#30HMBCM
Titin Kartini
Bab 4 Keteguhan Hati
CemerlangMedia.Com — Tak terasa, menjelang kelulusan sekolah dasar semakin dekat. Aku dan suami bertanya kembali pada Tiara tentang keputusannya untuk mondok.
“Kak, betul sudah yakin mau mondok?” tanyaku.
“Iya, Ibu. Kakak yakin seratus persen,” jawabnya sambil tersenyum manja.
“Kak, Ayah sama Ibu pastinya ingin yang terbaik buat Kakak. Ini keputusan Kakak sendiri. Jadi, Ayah harap, Kakak belajarnya sungguh-sungguh, walaupun nanti kenyataan di sana tidak seperti apa yang Kakak bayangkan.” Nasihat sang ayah pada putrinya.
“Iya, Ayah, insyaallah. Kakak pegang janji ini, sepahit apa pun kehidupan di pondok, Kakak bakalan kuat,” jawab Tiara.
“Baiklah.” Jawab suami sambil tersenyum.
Padahal hati kami bimbang antara melepas Tiara ke pondok atau tidak. Selain itu faktor biaya juga membuat kami mengelus dada, maklumlah ekonomi seperti kami ini terkadang hanya cukup untuk makan saja.
Namun, aku selalu percaya rizki untuk menuntut ilmu anak-anak itu pasti ada bagaimana pun jalannya. Aku kuatkan suami sama ketika aku mengambil keputusan untuk menyekolahkan kakak di SD IT, dengan bermodalkan bismillah, insyaallah semuanya akan mudah.
“Bu, jika dirasa berat biaya mondok, kakak gak apa-apa gak jadi mondok. Sekolah biasa saja.” Ungkap Tiara suatu hari.
Kami tidak pernah bercerita tentang kesulitan hidup, hanya saja mungkin nalurinya sebagai anak tahu bagaimana ayah dan ibunya kesulitan biaya. Setelah ayahnya tidak lagi menjadi loper koran karena seiring berkembangnya teknologi informasi yang mudah didapatkan melalui gadget koran kian tak laku. Kini suami bekerja sebagai office boy atau tukang bersih-bersih di sebuah kantor pemerintahan yang gajinya sangat minim.
“Kakak harus percaya rizki itu Allah yang mengatur, jika niat kita baik insyaallah akan dipermudah. Tugas mencari biaya mondok itu biar ayah sama ibu saja yang memikirkannya, tugas kakak hanya belajar, berusaha meraih impian dan berdoa semoga Allah mudahkan dan lancarkan segala niat baik kita, dan tentunya doa agar kita semua diberikan kesehatan,” ungkapku.
Dan alhamdulilah semua dapat dilewati, pertolongan Allah Yang Maha Baik. Tiaraku mondok di Pondok Pesantren Baron Bogor menjadi angkatan pertama.
Tiaraku tersenyum bahagia. “Masya Allah akhirnya kakak jadi santri teh Kyara, Ade Salman.” Ungkapnya bahagia sambil ia peluk kedua adiknya teteh Kyara dan Ade Salman.
(*Naskah ini tidak disunting oleh editor CemerlangMedia) [CM/Na]
Views: 18






















