Antara Booth yang Digelar dan Perusahaan Formal yang Gulung Tikar

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

Penulis: Neti Ernawati
Aktivis Muslimah

Melalui penerapan syariat Islam secara kafah dalam sistem politik, ekonomi, dan pendidikan, kesejahteraan rakyat tidak hanya diperoleh dari pekerjaannya. Akan tetapi dari pelaksanaan pemerintahaan yang baik dan bebas dari kapitalisasi, seperti terjaminnya pendidikan dan kesehatan yang gratis, murahnya listrik dan bahan bakar, serta tidak adanya pungutan pajak.

CemerlangMedia.Com — Makin banyaknya booth minuman yang bermunculan dipinggir jalan, seperti es teh jumbo, thai tee, kopi, es oyen, dan lainnya akhir-akhir ini tentu bukan karena geliat pasar dalam memanfaatkan momen El Nino Godzilla. Jauh sebelum muncul fenomena memanasnya suhu permukaan laut pasifik yang memicu panas ekstrem di Indonesia, booth jualan sudah lebih dahulu menjamur. Bahkan, bukan hanya booth yang menjual minuman, tetapi juga makanan.

Dilansir dari akun sanjaya_retail dalam unggahannya pada platform instagram (20-10-2025), disebutkan bahwasanya dalam lima tahun terakhir, bisnis minimarket di Indonesia tumbuh cepat diangka 39%. Hal ini sejalan dengan peningkatan gerai booth jualan, terutama yang berbasis kontainer atau booth portable yang juga mengalami peningkatan pesat dalam kurun waktu tersebut.

Bermuculannya pekerja informal, seperti booth makanan dan minuman serta usaha minimarket ini adalah rentetan panjang dampak dari banyaknya PHK dan minimnya lapangan kerja formal. Pekerja yang terkena PHK, umumnya beralih menjadi pedagang kaki lima, buruh tani, pekerja rumah tangga, atau mitra ekonomi gig.

Negara Kehilangan Banyak Sektor Formal

Kasus PHK memang tidak menunjukkan penurunan. PHK massal pada 2025 mencapai angka 88.519 orang, meningkat sekitar 13,54 persen dibandingkan dengan tahun 2024. Tahun 2026, pada bulan-bulan awal saja sudah terjadi 8.000 PHK (uijkt.ac.id, 03-05-2026).

Kabar menyedihkan menyusul beberapa saat setelah peringatan hari buruh pada 1 Mei 2026. PT Multistrada Arah Sarana, perusahaan produsen ban di bawah naungan Michelin, melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap 130 pekerjanya di bagian logistik (Spsibekasi.org, 04-05-2026).

Kemudian gulung tikarnya PT Krakatau Osaka Steel (KOS), perusahaan patungan antara PT Krakatau Steel Tbk dan Osaka Steel Co., Ltd. Perusahaan ini tercatat megalami kerugian sejak 2022 dan tidak mampu menghadapi tekanan baja impor murah di pasar domestik (detikfinance.com, 5-5-2026).

Lonjakan Pekerja Informal

Alih-alih membuka lapangan kerja baru, menghentikan lonjakan PHK saja tidak mampu. Negara dihadapkan pada situasi terbatasnya lapangan kerja, sementara pencari kerja makin banyak. Inilah bukti bahwa negara gagal menciptakan lapangan kerja bagi rakyat.

Ketimpangan jumlah tenaga kerja dan ketersediaan lapangan kerja membuat posisi tawar pekerja menjadi rendah. Alternatif membuat usaha sendiri (UMKM) pun banyak menjadi pilihan.

Mau tidak mau, struktur ketenagakerjaan Indonesia akan makin didominasi oleh sektor informal dengan kualitas pekerjaan yang relatif rendah, seperti pedagang kaki lima (PKL), pekerja lepas (freelancer), buruh tani, asisten rumah tangga (ART), tukang ojek/pengemudi transportasi online, pedagang asongan, keliling, atau pemulung. Lantas, apakah peralihan pekerja dari sektor formal ke setor informal ini bernilai baik?

Kabar baiknya, hal tersebut mengurangi jumlah pengangguran di Indonesia. Kabar buruknya, pekerja informal sering kali bekerja tanpa jaminan sosial, memiliki pekerjaan tidak tetap, dan nilai pendapatan rendah. Makin banyak pekerja informal, tantangan ke depannya adalah daya beli masyarakat yang makin rendah dan menurunnya kualitas pertumbuhan ekonomi.

Inilah sesungguhnya dampak dari sistem ekonomi kapitalisme, yaitu sistem yang menyebabkan kesenjangan dan kemiskinan struktural. Sistem ini mengedepankan asas manfaat dan keuntungan.

Kebijakan pemerintah lebih berpihak pada pemilik modal yang memberikan manfaat dan mengesampingkan kebutuhan rakyat yang seharusnya menjadi amanah dan wajib diurus negara. Rakyat justru dijadikan pion yang diambil saat dibutuhkan dan dibiarkan mengurus nasib sendiri saat tidak dibutuhkan.

Islam Menjamin Ketersediaan Lapangan Kerja

Pengurusan lapangan kerja bukanlah hal baru dalam tata laksana pemerintahan. Berabad tahun yang lalu, sistem pemerintahan Islam telah melaksanakan tugas tersebut dengan baik dan berhasil menghilangkan angka kemiskinan.

Dalam sistem pemerintahan Islam atau kekhalifahan, semua hal yang berkenaan dengan pengurusan hajat hidup rakyat adalah tanggung jawab negara. Kekhalifahan wajib memastikan pemenuhan kebutuhan dasar rakyat yang berupa pangan, sandang, dan papan terpenuhi dengan baik.

Bantuan untuk rakyat tidak diberikan dengan cuma-cuma layaknya bantuan langsung tunai, tetapi diberikan dengan alur yang baik dan mendidik, sebagaimana kisah Rasulullah yang memberikan kapak kepada seorang pemuda. Lalu dengan tangannya, Rasulullah mengajari pemuda itu memotong kayu. Tidak berhenti di situ, Rasulullah juga menyuruh pemuda itu menjual potongan kayu ke pasar dan mengevaluasi hasil kerjanya selang lima belas hari kemudian.

Pemerintah memiliki kewajiban membantu setiap laki-laki dewasa dapat bekerja sesuai dengan bidang dan kemampuan agar mampu menafkahi keluarganya. Pemerintah memfasilitasi rakyat bukan hanya dari hulu, tetapi hingga hilir, dari proses produksi hingga distribusi. Petani yang tidak memiliki tanah garapan akan diberikan lahan, difasilitasi sarana irigasi, pupuk, dan pelatihan pertanian. Peternak yang tidak memiliki ternak akan diberikan ternak, difasilitasi lahan penggembalaan.

Melalui penerapan syariat Islam secara kafah dalam sistem politik, ekonomi, dan pendidikan, kesejahteraan rakyat tidak hanya diperoleh dari pekerjaannya, tetapi dari pelaksanaan pemerintahaan yang baik dan bebas dari kapitalisasi, seperti terjaminnya pendidikan dan kesehatan yang gratis, murahnya listrik dan bahan bakar, serta tidak adanya pungutan pajak karena hal itu dilarang dalam pemerintahan Islam, kecuali dalam keadaan tertentu. Kesadaran rakyat pun akan mengarah pada pola pikir bahwasanya manusia tidak hanya mengejar karir duniawi, tetapi juga karir sebagai hamba Allah yang mencari keridan-Nya semata. [CM/Na]

Views: 4

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *