Musuh dalam Selimut

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

#30HMBCM

Oleh: Nurhy Niha

CemerlangMedia.Com — “Putra Timur… kamu bisa jelaskan kenapa kamu ada di sini?” Tanya papa menggebrak meja.

Aku takut sekali, papa tidak pernah semarah ini padaku. Menyebut namaku lengkap saja itu sudah tanda papa marah, apalagi ini sampai menggebrak meja. Bahkan, papa tak ingat kalau ini adalah kantor polisi.

“Pa, aku dijebak…. hasilnya negatif. Aku hanya berada di tempat yang salah.” Aku menangis memeluk kakinya.

Papa diam tanpa memperdulikanku. Andai papa dan mama tak berpisah, mungkin aku tak ada di sini sekarang. Aku lebih baik melihat mereka bertengkar daripada seperti ini. Ingatanku tiba-tiba kembali ke beberapa waktu lalu.

Ting… bunyi notifikasi pesan masuk.

Kulihat ternyata papa yang memintaku nginap di rumahnya akhir pekan ini. Muak rasanya setiap waktu dipingpong, kadang tinggal bersama mama kadang bersama papa.

Lima tahun lalu papa dan mama berpisah. Karena aku masih di bawah umur, jadi aku tinggal bersama mama. Awalnya berjalan lancar, aku akan bertemu papa hanya ketika aku libur atau ketika aku ingin bersama papa. Walau kita berpisah, aku merasa lebih tenang karena pada saat kita bersama, tak jarang aku menyaksikan pertengkaran mereka.

Ketika mama memutuskan untuk menikah lagi, muncul masalah baru. Suami mama tidak bekerja karena beberapa bulan setelah menikah dia kecelakaan sehingga tidak bisa bekerja dengan dengan keadaan seperti itu. Aku sumber uang mereka, ketika kesulitan uang, mama akan menelepon papa untuk meminta uang dengan alasan untuk biaya hidupku.
Mereka bersenang-senang dengan uang dari papa. Beberapa bulan aku pernah telat bayar uang bulanan sekolah, padahal papa sudah memberikan uangnya pada mama. Papa mulai curiga karena aku tidak mengikuti outing class, padahal papa sudah kirim uang tambahan kalau ada sekolah. Pada saat aku menginap di rumah papa, tiba-tiba papa bertanya.

“Dam, kamu kenapa gak ikut acara outing class?” Tanya papa.

“Aku pergi bersama Mama ke rumah nenek, Pah, nenek sakit,” jawabku.

“Pa, boleh aku tinggal bersama Papa saja?” Tanyaku ragu.

Papa diam, seperti memikirkan sesuatu.

“Papa kan kerja di luar kota, jadi Papa tidak bisa merawatmu setiap hari. Kalau kamu mau ikut bersama Papa, kita harus pindah dan Mama pasti tidak akan setuju,” jelas papa.

Aku sangat ingin tinggal bersama papa walaupun harus tinggal di luar kota daripada bersama mama. Sebelum menikah lagi, mama sangat baik padaku, tetapi setelah punya keluarga baru, mama berubah. Mama lebih fokus pada kelurga barunya. Sempat suatu hari aku menginap di rumah teman tanpa mengabari mama, tetapi mama tidak mencariku.

Aku rasa mama sudah tidak menyayangiku lagi, mama hanya butuh aku untuk mendapatkan uang dari papa. Papa memang sangat baik. Sayangnya, papa selalu sibuk kerja sampai waktu bertemu kita hanya sedikit. Saat papa sedang libur, mama akan mengantarkan aku untuk tinggal bersama, tetapi saat papa kerja, aku tinggal bersama mama. Itulah yang hampir dua tahun ini aku rasakan dipingpong bagaikan bola.

Beberapa bulan ini aku sering sekali main hingga larut malam. Pergi bersama teman sekolah nongkrong tidak jelas. Kumpulan anak broken home saling adu nasib. Cerita sedih anak broken home yang memiliki rumah, tetapi bukan tempat untuk pulang. Banyak teman-temanku yang ikut-ikutan geng motor, tawuran, bahkan pemakai obat terlarang meski kami masih SMP.

Anak-anak broken home sengaja membuat masalah, mencari perhatian orang tuanya. Orang tua dipanggil sekolah untuk menyelesaikan masalah. Anak yang seharusnya diperhatikan, malah disalahkan. Bahkan, beberapa orang tua mengeluarkan sejumlah uang agar masalah anaknya tidak sampai dimuat di media massa.

Akhir-akhir ini banyak sekali berita tentang kenakalan remaja, mulai dari perundungan sampai merenggut nyawa, tawuran anak sekolah, begal yang dilakukan geng motor. Bahkan, kemarin ada 15 anak di Surabaya dinyatakan positif narkoba. Miris sekali bukan, nasib teman-temanku ini. Katanya mau jadi generasi emas, tetapi malah membuat hati ini makin cemas.

Papa dan mama memang berpisah tetapi papa selalu berusaha menjadi papa yang baik. Papa selalu memastikanku mendapatkan pendidikan terbaik dan papa selalu mengajarkanku menjadi anak yang baik.

Setiap bersama papa, aku selalu bermain sepuasnya dan tidak lupa kami mengikuti kajian rutin untuk menyeimbangkan dunia dan akhirat. Papa tahu, usia remaja sepertiku usia pencarian jati diri, serba ingin tahu, semua ingin dicoba. Saat ada kasus geng motor di sekolahku, papa langsung menemuiku di rumah mama. Takut aku terlibat karena papa ingat, sebagian dari mereka adalah teman nongkrongku.

Aku memang sering berkumpul dengan mereka. Namun saat malam hampir larut, aku selalu pulang. Walau aku tak tinggal bersama papa, dia selalu memastikanku pulang ke rumah mama. Kalau di rumah papa sudah pasti kami boys time, maklum tidak setiap minggu kami bertemu.

Keuangan mama makin sulit, selain karena papa yang sekarang langsung membayarkan keperluanku, mama juga baru saja melahirkan. Keadaan di rumah seperti neraka, mama cepat sekali marah hanya karena hal sepele. Aku ingin membantu mama mencari uang.

Aku ingat temanku, ada yang kerja part time sebagai kurir dan uangnya lumayan untuk bantu mama. Kalau minta papa, aku tidak enak karena ini bukan untuk keperluanku. Terlebih, aku sudah sering memberikan uang jajanku untuk bantu mama.

Aku menemui temanku yang bekerja sebagai kurir karena ini pekerjaan paling aman. Kalau ikut geng motor atau begal, aku tidak berani karena itu kejahatan kata papa. Aku mulai bekerja keesokan harinya, hanya mengantarkan paket, cukup mudah bukan?

Aku mendapatkan uang Rp50.000/paket, termasuk besar bila dibandingkan kurir paket lainnya. Aku tak tahu paket apa yang aku antarkan. Temanku bilang, ini paket ekslusif, dibungkus sangat rapi dan tidak ada keterangan di paketnya. Aku nanti akan ditelepon untuk mengantarkannya ke suatu alamat.

Suatu hari, aku mengantarkan paket ke sebuah rumah di pusat kota. Rumahnya tampak sepi. Aku beranikan diri masuk ke dalamnya, di sana ada beberapa anak seusiaku dalam keadaan tak sadarkan diri. Tidak ada tanda orang yang pesan paket. Bingung, aku pun menelepon temanku dan bruk… tiba-tiba polisi datang. Menggerebek tempat itu dan semua yang ada di sana termasuk aku digiring ke kantor polisi.

Niatku membantu mama harus berakhir di kantor polisi. Ternyata paket yang selama ini aku antarkan adalah obat terlarang. Mereka sengaja mencari anak di bawah umur sebagai kurir untuk mengecoh polisi. Teganya dia menjebakku, kukira temanku, ternyata. Padahal dia tahu aku tak akan suka berurusan dengan kejahatan seperti ini.

Apakah dia bisa disebut musuh dalam selimut? Sebelum menerima pekerjaan ini, aku sudah curiga, 50 ribu untuk satu paket. Paket apa yang aku kirimkan? Dan kenapa pekerjaan ini hanya remaja yang melakukannya.

Dia cerita, paket ini barang berharga. Kalau diantarkan kurir, biasa risikonya sangat tinggi, bisa dibawa kabur. Alasan yang masuk akal, tetspi ternyata semuanya bohong.

Aku membuat papa kecewa dan mencemarkan nama baiknya. Kasus ini viral di media sosial. Dengan narasi sepihak, aku dianggap komplotan pengedar. Astaga, duniaku hancur karena pemberitaan ini. Papa dan mama saling menyalahkan di kantor polisi. Andai aku tak menjadi kurir, pasti semua baik-baik saja.

Aku tak tahu harus berbuat apa, aku akan menuruti semua yang papa perintahkan. Papa pasti akan menolongku. Kasus ini cukup menguras energi. Berbulan-bulan kami ikut persidangan walau aku hanya saksi. Setelah selesai kasusnya, papa memutuskan, aku meneruskan pendidikan di sekolah berasrama. Papa tahu, aku tidak senang tidak punya tempat tinggal tetap. Papa tidak ingin mengulang kesalahan, aku tercemari pergaulan yang tidak baik.

Kejadian ini sangat berharga, ternyata seberpengaruh itu teman. Walaupun aku tidak terlibat, tetap saja masih terbawa-bawa. Fondasi keimanan dan peran keluarga adalah kunci utama. Aku tidak bisa bayangkan bagaimana kalau papa lepas tangan. Mungkin nasibku tidak jauh berbeda dengan mereka.

(*Naskah ini tidak disunting oleh editor CemerlangMedia) [CM/Na]

Views: 14

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *