adine Azaria
Bab 4 Kelahiran Istimewa

CemerlangMedia.Com — Kerajaan Tiongkok kuno pada era Dinasti Yuan adalah masa yang paling kosmopolitan. Kubilai Khan terbilang sangat terbuka dengan orang-orang asing non-Mongol dengan berbagai macam latar belakang dan agama. Raja Chungnyeol hanya tinggal sebentar di Gaegyong/Gaesong ibu kota Goryeo setelah menikah dengan putri Kubilai Khan di Yuan.

Kemudian Ratu Jeguk hamil, sedangkan Raja Chungnyeol diminta kembali ke istana Yuan Da Nei untuk urusan perpolitikan di sana sebagai negara bawahan. Saat pertengahan tahun 1275, Marco Polo muda dan keluarganya datang dari Venesia ke Yuan dalam rangka urusan diplomasi politik dan perdagangan.

Marco Polo dan keluarganya sangat disukai oleh Kubilai Khan dan akhirnya mereka menetap di Yuan selama tujuh belas tahun. Bahkan, Kubilai Khan memberikan posisi pejabat istana kepada Marco Polo sebagai penerjemah dan utusan khusus.

Dalam acara-acara perjamuan dan penerimaan tamu istana, Raja Chungnyeol sempat bertemu dengan Marco Polo. Masa kosmopolitan yang majemuk ini membuat Dinasti Yuan, Era Goryeo, Dunia Islam Kekhalifahan Abbasiyah, dan Dunia Barat mengalami pertukaran ilmu pengetahuan dan informasi yang sangat banyak, termasuk dalam sistem penanggalan atau kalender.

Pada saat Pangeran Wang Won lahir, Ratu Jeguk mengirim surat dan utusan ke istana Yuan Da Nei untuk mengabari suami dan ayahnya di sana. Hari lahir Wang Won ialah hari ketiga puluh, bulan sembilan, tahun kedua belas Zhiyuan menurut kalender lunar Tiongkok. Dayang Bayan Qulan dan Kasim Qoriq Temur yang melayani Ratu Jeguk masuk ke dalam ke dalam kamar Ratu. Mereka membawa bayi laki-laki yang baru saja lahir dengan sehat dan selamat dari ruang pemandian bayi. Ratu Jeguk juga telah selesai dibersihkan dan berganti pakaian.

“Lihatlah wajah tampan ini, Bayan. mirip sekali dengan ayahnya. Akan kuberi dia nama Won. Wang Won. Dia adalah anugerah dari perpaduan langit Yuan dan bumi Goryeo.” Kata-kata itu keluar dari mulut Sang Ratu dengan penuh rasa bahagia dan bangga, sembari mengelus wajah pangeran mungilnya.

“Tentu saja, Yang Mulia. Pangeran Wang Won akan menjadi orang dengan keagungan nomor satu. Tidak ada yang bisa menandingi keutamaan dan kemuliaan Yang Mulia Pangeran di negeri ini.” Ucap Bayan dengan kebanggaan dan kegembiraan yang sama.

Selain membawa peralatan baju ganti dan selimut tambahan untuk bayi, kasim Qoriq juga mempersiapkan kuas pena, tinta, kertas, amplop, dan meja kecil. Ia mengingatkan Ratu Jeguk untuk segera menuliskan surat dan mengirim utusan. Sambil menyusun peralatan menulis dan tersenyum, ia berkata,

“Yang Mulia, tulislah kabar gembira ini secara langsung dengan tulisan tangan Yang Mulia Ratu sendiri untuk mengabari Istana Yuan Da Nei. Yang Mulia Kaisar dan Baginda Raja pasti akan lebih senang dan berkesan jika membaca dan melihat tulisan tangan Yang Mulia.”

“Oh, ya, tentu saja! Terima kasih.” Balas Ratu Jeguk dengan antusias.

Kelahiran Pangeran Wang Won membuat suasana suka cita di istana Da Nei. Kaisar Kubilai Khan mengadakan acara perjamuan makan malam di aula khusus tamu-tamu dan pejabat istana. Dia mengundang semua orang penting agar hadir dalam makan malam yang meriah tersebut, dalam rangka kelahiran cucu laki-lakinya yang baru yang akan mewarisi tahta di negara vasal atau negara bawahannya.

Semua tamu undangan memberikan ucapan selamat untuk Kubilai Khan dan Raja Chungnyeol. Selesai berbagai macam sambutan, makan malam, dan hiburan kesenian, pada pejabat Yuan dan para tamu kerajaan keluar satu per satu setelah Kubilai Khan dan rombongan pelayannya lebih dulu meninggalkan aula menuju kamar pribadinya. Cahaya lentera masih memenuhi ruangan tersebut. Suhu udara musim gugur di malam itu terasa semakin dingin. Beruntung aula dilengkapi dengan perapian yang memadai untuk menghangatkan.

Raja Chungnyeol mengenakan jubah biru tua dan hanbok khas keluarga kerajaan Goryeo. Surat dari ratunya ia masukkan dan simpan dengan rapi di saku bajunya. Baru saja Raja Chungnyeol berdiri dari kursi dan hendak keluar, Marco Polo yang masih muda, cerdas, dan penuh rasa ingin tahu itu, menghampirinya dengan senyuman yang ramah. Marco sangat cerdas, cepat belajar dan beradaptasi dengan kehidupan istana Da Nei. Hanya dalam waktu tiga bulan setelah sampai di Yuan, Marco sudah bisa bahasa percakapan sehari-hari di sana.

“Yang Mulia, sekali lagi saya ucapkan selamat atas kelahiran putra Anda. Sungguh beruntung sekali mendapatkan anak pertama sebagai pewaris tahta.” Marco mengeluarkan simpatinya dengan tersenyum dan membungkuk memberi hormat.

“Ah, ya, terima kasih, Tuan Muda Marco.” Balas Raja Chungnyeol dengan anggukan.

“Kalau boleh tahu, tanggal berapa putra Yang Mulia lahir?” Tanya Marco penasaran.

“Sekitar dua puluh hari yang lalu, hari ketiga puluh, bulan sembilan, tahun kedua belas Zhiyuan, menurut surat dari Ratuku. Memangnya kenapa? Apakah tanggalnya tidak cukup bagus?” Raja Chungnyeol bertanya dengan ekspresi ingin tahu.

“Hmm, tidak, bukaan begitu, Yang Mulia. Sebentar, saya membawa lembaran tanggalan saya.” Marco menjawab sambil sibuk mencari sesuatu di balik jubahnya.

“Ah, ini dia! Yang Mulia, jika dua puluh hari yang lalu, berarti itu tanggal dua puluh, bulan sepuluh, tahun 1275, menurut tanggalan yang kami pakai di Venesia. Saya hanya sekadar ingin tahu saja. Karena saya masih canggung dengan kalender lunar Yuan. Saya hanya belum terbiasa. Maafkan saya. Hahaha.” Marco menjawab dengan keluguan khas anak muda.

“Ah, tidak apa-apa. Wajar jika Anda merasa seperti itu. Pasti rasanya membingungkan sekali dengan aneka ragam pertukaran ilmu pengetahuan dan budaya di sini. Saat Anda berada di negara yang Asing dan jauh dari rumah, sesudah pasti perasaanmu campur aduk. Jarak yang kalian tempuh sekeluarga sangat jauh sekali, lebih jauh dari jarak menuju rumahku.” Raja Chungnyeol memaklumi dengan terkekeh.

Marco berkata dengan raut penuh empati kepada Raja Chungnyeol, “Yang Mulia, sebagai pedagang dan pengelana, meski masih muda, saya sudah pernah menempuh berbagai negeri dan bertemu aneka macam orang. Dan saya tahu persis bahwa seorang Ayah yang tidak bisa hadir dalam kelahiran anaknya akan memendam rindu yang sangat dalam kepada keluarganya.”

Raja Chungnyeol menatap Marco dengan lembut lalu berkata, “Ya, kau benar.”

“Dan perjalanan panjang serta jauhnya jarak yang saya tempuh tidaklah seberapa jika dibandingkan dengan besarnya kebahagiaan seorang lelaki yang baru saja menjadi ayah”

Raja Chungnyeol kembali tertawa ringan dan berujar, “kata-kata Anda sangat menyentuh dan bijak. Tak heran Kaisar sangat menyukai Anda, Tuan Marco.”

Ia menikmati percakapan ringan itu. Tawa-tawa kecil menyelingi perbincangan mereka. Tawa yang jarang sekali muncul di Istana Da Nei yang penuh tekanan dan protokol. Raja Chungnyeol dan Marco berjalan berbarengan ke luar dari aula dan berpisah menuju kamar masing-masing. Di kamarnya, Raja Chungnyeol membuka jendela belakang dan menyalakan perapian. Ia menatap jauh lurus ke pemandangan yang ada di hadapannya, seolah melihat Gaegyong/Gaesong di sana.

(*Naskah ini tidak disunting oleh editor CemerlangMedia) [CM/Na]

Views: 14

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *