Oleh: Noor Azizah
CemerlangMedia.Com — PUISI
Di cakrawala, mega hitam membentang
Bukan hujan biasa, tetapi duka yang datang
Bumi merintih, urat-uratnya bergetar
Teriakan sunyi, menghantam tanpa kabar
Dari perut gunung, lahar panas menyala
Membakar asa, memisahkan raga
Ombak raksasa menggulung ke tepian
Menghapus jejak yang baru sempat diimpikan
Dinding roboh, tiang-tiang patah
Senyap menggantikan tawa
Debu kelabu menyelimuti sisa cerita
Puing-puing menjadi saksi bisu lara
Namun, di antara reruntuhan yang sunyi,
Tangan-tangan bangkit, menepis mati
Mata mencari, menggali, tanpa henti
Sebuah pelukan, sepotong wajah yang pecah
Semua saling bertanya,
Mengapa terjadi bencana?
Adakah Tuhan sedang murka?
Atau alam sekadar berkata?
Lidah api menjilat angkasa
Air bah meluap tanpa jeda
Kita terperangkap dalam duka
Mencari jawaban di antara doa
Mungkin kita lalai menjaga,
Hutan dibabat, laut dikeruk tiada tara
Bencana adalah cermin raga
Mengembalikan hak bumi yang sirna
Kita telah melihat betapa kecilnya diri,
Di hadapan Penguasa alam yang tak terperi
Jaga bumi, sebelum ia benar-benar lelah,
Sebab, damai dan bencana, datang dan berpindah.
Tapal Batas, 28 November 2025 [CM/Na]
Views: 32






















