Giok Putih Nona Myeonghwa

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

#30HMBCM

Penulis: Adine Azaria
Bab 8 Kabur fari Istana

CemerlangMedia.Com — Sebagai seorang pangeran kecil yang telah dilantik menjadi Putera Mahkota, Wang Won rutin mendapatkan pelajaran khusus sedari usia dini. Hari-harinya di istana Manwoldae selalu dihiasi dengan belajar bahasa Mongol, Goryeo, dan Han klasik, penulisan huruf hanja, etika dan adab di istana, filsafat konfusian, sejarah, bela diri panahan dan pedang, mengendarai kuda, seni dan kebudayaan tradisional, pembentukan karakter dan kepribadian, dan lainnya. Semua pendidikan khusus ini membentuk Wang Won kecil menjadi cerdas dan peka, tetapi juga sering merasa tertekan dan kesepian.

Seperti pagi ini, saat dirinya diharuskan membaca buku pelajaran sejarah leluhur dari keluarga ibunya, yaitu sejarah leluhur Mongol hingga habis sampai halaman terakhir, Wang Won merasa jenuh dan penat. Baru dua per tiga buku itu ia baca, tetapi kemudian berhenti, memberikan tanda pembatas halaman, dan menutupnya.

Wang Won menjatuhkan kepalanya di atas meja yang ada di hadapannya, kemudian menghela napas dan memejamkan mata sejenak. Dia ditemani dua orang kasim dari Yuan, kasim anak-anak seusia dirinya bernama Nasan, dan kasim dewasa bernama Toghan. Dengan perlahan kasim Nasan mendekati Wang Won dan mengatakan,

“Yang Mulia, Anda harus menyelesaikan membaca hingga halaman terakhir, mengulanginya, dan mengingatnya, sampai sebelum waktunya makan siang bersama Ibunda Ratu. Kalau tidak, bagaimana nanti Yang Mulia akan menghadapi tes pertanyaan dari guru sore nanti?”

Kasim Toghan memandang Wang Won dengan ekspresi kasihan. Menurutnya, anak sekecil itu tidak perlu terlalu dipaksa belajar sekeras ini. Jadwal belajar pangeran Wang Won sangat padat selama seminggu penuh. Wajar saja jika majikan kecilnya merasa lelah dan penat. Kasim Toghan mengeluarkan sapu tangan dari sutra miliknya, lalu membungkuk di dekat Wang Won dan menyeka keringat di dahi tuannya dengan lembut, kemudian bertanya dengan nada khawatir,

“Yang Mulia, apa Anda lelah dan suntuk? Jika iya, saya rasa tidak apa-apa mengambil waktu istirahat sebentar. Karena Yang Mulia sangat cerdas, saya yakin. Yang Mulia bisa mengingat semua isi buku yang telah dibaca dan lolos uji oleh guru.”

Dengan cepat Wang Won bangkit dan berkata dengan girang, “Benarkah? Aku boleh mengambil jeda istirahat? Yeay! Kalau begitu, aku ingin jalan-jalan sebentar ke dapur istana!”

“Untuk apa Yang Mulia pergi ke sana? Kan, nanti Yang Mulia juga akan menyantap hidangan bersama Ibunda Ratu?” tanya Kasim Nasan penasaran.

“Aku hanya ingin jalan-jalan dan melihat-lihat saja,” jelas Wang Won.

“Tapi, aku hanya ingin berdua saja dengan Kasim Nasan. Boleh, kan, Toghan?” Lanjut Wang Wong dengan nada memelas.

Kasim Toghan mengangguk lalu memberikan persetujuannya, “Baiklah Yang Mulia, tetapi ingat, Yang Mulia hanya punya waktu satu jam saja. Saya dan rombongan dayang Anda akan menunggu di sini.”

“Terima kasih, Kasim Toghan. Kalau begitu, Nasan, ayo kita pergi sekarang!” Deru Wang Won sambil menggandeng tangan Kasim Nasan dan menariknya berlari keluar dari ruang belajar.

“Yang Mulia, tu … tunggu dulu …. Anda tidak boleh berlari kencang seperti ini di dalam koridor istana ….” Nasan mengingatkan Tuannya dengan suara terengah-engah.

Kaki Wang Wong sangat gesit dan lincah. Dia sangat kencang berlari. Dengan senyum lebar terbuka, dia balas berkata,

“Sudahlah, Nasan. Kau tidak perlu terlalu patuh dan kaku dengan aturan tata tertib istana jika sedang berdua saja denganku. Kita adalah teman.”

Wang Won dan Nasan memakai sepatu mereka dengan cepat lalu kembali berlari kencang menuju dapur istana. Rombongan dayang yang melihat mereka merasa cemas, tetapi apa daya, ini semua permintaan dari Putera Mahkota Wang Won sendiri. Dia sebetulnya sengaja berpura-pura suntuk dan lemas agar kasim Toghan merasa kasihan padanya. Wang Won tahu betul, dia dapat memanfaatkan sisi iba yang selama ini terlihat dari kasimnya.

Sejak kemarin malam, dia sudah merencanakan sesuatu, yaitu menyelinap keluar dari istana. Dia merasa bosan dan terkekang. Sudah sebelas tahun sejak lahir terus dikurung di tempat besar dan mewah ini. Ingin rasanya sesekali melihat dunia luar dan mengetahui kegiatan rakyatnya.

Wang Won dan Nasan tiba di dapur istana. Para dayang dan pelayan dapur istana yang melihatnya langsung terkejut dan buru-buru membungkuk dalam serta memberikan salam. Mereka semua sedang mempersiapkan hidangan makan siang bagi keluarga kerajaan di istana. Mereka menanyakan, ada apa gerangan secara tiba-tiba Wang Won ke sana. Dia lalu bertanya, di mana tempat pasokan bahan makanan dari luar disimpan. Kemudian dengan didampingi kepala koki istana, Wang Won dan Nasan pergi ke tempat penyimpanan bahan makanan.

Wang Won menyuruh kepala koki istana untuk melanjutkan pekerjaannya dan meninggalkannya berdua saja dengan Nasan. Awalnya, kepala koki Istana sempat ragu-ragu, tetapi karena Wang Won meyakinkan dirinya tidak apa-apa karena ada seorang kasim cilik di sampingnya, akhirnya kepala koki Istana menurutinya dan kembali ke area memasak. Di dekat gudang penyimpanan itu, Wang Won melihat banyak kurir berusia anak-anak seperti dirinya yang keluar-masuk mengantarkan pasokan rempah-rempah dari Pasar Arabia.

Sesuai dengan dugaannya selama ini. Hari ini adalah jadwalnya anak-anak itu untuk keluar-masuk istana. Wang Won sudah menyiapkan rencana ini sejak lama. Di sudut ruangan gudang, ada dua buntalan berisi sesuatu yang sudah dipersiapkan sebelumnya.

Sejurus kemudian, Wang Won berjalan menghampiri rombongan kurir dan diam-diam menarik seorang anak berkulit gelap yang sebaya dengannya dan menutup mulutnya, membawanya ke sudut yang sepi. Anak itu ketakutan. Nasan yang dari tadi mengikutinya makin merasa resah.

“Sssstttt, jangan bersuara. Ini aku, pangeran negara ini. Kamu akan tetap aman selama mau menuruti perintahku. Mengerti? Apakah kamu mau menurut atau tidak?”

“Yang Mulia, apa yang Anda lakukan? Sebenarnya Yang Mulia ke mari untuk apa?” tanya Nasan dengan gemetar dan deg-degan.

Anak itu melihat ukiran naga dengan benang di baju sutra yang dipakai Wang Won. Dia tahu itu memang pangeran sekaligus Putera Mahkota. Anak itu akhirnya mengangguk pasrah dan menuruti keinginan Wang Won. Dia ingin berganti pakaian dengan anak itu, dan memberikannya pakaian ganti lain yang mirip dengan pakaian kurir pasar. Wang Won harus memakai pakaian anak itu karena satu setelan dengan topi bambu lebar.

Dia harus memakai topi itu agar wajahnya tak terlihat dan bisa leluasa keluar melalui gerbang khusus kurir bersama rombongan. Wang Won juga meminta plat kayu identitas kurir yang dimiliki anak itu, serta memberikan pakaian ala kurir pasar juga kepada Nasan. Wang Won berjanji akan memberinya satu keping emas dan perak untuk anak itu jika mau bekerja sama. Nasan sempat menangis dan memohon agar Wang Wong tidak melakukan hal ini, tetapi tekad Wang Won telah bulat dan kuat, jadi Nasan tidak kuasa untuk menahannya pergi.

Wang Won, Nasan, dan anak berkulit gelap itu akhirnya sampai di gerbang untuk ke luar. Ia menyerahkan plat kurirnya sambil menunduk agar wajahnya tak terlihat, dan berkata bahwa ia plat itu untuk rombongannya tiga orang. Nasan hanya bisa diam dan tertunduk. Tidak ada penjaga gerbang yang mengenali wajahnya karena memang jarang sekali ke sini. Mereka bertiga akhirnya lolos dan berhasil keluar istana. Wang Won sangat senang dan melompat riang. Dengan semangat ia berkata kepada anak berkulit gelap itu,

“Ayo, kawan! Tunjukkan aku di mana Pasar Arabia!”

“Ba, baik…. Yang Mulia….” Jawab anak itu dengan gugup dan rasa bersalah.

(*Naskah ini tidak disunting oleh editor CemerlangMedia) [CM/Na]

Views: 13

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *