Lelah yang Tak Sudah

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

#30HMBCM

Oleh: Yulianaturrahmah AY

CemerlangMedia.Com — “Bunda! Rotinya tinggal dikit! Aku nggak mau yang strawberry!”

Teriakan Lani memecah pagi seperti kaca retak. Belum sempat aku menoleh, suara Nisa menyusul dari kamar.

“Bun! Rok merah Nisa yang bersih ke mana? Yang ini bau matahari banget! Bunda tuh gimana sih?”

Tirai kamar tersingkap setengah, menampakkan onggokan baju yang diobrak-abrik. Aku menutup mata lima detik saja, berharap ketenangan turun dari langit. Tapi gagal.

“Nisa! Dari semalam Bunda bilang apa? Urus baju sekolahmu sendiri!”

Suara sendiri membuatku kaget. Itu bukan marah yang meledak, tapi marah yang lahir dari letih yang menumpuk terlalu lama. Seperti wadah penuh air yang akhirnya tumpah.

Di dapur, wajan gosong mengepul. Bau hangus bersaing dengan riuh seruan anak-anak.

“Bun! Pinggir rotinya keras!”

“Bundaaa! Naufal dorong Nisa!”

“Bunda, seragamnya kusut banget!”

“Sudah! Satu-satu!” suaraku meninggi. “Sarapan apa adanya dulu! Bunda bahkan belum selesai napas!”

Dari halaman, suara Adam ikut menyahut. Tenang, tapi entah kenapa justru terasa menambah berat.

“Mayda … kopi Abang mana? Mulut udah asem, nih.”

Aku menatap langit-langit dapur yang dihiasi sarang laba-laba kecil. Ada perasaan menyesak: rasa bersalah bercampur rasa ingin menyerah.

“Ya Rabb … Bunda cuma punya dua tangan, bukan tiga belas,” gumamku.

Pagi itu rumah kami bukan rumah.
Ia berubah menjadi pasar malam kecil: panas, ramai, dan saling bertumpuk suara.

Dan aku berdiri di tengahnya. Kerudung miring, hati kusut, pikiran berhamburan seperti puzzle jatuh ke lantai.

Ada lelah yang bentuknya tak terlihat, tapi rasanya menghantam dada seperti gelombang tanpa jeda.

Lelah yang tak sudah.

Sering aku merasa berjalan membawa beban yang tak berujung. Bukan karena tak mencintai anak-anak, bukan karena tak menyayangi Adam … tapi karena ritme seperti ini membuatku ingin menghilang sejenak. Di tempat yang kusebut rumah, aku seperti tak sempat bernapas.

Dulu kupikir menikah berarti tenang. Hidup penuh romansa. Ada Adam yang sabar, pekerja keras. Kupikir aku bakal diperlakukan bak ratu. Bukankah aku cinta pertamanya?

Tapi ternyata, pernikahan bukan hanya berbagi bantal dan janji indah.
Ia juga berbagi letih, berbagi ego, berbagi kesabaran yang diuji tiap hari.

Aku ingin rumah rapi, anak-anak tertib, suami pulang dengan senyum.
Teorinya indah. Praktiknya berantakan.

Ada malam-malam ketika aku duduk sendirian di meja makan, memandangi piring kotor, lalu bertanya:

“Apa aku ibu yang buruk?”
“Apa aku istri yang tak cukup baik?”

Kadang aku menepis pertanyaan itu. Kadang membiarkannya menggantung. Kadang aku menangis diam-diam.

Aku suka menulis. Menulis membuat jiwaku hidup. Tapi mengurus rumah yang berantakan? Aku benci. Lebih benci lagi kalau Adam mengingatkanku tentang tanggung jawab rumah tangga. Sering aku berharap punya tongkat ajaib agar semuanya beres tanpa perlu berjibaku sendiri.

Rumah kami makin tak nyaman. Anak-anak dengan polahnya, aku dengan emosiku, dan Adam … semakin sibuk dan semakin diam. Seolah kami berjalan berdampingan, tapi tak lagi saling pandang.

Sampai suatu hari, Hanin … tetangga sekaligus sahabat lamaku, datang lagi dengan ajakan yang sama: ikut kajian muslimah.

Sudah sering kutolak. Tapi entah kenapa, hari itu aku ikut. Mungkin karena bosan. Mungkin karena butuh ruang bernapas.

Awalnya aku datang sekadar pelarian. Tapi lama-lama … aku menemukan sesuatu.
Ada ketenangan yang tak bisa kusebut. Ada kesadaran yang mulai tumbuh. Aku ingin berubah. Aku ingin hijrah.

Namun ternyata, memperbaiki diri di luar rumah lebih mudah dibanding mempertahankannya di dalam rumah.

Begitu pulang, teori-teori itu luluh dihantam realita.

Suatu sore aku pulang dari kajian. Adam duduk di teras, wajahnya lelah, baju kerjanya penuh noda oli.

“Mayda … anak-anak belum makan dari siang,” katanya pelan.

Aku tertegun.

“Aku kira kamu sempat beliin nasi goreng.”

Adam menarik napas. Bukan marah, tapi kecewa.

“Aku baru pulang. Kamu ke mana aja?”

Nada itu menamparku lebih keras dari teriakan mana pun.

Malam itu ketika Adam masuk kamar sambil memijat kening, aku merasa runtuh.
Kenapa aku begini? Kenapa sulit sekali menata hidup?
Kenapa aku ingin jadi lebih baik, tapi justru makin berantakan? Aku sedang belajar, menata diri, tapi mengapa masih terlihat salah?

**

Hari berganti. Bengkel makin sepi. Adam makin sering batuk. Setiap kutanya, ia selalu bilang:

“Cuma kecapekan.”

Sampai suatu siang … tubuhnya roboh.

Di klinik, dokter bilang ia mengalami komplikasi lambung dan paru-paru.
Hatiku serasa dicengkeram.
Saat menebus obat, aku sadar: selama ini aku terlalu larut dalam lelahku hingga mengabaikan lelahnya Adam.

Untuk membantu keuangan, aku mulai mengajar ngaji dan les kecil-kecilan. Kupikir bisa meringankan keadaan. Tapi Adam justru gelisah.

“Mayda … kamu nggak harus kerja,” katanya serak. “Aku masih bisa cari uang.”

“Tapi kamu benar-benar lemah, Mas,” kataku meninggi. “Aku cuma mau bantu!”

Adam menunduk.
“Aku bukan butuh uangmu. Aku butuh kamu … ada. Di rumah.”

Kalimat itu membuatku terdiam.
Ternyata selama ini Adam takut menjadi beban. Walaupun tubuhnya tidak bisa dibohongi. Adam pekerja keras dari mudanya. Bekerja banting tulang bahkan tanpa memperhatikan kondisi kesehatan.

Beberapa hari kemudian, kondisinya memburuk. Adam pingsan. Aku dibantu para tetangga membawanya ke rumah sakit. Di ruang tunggu, aku menangis tanpa bisa menahan diri. Aku tidak siap jika sesuatu yang lebih buruk terjadi. Aku benar-benar rapuh.

“Ya Allah … aku cuma ingin taat. Tapi kenapa semuanya berantakan?”

“Aku ingin belajar lebih baik, tapi kenapa begitu berat? Kenapa begitu banyak cobaan?”

Hanin datang memelukku.

“Da … Allah nggak salah. Kadang Dia izinkan kita jatuh supaya kita sadar, selama ini kita bersandar pada apa.”

Ucapannya membuatku benar-benar menunduk pada kelemahanku sendiri.

**

Adam pulih perlahan. Tidak sekuat dulu, tapi cukup untuk mulai bercerita, mulai meminta, mulai jujur. Perlahan, kami belajar mengatur ulang ritme hidup. Mengurangi ekspektasi. Menerima bahwa kami bukan manusia super.

Aku tetap ikut kajian. Tapi kini aku pulang dengan hati yang lebih tenang, bukan ingin terlihat baik, tapi ingin sungguh-sungguh menjadi baik.

Suatu sore, saat menuangkan teh hangat, Adam tersenyum kecil.

“Sekarang aku tahu … Mayda yang dulu sedang pulang.”

Aku tersenyum.

“Aku nggak pernah pergi, Mas. Cuma … sempat nyasar.”

Kami tertawa. Aroma teh bercampur suara adzan maghrib jatuh lembut ke halaman. Untuk pertama kalinya dalam waktu lama, rumah terasa seperti rumah.

**

Catatan Hati Mayda

Dulu aku pikir menjadi ibu berarti harus sempurna, menjadi istri harus kuat, menjadi muslimah harus selalu siap. Tapi ternyata, Allah hanya ingin aku jujur: bahwa aku lemah, aku lelah, dan aku tetap membutuhkan Allah dalam setiap langkah.

Rapi tak selalu berarti tenang dan kacau tak selalu berarti gagal. Aku hanya harus sadar bahwa rumah ini, anak-anak, suamiku semua adalah ladang pahalaku.

Jadi hamba bukan soal tanpa cela, tapi tentang terus pulang kepada-Nya, meski terseok dan menangis. Meski telah tak akan pernah sudah.

Karena dalam setiap lelah yang tak sudah, ada pelukan Allah yang tak pernah berhenti. Jika kita senantiasa berusaha menjadikan standar hidup dan solusi hidup kita dengan aturan Allah.

Tamat

(*Naskah ini tidak disunting oleh editor CemerlangMedia) [CM/Na]

Views: 32

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *