Penghuni Tak Diundang: Diyara dan Boneka Beruang

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

#30HMBCM

Oleh: Yeni Nurmayanti

CemerlangMedia.Com — Sudah 12 tahun kami menikah dan memiliki empat orang anak, dua anak perempuan dan dua anak laki-laki, tetapi kami masih belum memiliki rumah sendiri. Kami belum mampu beli rumah dengan cara cash. Dari awal menikah, kami memang memiliki tekad untuk menghindari riba apa pun itu jenisnya, termasuk membeli rumah dengan cara kredit.

Jadi kami hanya bisa bersabar, berdoa, dan menabung sedikit-demi sedikit sampai akhirnya kami melihat iklan rumah dijual. Kami mencoba menghubungi nomor yang tertera di papan iklan yang di pasang di rumah tersebut.

Suamiku pun menghubungi pemilik rumah tersebut.
“Hallo… Pak, saya melihat papan iklan rumah dijual. Saya ingin survei rumah Bapak dan tanya-tanya harganya. Inshaallah, besok kami akan ke sana.”

Pemilik rumah itu pun menjawab, “Oh, boleh, Pak, datang saja ke sini, kebetulan rumah saya persis di sebelah kanan rumah yang mau dijual.”

Esok harinya, kami mendatangi rumah yang mau dijual tersebut. Kemudian Pak Sigit, sang pemilik rumah yang mau dijual itu mengajak kami melihat-lihat ruangan demi ruangan rumah itu. Rumahnya sangat lembab dan banyak rumput-rumput liar nan tinggi di sekeliling rumah itu.

Di dalam rumah tersebut, masih ada beberapa barang tertinggal di sana. Menurut Pak Sigit, rumah itu peninggalan almarhum orang tuanya. Dan Pak Sigit anak semata wayang. Ia tinggal hanya berdua dengan istrinya saja. Kedua anaknya tinggal di luar negeri, semua ikut dengan suami mereka. Jadi, rumah peninggalan orang tuanya itu tidak terurus.

Pak Sigit menjual rumahnya dengan harga murah karena lama tidak terurus dan tidak laku-laku. Setiap ada pembeli yang mau membeli, esok harinya selalu batal. Akhirnya, kami memutuskan untuk membeli rumah itu karena harganya murah.

Setelah proses jual beli rumah selesai, beberapa bulan kemudian kami mulai merenovasi rumah tersebut. Para tukang mulai mengeluarkan barang-barang yang masih tertinggal di rumah tersebut. Saat itu, kami hanya membawa Diyara, putri bungsu kami.

“Umi, lihat ada boneka di dekat tumpukan sampah barang-barang bekas itu.” Tanpa sempat aku menjawab perkataannya, Diyara sudah lari mengambil boneka yang ia maksud dan menunjukkan padaku.

“Sayang, ini boneka sudah kotor sekali, banyak debu dan sarang laba-labanya, buang saja ya, nanti kita beli yang baru.” Kataku sambil melemparkan boneka tersebut.

“Ih, Umi, kok dilempar, sih, gak papa kotor, nanti Yara cuci deh, biar bersih. Yara gak mau boneka yang baru. Boneka ini unik, Umi, Yara suka.” Diyara pun kembali memungut boneka yang sudah dilempar olehku.

Tak lama, Diyara mengajak pulang ke kontrakan karena ia sudah tidak sabar ingin mencuci dan bermain dengan boneka itu. Sampai di rumah kontrakan, Diyara mencuci sendiri bonekanya.Pertama ia mencuci pakai tangan, kedua kalinya ia mencucinya pakai mesin cuci agar bersih maksimal dan cepat kering.

Esok harinya, boneka beruang berwarna coklat dengan bahan kain velvet sudah kering dan bersih. Selepas pulang sekolah, Diyara langsung bermain dengan boneka itu. Ia begitu senang bermain boneka.

Malam pun tiba, aku terbangun karena ingin buang air kecil. Aku bergegas ke kamar mandi untuk BAK, lalu mengambil wudu karena waktu sudah menunjukkan pukul tiga dini hari. Aku lanjut salat Tahajud saat tiba di rakaat terakhir, aku mendengar suara riuh di dapur.

Hingga saat aku salat Witir, aku mendengar suatu benda jatuh, “Krak, Krak, Krak, Pluk!” Setelah aku selesai salat, akhirnya aku menuju dapur, tetapi di dapur tidak ada siapa-siapa atau benda jatuh. Aku berpikir, itu mungkin suara dari tetangga sebelah yang sudah bangun juga.

Aku melanjutkan berzikir dan berdoa. Suara riuh kembali terdengar, tetapi aku abaikan. Kemudian aku lanjut memasak di dapur, membuat bekal dan sarapan untuk suami dan anak-anakku. Saat sedang memasak, aku mendengar Diyara berbicara.

“Talia, tunggu aku! Jangan lari, Talia! Ayok, kita main!”

Aku berjalan menuju kamar anak-anak, kulihat Diyara masih tertidur. Aku berpikir Diyara sedang mengigau. Aku pun melanjutkan masak di dapur.

Sepulang sekolah, Diyara bermain boneka di kamar, kemudian aku mendengar Diyara memanggil, “Nek, Nek, sini main boneka, yuk, sama Diyara!” Aku menghampiri Diyara.

“Sayang, kamu bicara dengan siapa?” tanyaku pada Diyara.

“Itu Umi sama Nenek berambut putih, berkebaya merah, dari tadi dia hanya melihatku. Jadi, aku ajak main saja, deh.” Aku melihat ke sekeliling kamar, tetapi aku tidak melihat siapa pun, hanya Diyara di kamar itu.

“Sayang, Umi tidak melihat siapa-siapa di kamar ini, hanya Diyara dan Umi,” jawabku.

“Itu Umi, ada di depanku, aku sedang bermain masak-masakan sama nenek itu,” sahut Diyara.

“Sudah dulu mainnya, Diyara makan, ya. Simpan bonekanya di tempat mainan dan rapikan kembali masak-masakannya.” Diyara pun merapikan mainannya dan bergegas ke meja makan. Aku sudah mulai merasa ada yang aneh, tetapi kembali aku berpikir, mungkin itu hanya imajinasi anak-anak saja.

Setelah satu bulan, rumah baru pun selesai direnovasi. Di akhir pekan ini, kami akan pindah ke rumah baru. Kami mulai menyicil mengemas barang-barang agar pas waktu pindahan nanti tidak begitu banyak barang yang harus dikemas.

Hari pindahan pun tiba, mobil sewaan untuk mengangkut barang-barang sudah menunggu di depan rumah. Semua barang sudah siap diangkut. Kami pun pindah ke rumah baru.

Setibanya di sana, kami mulai merapikan dan menata barang-barang kami. Butuh waktu sekitar tiga hari hingga barang-barang itu benar-benar tertata rapi.

Rasa lelah sudah pasti, tetapi kami senang karena akhirnya memiliki rumah baru juga. Saat malam hari tiba, dapur rumah serasa ramai sekali dan itu bukan aku saja yang mendengarnya hampir semua anggota keluarga mendengar, kecuali Diyana karena sedang asyik bermain boneka di kamar sendirian.

Sementara yang lain berkumpul di ruang TV. Kami mendengar suara gaduh dan riuh, seolah sedang ada orang yang memasak sambil berbincang-bincang dari arah dapur.

Awalnya kami masih biasa saja karena kami pikir Buk Sigit sedang memasak dan ditemani Pak Sigit. Namun, kejadian itu berulang dan suara gaduh kadang berpindah-pindah dari kamar, ruang TV, hingga ke dapur. Dan saat kami sedang berbincang di ruang TV tiba-tiba vas bunga jatuh sendiri, disusul dengan gorden yang bergerak sendiri.

Anak-anak ketakutan hingga suamiku meminta semuanya untuk membaca Al-Qur’an bersama-sama. Gangguan di ruang TV itu pun berhenti. Namun tiba-tiba, Diyara menangis kencang dan seperti ketakutan. Aku segera menghampiri Diyara dan menggendongnya.

Aku berusaha menenangkan Diyara dan bertanya apa yang terjadi, tetapi ia hanya menangis sambil memelukku. Sudah satu jam Diyara menangis tak henti-henti hingga akhirnya ia tertidur di pelukanku. Aku mulai merasa cemas. Aku pun menceritakan semua yang terjadi pada suamiku bahwa Diyara saat masih tinggal di kontrakan dulu pun bersikap aneh.

Suamiku bilang, ia akan memanggil temannya yang bisa meruqyah orang atau rumah. Esok harinya, suamiku mengajak peruqyah tersebut ke rumah kami. Ia pun mulai berjalan melihat-lihat seluruh rumah kami, lalu kami diminta kumpul di satu ruangan dan ia mulai membacakan ayat-ayat Al-Qur’an.

Baru sepuluh menit ia membaca Al-Quran, Diyara sudah menjerit-jerit, berguling-guling, kadang tertawa kadang menangis. Peruqyah bertanya kepada Diyara.

“Kamu siapa, kenapa mengganggu keluarga ini?”

Diyara menjawab, “Anak ini telah mengambil rumahku, aku tidak punya tempat tinggal. Jadi, aku membawa keluargaku tinggal bersama keluarga anak ini, hahaha….” Diyara tertawa terbahak-bahak.

“Di mana kamu tinggal selama ini?”

“Aku tinggal di boneka yang suka anak ini mainkan. Sudah berpuluh-puluh tahun kami tinggal di sana, tetapi anak ini datang dan merebut tempat tinggal kami.”

Peruqyah itu pun lantas meminta makhluk astral itu untuk keluar dari tubuh Diyara dan jangan pernah masuk ke dalam tubuhnya lagi. Jika tidak, ia akan membunuh makhluk itu. Setelah itu, Diyara pun akhirnya sadar. Peruqyah itu lalu meminta boneka yang dimaksud makhluk astral itu.

Aku mengambil boneka beruang coklat dari kamar Diyara, kemudian peruqyah membawanya keluar rumah dan membakar boneka itu. Ia pun berpesan bahwa makhluk astral atau jin bisa menjadikan boneka, pohon-pohon besar atau benda-benda lainnya sebagai rumah bagi bangsa mereka. Sejak saat itu, kami tidak pernah lagi diganggu oleh jin-jin usil yang suka menggoda manusia. Diyara pun tidak suka bermain boneka lagi.

Tamat

(*Naskah ini tidak disunting oleh editor CemerlangMedia) [CM/Na]

Views: 23

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *