#30HMBCM
Penulis: Adine Azaria
Bab 6 Baghdad Perlahan Bangkit
CemerlangMedia.Com — Saat sebelum Baghdad benar-benar hancur dan ditaklukkan Mongol, keluarga kakek Ahmad (Bani Al-Samhari) sudah jeli membaca situasi perpolitikan dunia dan merencanakan pengungsian ke Syam (Aleppo – Suriah). Mereka bisa mengetahuinya berkat jaringan informasi yang mereka miliki tersebar hingga ke timur jauh. Keluarga Bani Al-Samhari sendiri berasal dari distrik Karkh di Baghdad, banyak yang menjadi pedagang dan pengrajin dari mereka.
Meski kakek Ahmad hanya pedagang kecil yang sederhana, namun seluruh saudaranya serta anak-anak kakek Ahmad berhasil sukses dan menjadi kaya raya dari berdagang. Kondisi tersebut ikut mengangkat status sosialnya. Tak ada dari keluarganya yang memiliki kemampuan militer dan masuk dalam kemiliteran Khilafah Abbasiyah kecuali adiknya yang paling kecil, komandan Amirudin.
Malangnya, meski sudah merencanakan pengungsian, tetap saja banyak dari kalangan Bani Al-Samhari yang tewas dalam pembantaian. Meski begitu, dengan kekayaan, jaringan informasi rahasia, dan sumber daya lainnya yang dimiliki, sebagian Bani Al-Samhari berhasil menetap sementara di Aleppo dan mengamankan harta benda mereka untuk bekal bertahan hidup dan bangkit, termasuk keluarga kakek Ahmad.
Saat mengungsi, usia Tuan Hasan masih enam belas tahun, tetapi sudah pandai berdagang, pandai dalam ilmu agama, dan memiliki keahlian sebagai pengrajin aneka perhiasan mahal. Anak-anak dan keluarga kakek Ahmad yang lainnya banyak yang secerdas Hasan. Oleh karena itu, mereka bisa dengan mudah bangkit dari keterpurukan.
Baghdad dan seluruh Irak akhirnya dikuasai oleh Ilkhanate, cabang dari Mongol di Persia. Pusat Kekhilafahan berpindah ke Mamluk – Mesir, sedangkan kaum muslimin di Baghdad – Irak hanya mendapatkan legitimasi Khalifah secara kepemimpinan keagamaan, namun tidak secara politik. Setelah penaklukkan berhenti, Baghdad mulai bangkit dan diperbaiki.
Banyak kaum muslim yang tadinya mengungsi kembali ke kampung halamannya, termasuk Bani Al-Samhari. Perlahan rumah-rumah penduduk, pasar-pasar, masjid, pusat ilmu pengetahuan dan yang lainnya mulai dibangun, meski hanya dalam skala kecil-menengah, dan tidak semegah sebelumnya. Kakek Ahmad sebagai kepala keluarga menginstruksikan agar keluarganya tidak terlihat seperti pedagang kaya yang sukses di mata rezim Ilkhanate. Hal tersebut dikarenakan orang-orang Mongol itu selalu rakus dan merampas apa saja yang mereka bisa ambil, dilihat dari betapa kejinya mereka melakukan invasi.
Kaum muslim bersepakat untuk kembali membangkitkan peradaban Islam di sana dan mengembalikan marwah (kehormatan) serta harga diri umat secara perlahan. Maka, dakwah dan muamalah pun kembali dimulai. Rezim Mongol bersifat terbuka dan pragmatis terhadap kaum muslimin. Mereka mengambil kesepakatan dengan umat Islam.
Keamanan umat Islam untuk berdagang dan bekerja sesuai bidangnya sangat dijamin. Karena Mongol melihat umat Islam banyak yang cerdas dan berpengalaman dalam banyak sekali bidang. Mongol memerlukan kecerdasan dan tenaga mereka untuk membangun dinastinya. Saat Yuan resmi berdiri, banyak umat Islam yang menjadi pekerja ahli di bidangnya yang dipekerjakan di Yuan. Akan tetapi untuk urusan kepemimpinan politik, Yuan – Mongol tetap yang menjadi pemimpin.
Pedagang muslim banyak yang berlalu lalang di jalur sutra. Ada juga yang berpindah, menetap, menikah dengan orang Yuan, Han, maupun Goryeo dan suku lainnya, serta menyebarkan agama Islam, kemudian membentuk komunitas-komunitas dan pemukiman kaum muslimin.
Begitu pula yang dialami keluarga kakek Ahmad. Keempat putranya yaitu Umar, Yahya, Khalid, dan Hasan, semuanya diutus untuk berdagang antar negara melalui jalur sutra. Hanya Tuan Hasan yang akhirnya sampai di Goryeo, membawa istrinya Yasmin dan putranya Mush’ab. Bersama dengan pedagang Uighur dan muslim Hui Hui dari Tiongkok, mereka membentuk komunitas muslim yang menetap di Gaegyong, mendirikan Pasar Arabia, rumah makan halal, lapangan untuk salat Jumat dan salat Eid, serta membangun pemukiman dan Musholla.
Saat itu usia Mush’ab baru sepuluh tahun ketika tiba di Goryeo, dan baru saja menamatkan hafalan Al-Qur’an seluruhnya. Tahun-tahun berikutnya dengan cepat ia belajar bahasa Mongol, Han mandarin, dan Goryeo, sambil belajar berdagang dan menjadi pengrajin perhiasan seperti ayahnya. Penampilan mereka sederhana, namun siapa sangka sesungguhnya mereka sangat kaya, ditambah kecerdasan dan memiliki banyak keahlian.
Umat Islam yang dipekerjakan di istana Yuan maupun Goryeo, juga pedagang-pedagang muslim yang melewati jalur sutra, sepakat untuk melanjutkan jaringan informasi rahasia dan mengembangkannya, demi kepentingan politik umat Islam di Abbasiyah Mamluk – Mesir. Semua itu bertujuan agar tragedi 1258 tidak terjadi lagi. Dan juga untuk mempererat ukhuwah Islamiyyah dari keaneka ragaman suku dan kebangsaan.
Umat Islam meski dalam pengawasan Mongol – Yuan, masih berharap agar suatu saat nanti terlepas dari belenggu dan membalikkan keadaan. Juga demi impian mewujudkan salah satu nubuat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, yaitu mempersiapkan generasi-generasi berikutnya untuk menaklukkan Konstantinopel dan kembali menjadi negara adidaya nomor satu di dunia.
(*Naskah ini tidak disunting oleh editor CemerlangMedia) [CM/Na]
Views: 16






















