Goresan Cinta untuk Tiara

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

#30HMBCM

Penulis: Titin Kartini
Bab 2 Hijrah

CemerlangMedia.Com — “Teh, ikut ngaji, yuk! Di rumah ibu nanti sore, ba’kda ashar.” Ajak tetanggaku saat aku main di depan rumah.

“Ngaji apa, Bu? Aku izin dulu sama ayahnya Caca, ya,” jawabku.

Setelah diberi izin oleh suami, aku ikut ngaji dan tentunya Tiara aku bawa. Untunglah Caca atau Neng Caca panggilan kesayangan untuk Tiara anak yang tidak rewel jika dibawa ke mana pun, termasuk mengaji.

Heran juga, pada pengajian ini berbeda sekali dengan pengajian-pengajian lainnya, kita diajak berfikir tentang manusia, hidup, dan alam semesta serta tujuan penciptaan semuanya. Semakin lama semakin membuatku nyaman dan rasa ingin tahu tentang Islam yang sesungguhnya. Aku mulai menutup aurat dengan sempurna dan tentunya mengajarkannya pada Tiara.

“Cepet dong, Bu! Lama amat sih, kata Ayah juga pakai celana panjang, kaos panjang, kerudung udah. Jangan pakai gamis, ribet lihatnya!”

Jalan hijrahku ternyata tidak mudah. Ada penolakan dari suami dengan semua perubahan dalam diri ini, juga mertua. Tahun-tahun pertama begitu berat rasanya, ingin kembali saja seperti dulu daripada selalu bersitegang dengan suami dan keluarga mertua.

“Sabar, Teh. Teteh juga harus bisa meredam emosi, jangan sama-sama emosi. Laki-laki itu tidak mau digurui, Teh, meski Teteh lebih tahu. Coba pakai bahasa cinta dan tunjukan, setelah hijrah, Teteh lebih baik dalam segala hal,” nasihat musrifahku saat itu.

Kuterapkan sedikit-sedikit nasihat dari musrifah dan alhamdulilah, suami lebih bisa menerima. Namun, ternyata ujian itu tidak berhenti di situ, Allah beri ujian lagi saat hamba-Nya ini ingin benar-benar taat pada-Nya dan Rasul-Nya. Dokter mendiagnosa aku sakit TBC, yang berawal dari lambung. Selama satu bulan aku dipisahkan dari Tiaraku. Aku dibawa kakak laki-lakiku ke Sukabumi untuk rehat sejenak dan menghirup udara lebih segar di sana.

“Ngajinya udahan saja, Bu! Lihat kondisi kamu seperti ini, Ayah gak mau kamu kecapean dan drop lagi. Pengajian, aktivitasnya banyak sekali.” Ucap suami pada saat aku kembali dari Sukabumi.

“Ya Allah, apalagi ini? Suami menyalahkan pengajianku karena ketidakpahamannya akan qadha Allah,” gumamku.

Dalam sujud, setiap malam aku selalu meminta, “Ya Allah, Engkau titipkan hamba seorang putri yang cantik dan cerdas, hamba ingin mendidik putri hamba dengan Islam yang kaffah. Hamba ingin, Ya Rabb, suami hamba juga berhijrah pada Islam kaffah agar kami mendidik putri kami dengan satu perasaan , satu pemikiran, satu aturan yang sama untuk kami pahamkan kepadanya. Suami hamba nakhoda hamba, Ya Allah, jangan biarkan kapal dan nakhodanya berlainan arah.” Doaku selalu di sepertiga malam.

“Iya, Ayah mau ngaji, tapi tidak mau jadi anggota jamaah Ibu, Ayah kan orang partai kepala banteng.” Jawabnya pada suatu hari ketika kami berdiskusi dan aku menawarkan suami musrifahku untuk mengaji bersamanya.

Suami dan bapak mertua loyalis sebuah partai politik demokrasi dan menjunjung tinggi tokohnya. Perbedaan-perbedaan yang sangat menonjol di antara kami sering terjadi. Namun, aku yakin, kekuatan doa seorang istri juga seorang ibu pasti Allah kabulkan.

Masya Allah, beberapa bulan mengkaji, akhirnya suami mau mengkaji lebih khusus lagi, beliaulah yang lebih semangat dalam dakwah ketika diri ini merasa lelah. “Apa yang bisa kita berikan untuk Islam, kita upayakan kalau bisa ngomong ya ngomong, bisanya kaya Ayah, cuma tenaga saja, ya sudah, yang penting ada usaha kita untuk terus berdakwah mengembalikan kejayaan Islam kaffah.” Ungkapnya.

Ayah memang selalu semangat, ketika ada kegiatan kajian yang membutuhkan tenaga meski harus menginap sekalipun. Ia akan tetap ikut dalam barisan pengamanan atau bantu-bantu membawa peralatan yang menunjang acara dakwah.

Ini berbanding terbalik denganku yang sepertinya mulai lelah dengan dakwah ini, astaghfirullah.

“Lihat putri kita, Bu, ia sudah mencontohmu dalam berpakaian dalam segala hal. Bagaimana kita mau memahamkan Islam kaffah padanya jika ibunya sudah malas untuk belajar. Bukankah kita tak mau putri kita mempunyai pemahaman yang salah tentang agamanya seperti kita dulu? Ayah harus kerja, tapi Ibu dua puluh empat jam bersamanya, maka ia membutuhkan ibu yang cerdas untuk mendidiknya.” Pungkas suami. Masya Allah, indahnya hijrah bersama nakhoda tercinta, ia bawa kapal dan penumpangnya berlayar menuju ridho Allah dan Rasul-Nya.

*(Naskah ini tidak disunting oleh editor CemerlangMedia) [CM/Na]

Views: 25

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *