#30HMBCM
Oleh: Vivi Nurwida
CemerlangMedia.Com — Rumah merupakan tempat berlindung, tempat seseorang kembali setelah letih, tempat anak-anak berlari tanpa rasa takut, tempat keluarga berkumpul berbagi cerita. Namun, bagi jutaan saudara-saudara seakidah di berbagai penjuru bumi, rumah bukan lagi sebuah lokasi, melainkan kenangan. Ia tinggal dalam ingatan: bagaimana suara ibu di dapur, pekarangan kecil tempat bermain, hingga ruang keluarga tempat bercengkerama.
Hari ini, bagi mereka, rumah telah menjadi puing-puing. Lingkungan telah berubah menjadi zona perang. Langit tidak lagi menjanjikan hujan, tetapi bom. Ketakutan bukan lagi sesuatu yang datang sesekali, tetapi menjadi bagian dari hidup sehari-hari.
Di Gaza, seorang anak bangun bukan untuk pergi sekolah, tetapi untuk memastikan keluarganya masih hidup setelah malam yang panjang. Di Sudan, keluarga yang bertahun-tahun tinggal di tanah leluhurnya, kini harus menyeberangi padang tandus demi selamat dari baku tembak antar faksi yang dipicu perebutan pengaruh politik global.
Di Rakhine, ribuan muslim Rohingya berusaha bertahan dari diskriminasi yang membuat mereka terusir dari tanah kelahiran sendiri. Muslim Uighur di Xinjiang, terus berada dalam bayang-bayang represi yang membuat identitas, budaya, bahkan keyakinannya direnggut secara sistematis.
Mereka semua memiliki satu kesamaan, yaitu kehilangan rumah, tanah air, dan rasa aman. Semuanya dalam satu waktu yang sangat cepat.
Pengungsian Bukan Sekadar Perpindahan, tetapi Luka yang Melekat
Setiap hari, dunia menyaksikan barisan panjang manusia yang berjalan tanpa tahu ke mana kaki akan membawa mereka. Ada perempuan tua memapah cucunya. Ada ayah yang menggendong anak yang sudah kelelahan. Ada ibu yang hanya membawa satu tas lusuh berisi serpihan hidup yang tersisa.
Menjadi pengungsi bukan sekadar meninggalkan rumah. Ia adalah kehilangan identitas. Kehilangan masa depan. Kehilangan hak asasi paling mendasar, yaitu hak untuk hidup dengan aman di tanah kelahiran sendiri.
Bahkan, setelah mereka tiba di kamp pengungsian, penderitaan tidak berhenti. Tidak ada kepastian hari esok. Tidak ada jaminan pulang. Tidak ada perlindungan politik yang melindungi mereka sebagai umat yang memiliki martabat dan harga diri.
Padahal, dalam pandangan Islam, seorang muslim seharusnya hidup di bawah naungan keamanan yang dijamin oleh pemimpinnya. Mereka berhak atas penjagaan, perlindungan, dan keamanan. Namun hari ini, umat justru menjadi “makanan” yang diperebutkan kekuatan global, sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:
“Hampir saja bangsa-bangsa akan memperebutkan kalian sebagaimana orang-orang memperebutkan makanan dalam sebuah mangkuk.” Seorang sahabat bertanya, “Apakah saat itu jumlah kami sedikit?” Beliau saw. menjawab, “Tidak, bahkan jumlah kalian banyak, tetapi kalian bagaikan buih di lautan…” (HR Abu Dawud)
Hadis ini bukan sekadar ramalan. Ia adalah kenyataan yang sedang dilihat dan dirasakan hari ini.
Akar Masalah: Hilangnya Pelindung Umat
Tidak bisa dimungkiri, tragedi pengungsian umat Islam tidak muncul begitu saja. Ini bukan sekadar konflik antar suku, bukan sekadar problem kemiskinan, bukan pula sekadar krisis politik internal. Ada skenario besar yang bekerja, yaitu penjajahan, perebutan sumber daya, perang proxy, dan dominasi kekuatan global yang menargetkan negeri-negeri muslim sebagai lahan kepentingan.
Ketika Gaza dibombardir, dunia hanya mengeluarkan “keprihatinan”. Ketika Rohingya dibantai, dunia hanya memproduksi “pernyataan”. Ketika Sudan direkayasa kekacauannya demi SDA-nya, dunia hanya mengirim “bantuan kemanusiaan”. Ketika Uighur ditekan, dunia menimbang untung rugi diplomatik. Begitu seterusnya.
Semua gambaran ini memperlihatkan satu hal, yaitu umat tidak memiliki pelindung yang bisa menjaga mereka dari hegemoni kekuatan global, padahal Rasulullah saw. telah menegaskan:
“Sesungguhnya imam itu adalah junnah (perisai). Orang-orang berperang di belakangnya dan berlindung dengannya.” (HR Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menjelaskan bahwa dalam Islam, keberadaan seorang pemimpin bukan hanya simbol administratif, tetapi pelindung nyata yang menjaga darah, harta, dan kehormatan umat. Tanpa perisai itu, umat menjadi sasaran empuk penjajah. Tanpa perisai itu, rumah-rumah muslim hancur tanpa ada yang membela. Tanpa perisai itu, tanah air direbut tanpa ada yang mampu melawan. Tanpa perisai itu, jutaan muslim harus hidup sebagai pengungsi di dunia yang tidak peduli.
Harapan Itu Masih Ada
Meski demikian, penderitaan umat bukan tanpa makna. Ia menjadi alarm keras bahwa umat ini tidak boleh terus hidup tercerai-berai, tidak boleh terus menjadi penonton dari hilangnya satu demi satu wilayah mereka, dan tidak boleh terus meratap tanpa tahu solusi.
Air mata seorang ibu di Gaza adalah panggilan bagi seluruh umat. Langkah rapuh seorang anak Rohingya adalah seruan bagi hati-hati yang masih hidup.
Kesengsaraan keluarga Sudan adalah bukti bahwa penjajahan masih nyata.
Semua tragedi ini menuntun kita pada satu kesimpulan, umat ini membutuhkan kembali perisai yang pernah membuat dunia segan menyentuh mereka.
Umat Islam pernah memiliki struktur yang membuat rumah-rumah aman, wanita berjalan tanpa takut, anak-anak tumbuh dengan damai, dan musuh berpikir seribu kali untuk menyentuh batas negeri Islam. Bukan nostalgia. Ini fakta sejarah dan selama umat ini masih hidup, harapan itu belum padam.
Penutup
Tragedi pengungsian adalah luka besar dalam tubuh umat, luka yang tidak boleh dibiarkan terus menganga. Air mata mereka adalah amanah. Penderitaan mereka adalah panggilan. Teriakan mereka meminta perlindungan, tidak boleh terus dijawab dengan hening.
Sebab, rumah yang aman, tanah air yang terlindungi, dan pemimpin yang menjadi junnah, itulah hak setiap muslim. Selama hak itu belum terwujud, perjuangan belum selesai.
Wallahu a‘lam bisshawab
(*Naskah ini tidak disunting oleh editor CemerlangMedia) [CM/Na]
Views: 20






















