#30HMBCM
Karya: Fitri Nur Laila
Bab 7 Menikah Lagi
CemerlangMedia.Com — Di ruangan yang tampak dengan berbagai peralatan salon, Tina dengan penampilan elegan tengah melakukan creambath pada seorang gadis belia yang rutin melakukan perawatan di salonnya. Setelah creambath selesai, ia juga melakukan manicure dan pedicure. Gadis itu merasa puas dengan pelayanan di salon yang terkenal paling murah di antara salon lainnya di wilayah itu.
Selang beberapa saat setelah gadis itu keluar dari salon, tampak ibu-ibu berambut keriting sebahu menggunakan kaos hijau pendek dan celana doreng tiga perempat masuk ke dalam salon.
“Tin, tolong buat rambutku seperti model iklan sampo di televisi,” ucap ibu itu sambil membelai rambutnya dengan jemarinya.
Tina mendekati ibu itu lalu mengamati dengan seksama rambutnya. “Mpok Rini mau yang bagaimana? Ion, rebonding, atau smoothing?” tanyanya dengan ciri khasnya yang selalu ramah tamah pada setiap pelanggannya.
“Yang paling bagus apa?” ibu itu melirikkan matanya seolah berpikir.
“Smoothing yang paling bagus, tetapi harganya juga lumayan,” jelas Tina tersenyum tipis.
“Berapa?”
“Di aku, adanya smoothing matrix, cuma 250 ribu,” terangnya landai.
“Oke, aku ambil itu,” putus ibu itu dengan tatapan yakin.
“Baik, kalau begitu Mpok Rini duduk dulu di kursi, aku akan mempersiapkan segala sesuatunya,” perintah Tina, kemudian dia berjalan ke arah kotak peralatan perawatan salon yang ada di pojok salon.
Sesekali deritan kipas angin terdengar berdecit berlomba dengan suhu kota yang mulai terasa gerah. Foto-foto terpajang dengan apik di setiap tembok salon. Mulai dari style rambut dan foto Tina yang dengan berbagai warna rambut untuk contoh jenis pewarnaan rambut. Ada juga foto beberapa artis ternama sebagai contoh hair style yang lagi ngetrend saat ini.
Tina mendirikan salon itu saat pertama kali merantau ke Surabaya bersama seorang temannya yang juga dari Blitar, tetapi temannya itu bekerja di sebuah mall di pusat kota. Awalnya, ia datang ke Surabaya karena mendapatkan panggilan kerja dari surat lamaran yang ia kirimkan lewat pos.
Namun, tidak untuk Tina, dia memang berniat membuka salon di Surabaya berbekal ilmu yang dia miliki. Bermodal uang dari orangtuanya, Tina langsung mendirikan sebuah salon kecil yang ia sewa dari warga setempat. Setelah beberapa tahun berjalan dengan jatuh bangunnya, akhirnya salon Tina mulai dikenal banyak orang.
Suatu sore saat Tina sedang bersantai, tiba-tiba terdengar suara orang mengucap salam.
“Assalamu’alaikum,” ucap seseorang dari luar.
“Walaikumsalam,” jawab Tina dari dalam sambil berjalan ke arah pintu depan.
Tina terlonjak mengetahui siapa yang datang. “Mas Rahman, sendirian saja?” tanyanya sambil celingukan, barang kali ada temannya di belakang nyusul.
“Eh, iya sendirian. Teman-teman yang lainnya sedang pergi mancing.”
“Mas nggak ikutan?” tanya Tina dengan ciri khas suara landainya yang lembut.
“Nggak, lagi males. Mending main ke rumahmu,” Pak Rahman tersenyum hangat dan menggoda, matanya terpanah untuk terus menatap wajah cantik Tina.
Mendengar dan melihat sikap Pak Rahman, Tina menjadi tersipu malu. Terlihat semburat merah di kedua pipi Tina. Wajah tampan Pak Rahman memang selalu mampu menyihir siapa pun wanita yang menatapnya. Apalagi jika sudah berbicara dengan ciri khasnya yang tenang dan santai. Pasti akan terasa asyik dan menyenangkan.
Tina, wanita yang memiliki sifat ekstrovert, tentu saja mereka bagai dua kutub magnet yang tarik-menarik dan nyambung saat berbicara. Hingga tanpa terasa, waktu bergulir dengan cepat, jarum jam sudah menunjukkan pukul lima sore. Teh dan kripik singkong yang disuguhkan di meja juga sudah terlihat habis.
Pak Rahman berpamitan pulang, sambil sesekali mengulas senyuman sebelum benar-benar pergi. Tina merasa waktu yang dihabiskan tadi hanya sekejap, ia berniat, apabila ada waktu senggang, ingin menghampiri ke tempat kostnya.
Setelah pertemuan itu, bunga-bunga cinta di antara Pak Rahman dan Tina mulai bermekaran. Mereka menjalin cinta seperti layaknya anak muda yang sedang kasmaran. Sampai akhirnya mereka memutuskan untuk menikah.
Pernikahan mereka dilangsungkan di kediaman orang tua Tina di Blitar. Mereka menikah secara sederhana, hanya dihadiri oleh keluarga inti saja. Setelah tinggal beberapa hari di Blitar, mereka pun memutuskan untuk kembali ke Surabaya untuk mengais rezeki kembali di sana.
Sementara itu, di Desa Warujati, ayah Pak Rahman sedang sakit keras. Sudah hampir sebulan ia tidak turun dari ranjangnya. Berbagai macam obat dan usaha kesembuhan lainnya yang dilakukan seperti tak membuahkan hasil.
Setiap malam, di rumah Pak Rahman selalu ramai dengan para sanak saudara dan tetangga yang menjenguk ayah Pak Rahman. Di Desa Warujati, rasa tenggang rasa pada tetangga memang masih tinggi. Mereka juga selalu bergotong royong dan guyub saat ada acara ataupun saat tetangganya tertimpa musibah dan mengalami kesulitan.
Malam itu hujan turun dengan derasnya, udara dingin terasa begitu menggigit di kulit ari. Di rumah Pak Rahman tampak Bu Lika tengah membacakan surah Yasin di samping tubuh tua dan lemah yang hanya tinggal tulang dan kulit itu. Ia tak lagi bisa membuka matanya, tetapi masih bisa mendengar suara yang ada di dekatnya.
Hanya tuntunan doa yang terlafaz, memberikan semilir kehangatan dan ketenangan di indera pendengarannya yang mampu membuat jiwanya mengingat akan Sang Pencipta dunia ini.
Meskipun mata tak lagi mampu terbuka dan tubuh tak lagi mampu bergerak, tetapi hatinya mampu melihat dan menuntunnya untuk mengucapkan kalimat-kalimat suci Allah Swt..
Di penghujung napasnya yang tersisa, ayah Pak Rahman akhirnya mampu mengucap kata terakhir untuk dunia, “Ashadu an la ilaha illallah wa ashadu anna Muhammadan Rasulullah”.Tak terdengar, tetapi bergema di dinding-dinding kamar.
Malam itu para bapak-bapak di sekitar rumah Pak Rahman melakukan melehan hingga pagi, mereka bergantian menunggu jenazah sampai datangnya pagi. Mak Lika dan menantu lainnya bergotong royong mengatur semua keperluan untuk esok pagi. Sedangkan saudara yang lainnya mengabarkan kabar duka itu pada Pak Rahman, keluarga di Surakarta, dan saudara yang jauh lainnya lewat telepon.
Pagi harinya saat Pak Rahman bekerja, sang mandor menyampaikan kabar duka itu sebelum pekerjaan dimulai.
“Man, turut berduka cita ya atas meninggalnya Bapakmu, kamu aku izinkan pulang sampai acara tahlilan selesai,” ucap mandornya memberi izin.
“Baik, Mas, terima kasih,” jawab Pak Rahman merasa lega.
Pak Rahman pulang dan memberi tahu kabar akan kematian bapaknya pada Tina. Setelah menikah, Pak Rahman tidak lagi tinggal di kosan, ia tinggal bersama di rumah kontrakan Tina. Pak Rahman sebenarnya sudah merencanakan bulan depan pulang ke Warujati untuk mengenalkan istri barunya pada keluarganya.
“Tin, kita ke Madiun sekarang! Bapakku meninggal semalam. Tadi dikasih tahu Bang Joni,” Pak Rahman terlihat panik dan tergesa. Ia ingat selama ini tidak pernah punya waktu untuk pulang kampung karena sibuk dengan pekerjaannya.
“Innalillahi… Mas, belum sempat aku mengenal Bapakmu sekarang sudah meninggal,” tampak kesedihan di dalam tatapan mata Tina.
“Bapak memang sudah sakit-sakitan sejak lama, tetapi akhir-akhir ini sakitnya lebih parah. Waktu itu, Bapak mengeluh dadanya sakit, persendiannya terasa nyeri, dan darahnya tinggi,” Pak Rahman teringat kembali saat terakhir bertemu dengan dirinya.
“Bapak berumur berapa, Mas?” tanya Tina.
“Kira-kira 80 tahunan lebih, Tin,” Pak Rahman berusaha mengingat-ingat.
“Ya, mungkin memang umurnya sudah di garis segitu, Mas,”
“Benar kamu, Tin. Bapak memang sakit tua, jadi penyakitnya itu hal yang lumrah terjadi,” ucap Pak Rahman menimpali.
Setelah itu, mereka bersiap-siap untuk berangkat ke Madiun. Mereka membawa satu tas besar berisi keperluan mereka selama di desa nanti. Hati Tina merasa berdebar tak menentu karena ini adalah kali pertama dirinya ke kampung halaman suaminya.
Setelah menaiki bus kota, mereka berhenti di terminal dan dilanjutkan naik bus jurusan ke Madiun. Sekitar dua jam, mereka baru sampai di terminal Purboyo. Dari sana, mereka harus naik ojek untuk sampai di Desa Warujati yang memakan waktu hingga 30 menit dari terminal.
Sepanjang perjalanan, Tina dibuat terpanah dengan pemandangan alam menuju Desa Warujati. Jalanannya seperti ular yang sedang merayap ke atas gunung, meleok-leok dan berbengkok-bengkok seolah sedang menari di atas tebing yang curam. Setiap tikungan seperti sebuah karya seni, menampilkan pemandangan yang berbeda dan memesona.
Sesampainya di kediamannya, Pak Rahman mendapati sudah banyak orang melayat yang berlalu-lalang. Pak Rahman sedikit kecewa mengetahui jenazah bapaknya sudah dimakamkan setengah jam yang lalu. Namun, dia mengerti jika orang yang sudah meninggal itu harus segera dimakamkan, apalagi mengingat meninggalnya sudah sejak semalaman.
Yang terlihat berbeda saat sampai di rumahnya adalah pandangan orang-orang kepada Tina. Mereka terkaget sekaligus bertanya-tanya, siapakah wanita yang bersama Pak Rahman? Kekasih baru ataukah temannya? Namun di antara mereka semua mengira Tina adalah kekasih barunya Pak Rahman, mengingat sifatnya yang sangat suka berpetualang cinta.
“Ini siapa, Man? Pacar kamu?” tanya Mak Karsia seraya menatap Tina dengan penuh selidik.
“Bukan, Mak, dia bukan pacarku… tetapi istriku,” jawab Pak Rahman sambil tersenyum tipis dan mata berbinar.
“Apa? Istrimu?” Mak Karsia seperti tidak percaya dengan pernyataan yang keluar dari mulut anak bungsunya itu. Ekor matanya terus menatap Tina tanpa berkedip, sekejap waktu terasa terjeda.
“Iya, Mak! Perkenalkan, ini istri baruku, Tina. Kami menikah sebulan yang lalu di Blitar. Rencananya mau memberitahu keluarga bulan depan, tetapi karena Bapak meninggal, jadinya aku ajak sekarang,” jelas Pak Rahman.
“Tina…” Tina pun mengulurkan tangan dan mencium tangan emak Pak Rahman dengan mata berbinar dan senyuman hangat. Sementara emak Pak Rahman hanya bisa tersenyum hampa.
(*Naskah ini tidak disunting oleh editor CemerlangMedia) [CM/Na]
Views: 23






















