#30HMBCM
Penulis: Vivi Nurwida
CemerlangMedia.Com — Ada rasa sesak yang sulit dijelaskan ketika kita menatap layar dan melihat satu demi satu korban berjatuhan di Gaza. Rasa itu makin menekan ketika membaca berita tentang anak-anak Sudan yang kelaparan di tengah reruntuhan, ibu-ibu di Kongo yang bertahan dari kekerasan tanpa ada yang menolong, dan keluarga-keluarga Yaman yang berjuang hidup di tanah yang telah digerus perang selama bertahun-tahun. Belum lagi Muslim Uighur yang dipenjara di negeri sendiri atau saudara kita Rohingya yang terusir dari tanah kelahiran mereka.
Namun, dunia melanjutkan langkahnya seperti biasa. Harga saham tetap diperbarui, industri senjata tetap mencatat keuntungan, pejabat negara tetap tersenyum dalam konferensi pers, dan para pemimpin global tetap membahas “stabilitas”, seolah tragedi yang menimpa jutaan manusia hanyalah gangguan kecil dalam agenda diplomasi mereka.
Pada titik inilah kita harus bertanya dengan jujur dan dengan rasa perih yang nyaris tak tertahankan, berapa sebenarnya harga sebuah nyawa dalam sistem yang diberlakukan hari ini? Mengapa setiap tetes darah yang tumpah selalu tampak lebih ringan nilainya dibandingkan keuntungan politik dan ekonomi? Mengapa jeritan umat yang teraniaya hanya menjadi gema samar yang tidak pernah benar-benar didengar?
Pertanyaan-pertanyaan itu bukan hanya keluhan moral, tetapi realita pahit yang harus diakui. Sebab, di dunia yang dikendalikan kepentingan kapitalisme global, nyawa manusia, terutama nyawa muslim, sering kali jatuh pada titik paling murah dalam daftar prioritas.
Rasa sesak itu bukan hanya karena tragedi yang tiada akhir, tetapi karena dunia bersikap seakan semua itu adalah hal biasa, seakan nyawa-nyawa itu begitu murah hingga tidak layak diperjuangkan.
Nyawa yang Ditempatkan di Bawah Kepentingan
Kapitalisme, sistem kehidupan yang diterapkan hari ini tidak pernah memandang manusia sebagai makhluk mulia yang Allah anugerahkan kehormatan, sebagaimana firman-Nya,
“Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak Adam…” (QS Al-Isra’: 70).
Dalam sistem kapitalisme, manusia diturunkan menjadi angka, statistik, komoditas, aset yang bisa dikorbankan demi kepentingan ekonomi dan politik. Tragedi menjadi peluang, perang menjadi pasar, dan penderitaan menjadi komoditas simpati yang hanya digunakan bila menguntungkan.
Nyawa yang mulia berubah menjadi catatan rutin:
“260 gugur.”
“630 luka-luka.”
“Satu juta mengungsi.”
Begitu seterusnya. Seolah-olah manusia adalah barang yang keluar masuk gudang. Padahal setiap angka itu adalah seseorang yang punya nama, punya doa, dan harapan. Namun, kapitalisme melatih dunia untuk memandang tragedi bukan sebagai kerusakan moral, tetapi sebagai “fenomena yang harus dikelola.”
Konflik yang terjadi hari ini seolah tak pernah selesai. Ya, karena konflik yang terjadi adalah konflik yang sengaja diciptakan. Kapitalisme membutuhkan ketidakstabilan untuk mempertahankan dominasinya. Perang menciptakan pasar senjata terbesar di dunia, ketegangan yang terjadi membuka peluang diplomasi transaksional, negara miskin terpaksa bergantung pada bantuan yang penuh syarat, sumber daya alam di wilayah yang diciptakan perang menjadi mudah dikuasai.
Dalam logika kapitalisme, penderitaan bukanlah beban moral, melainkan peluang strategis. Oleh karena itu, tragedi di Gaza, Sudan, Kongo, Yaman, Uighur, atau Rohingya bukanlah suatu kebetulan. Semuanya mengikuti pola yang sama: kepentingan lebih berharga daripada manusia.
Dunia kapitalisme juga menentukan nilai nyawa berdasarkan lokasi dan kepentingan. Nyawa di Eropa dianggap jauh lebih penting daripada nyawa Muslim di Palestina. Tragedi di negeri Barat selalu mengundang duka internasional.
Namun, pembantaian bertahun-tahun atas Muslim Uighur, Rohingya, atau rakyat Gaza tak pernah memicu reaksi berskala besar. Kemanusiaan dalam kapitalisme bukan standar moral, tetapi standar kepentingan.
Pandangan Islam tentang Nyawa Manusia
Berbeda dari kapitalisme, Islam memuliakan satu jiwa lebih dari seluruh dunia. Allah berfirman,
“…bahwa barang siapa membunuh seseorang, bukan karena orang itu membunuh orang lain, atau bukan karena berbuat kerusakan di bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh semua manusia. Barang siapa memelihara kehidupan seorang manusia, maka seakan-akan dia telah memelihara kehidupan semua manusia…” (TQS Al-Ma’idah: 32).
Rasulullah saw. menegaskan, “Kehancuran dunia ini lebih ringan di sisi Allah dibandingkan pembunuhan seorang Muslim.” (HR An-Nasa’i)
Tidak hanya itu, bahkan nyawa non-muslim yang terikat perjanjian pun dimuliakan,
“Barang siapa membunuh kafir mu’âhad, ia tidak akan mencium wangi surga…” (HR Al-Bukhari)
Inilah bukti bahwa Islam adalah agama yang sangat tinggi dalam menjaga hifzhun-nafs, perlindungan atas jiwa manusia. Namun hari ini, umat Islam hidup tercerai-berai dalam lebih dari 50 negara. Tidak ada satu pun pemimpin tunggal yang menjadi pelindung sebagaimana sabda Nabi saw,
“Imam (khalifah) itu perisai; manusia berperang di belakangnya dan berlindung kepadanya.” (HR Muslim).
Tanpa perisai itu, nyawa kaum muslimin menjadi murah di mata dunia.Tidak ada yang menuntut keadilan.Tidak ada yang memaksa penjajah berhenti. Tidak ada negara yang berani menantang kapitalisme global.
Penutup
Kita hidup di dunia yang lebih memperebutkan harga minyak daripada harga nyawa manusia. Dunia yang mempertahankan sistem, bukan mempertahankan martabat manusia.
Dan selama sistem kapitalisme tetap menjadi poros peradaban, nyawa akan terus menjadi angka di layar berita.
Di sinilah umat harus bertanya:
Apakah kita rela hidup dalam sistem yang menjadikan nyawa begitu murah?
Ataukah kita siap kembali pada sistem Allah yang memuliakan satu jiwa lebih dari seluruh dunia?
Jawaban itu akan menentukan masa depan umat dan masa depan kemanusiaan.
Wallahu a’lam bisshawab.
(*Naskah ini tidak disunting oleh editor CemerlangMedia) [CM/Na]
Views: 32






















