#30HMBCM
Karya: Fitri Nur Laila
Bab 11 Istri Ketiga
CemerlangMedia.Com — Senja itu, cahaya emas menyinari dunia, membawa kabar bahagia, kelahiran anak Pak Rahman dan Tina telah tiba. Bayi kecil cantik, anugerah Tuhan, hadir di tengah-tengah mereka, membawa tawa dan air mata.
Dunia yang tadinya sunyi, kini dipenuhi dengan suara tangisan manja. Mereka kemudian memberi nama Risna pada bayi mungil berkulit putih bak salju yang baru turun dengan lembut ke bumi dan pipi yang merah merona.
Kehidupan adalah sebuah misteri yang tak pernah bisa ditebak. Apa yang akan terjadi besok, lusa, atau bahkan detik berikutnya, tak ada yang tahu. Seperti hubungan Pak Rahman dan Tina, yang dahulunya penuh cinta, kini berubah menjadi kebencian.
Setahun setelah kelahiran Risna, hubungan mereka sudah seperti api yang hampir padam. Pak Rahman dan Tina sering bertengkar hanya karena masalah kecil dan cinta Pak Rahman pada Tina tergerus oleh tingginya ego yang menguasai.
Perbedaan cinta dan benci itu memang tipis, seperti garis yang digariskan di atas air, mudah berubah dan tidak pasti. Mereka kini sama-sama saling membenci dan selalu bersitegang. Setelah proyek mall selesai, Pak Rahman meninggalkan Tina begitu saja tanpa kata dan tanpa putusan. Tina sendiri sudah tidak peduli lagi dengan Pak Rahman, dia sudah muak dengan segala tingkah lakunya yang selalu membuat hatinya berdarah.
Waktu berlalu seperti hembusan angin kencang, membawa jauh tanpa disadari. Hari berganti minggu, minggu pun berganti bulan, dan bulan berganti tahun. Kenangan akan masa lalu pun memudar.
Pak Rahman kini bekerja di Bali, mengerjakan sebuah proyek restoran. Ia mencari tempat kost untuk tempat tinggalnya di daerah sekitar proyek dan menemukan sebuah lingkungan yang asri dan tenang. Pagi itu, bertepatan dengan hari Ahad dan libur kerja, Pak Rahman berjalan-jalan di sekitar kost, menikmati pemandangan yang masih asri bersama teman-teman sepekerjanya.
Saat berjalan menelusuri kebun buah dan sayur-sayuran, ia tanpa sengaja melihat seorang gadis tengah memanen paprika merah. Wajahnya yang cantik membuat Pak Rahman terpanah. Dalam hatinya timbul rasa ingin mengenalnya.
“Maaf, Mbak, apa boleh saya membeli sedikit paprikanya?” teriak Pak Rahman yang berjarak cukup jauh dari gadis itu.
Gadis itu menoleh, ia terdiam sejenak kemudian mendekati Pak Rahman yang ada di jalan setapak dekat kebunnya.
“Boleh, Bli mau membeli berapa?” tanya gadis itu tersenyum ramah.
Pak Rahman terpesona oleh kecantikan dan keramahan gadis itu.
“Saya mau sekilo,” jawabnya, membalas senyuman gadis itu.
Gadis itu mengambil kantong plastik berukuran kecil, lalu kembali ke tempat tadi ia memanen paprika dan memindahkan beberapa paprika yang sudah dipanennya dari karung putih ke dalam kantong plastik kecil itu.
Setelah kantong plastik penuh, gadis itu segera menghampiri Pak Rahman dan memberikan paprika di tangannya.
“Ini Bli. Kalau di toko, harga sekilo 20 ribu, kalau di saya 15.000 saja. Itu tadi sama saya tambahi beberapa buah,” terangnya dengan sorot mata datar, tetapi masih dengan keramahan.
Pak Rahman tersenyum, merasa telah menemukan sesuatu yang istimewa.
“Iya, makasih, Mbak… tapi… anu… saya nggak bawa uang. Tadi sebenarnya cuma jalan-jalan aja pengen tahu daerah sekitar sini. Nanti uangnya saya antar ke rumahnya Mbak, ya! Saya kos di kos-kosannya Pak Ketut,” jelas Pak Rahman dengan wajah serius.
Gadis itu tersenyum kecil, lalu ia berbalik badan hendak kembali ke tempat ia memanen paprika tadi.
“Oh, Bli kos di Pak Ketut, dekatnya pura itu, ya? Kebetulan itu paman saya. Soal uangnya, gampang, nanti kalau ketemu lagi bayarnya,” ujarnya, meninggalkan Pak Rahman yang masih terpesona oleh kecantikan dan keramahan gadis itu.
“Tunggu… boleh saya tahu namanya Mbak, siapa?” Dengan percaya diri, Pak Rahman memberanikan diri bertanya. Dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk berkenalan dengan gadis itu.
Gadis itu terhenti di tempatnya berdiri sambil mengangkat sebelah alisnya, kemudian ia menghadap ke arah Pak Rahman, sorot matanya terlihat tajam, dan bibirnya tersenyum tipis.
“Nama saya Kadek,” katanya dengan suara lembut.
“Saya Rahman,” sambut Pak Rahman dengan suara jelas dan senyum terkembang. Dalam hatinya begitu girang karena ia berhasil berkenalan dengan gadis Bali.
Setelah pertemuan itu, Pak Rahman sering menghampiri Kadek di kebunnya, entah itu saat hari Ahad ataupun hari-hari biasa saat sore hari. Kadek sendiri orangnya sangat rajin dan telaten dalam bertani sayur. Terlihat dari hasil kebunnya yang tumbuh dengan lebat dan terawat.
Kadek, meskipun terlihat cuek, tetapi dia adalah gadis yang perhatian dan dermawan. Setelah mengenal Pak Rahman lebih dekat, Kadek merasakan nyaman dengan sikapnya yang hangat dan ramah. Mereka juga saling memberikan perhatian, pengertian, dan kasih sayang.
Sampai saat rasa sayang itu berubah menjadi cinta, Pak Rahman ingin memiliki Kadek seutuhnya dengan menikahinya.
Kadek sendiri juga jatuh cinta pada Pak Rahman. Ia merasa Pak Rahman adalah lelaki yang paling tulus mencintainya dibandingkan dengan laki-laki lain yang menyukainya. Namun, cinta mereka terhalang oleh keyakinan dan pertentangan keluarga besarnya yang tidak menyukai lelaki Jawa.
Kadek hanya mempunyai ibu tiri yang menyayanginya seperti anaknya sendiri. Ibunya meninggal saat ia berumur 10 tahun, ayahnya menikah lagi dua tahun kemudian. Lalu ayahnya meninggal dunia saat ia berusia 15 tahun.
Setelah bermusyawarah, keluarga besar Kadek akhirnya merestui hubungan cintanya dengan Pak Rahman, tetapi dengan syarat, pernikahan mereka harus dilaksanakan secara Hindu. Pak Rahman pun menyetujui persyaratan itu.
Setelah menikah, Pak Rahman dan Kadek hidup di Bali. Kadek tetap menjadi petani sayur dan Pak Rahman tetap bekerja di proyek. Dua tahun setelah menikah, Kadek baru mengandung, saat kandungannya masih berumur tujuh bulan, ia mengalami keguguran karena aktivitas Kadek yang terlalu keras.
Setahun kemudian, Kadek kembali mengandung, dan lagi-lagi ia harus kehilangan janin dalam kandungannya karena aktivitasnya yang tak bisa ia tinggalkan. Rasa sedih menyelimuti hati Kadek karena dua kali ia harus kehilangan calon anaknya.
Setelah peristiwa keguguran itu, entah kenapa Kadek seperti sulit untuk mengandung lagi. Pak Rahman merasa inilah saat yang tepat untuk kembali ke kampung halamannya di Desa Warujati. Dengan segala pertimbangan, Pak Rahman mengajak Kadek tinggal di Desa Warujati. Kadek pun menurut tanpa keberatan yang berarti.
Sesampainya di Desa Warujati, Pak Rahman mengulang pernikahannya dengan Kadek secara muslim di masjid setempat. Kadek menurut saja karena ia sangat mencintai Pak Rahman. Pengorbanan adalah bagian terpenting dari cinta.
Meskipun begitu, Kadek masih melakukan ritual dan kebiasaan yang selalu dilakukannya di agamanya. Seperti membuat sandingan untuk leluhur setiap malam Jumat. Dan memajang foto atau gambar dari para dewanya. Di Bali, Kadek memang dikenal sebagai seorang Hindu yang taat.
Berita pernikahan Pak Rahman dengan Kadek akhirnya sampai di pendengaran Pak Wisnu. Sementara Bu Rani tak menggubris, hatinya sudah keluh dan membeku untuk merasakan rasa yang diciptakan ayah dari anak-anaknya itu. Namun, berbeda dengan Pak Wisnu, dia merasa Pak Rahman sudah keterlaluan dan ingin mendatangi Pak Rahman ke Desa Warujati.
Selama ini ia sudah bersabar menghadapi kelakuannya yang makin hari makin menjadi. Dahulu Pak Wisnu mengira, setelah ditinggal Bu Rani, ia akan berpikir dan berharap, suatu saat Pak Rahman menyadari kesalahannya. Namun, salah besar jika Pak Wisnu menganggap Pak Rahman adalah seorang sesederhana pemikirannya.
“Ayah, ini fotoku saat aku menang pertandingan sepak bola di kecamatan,” Darwin berlari kecil menuju Pak Rahman sambil membawa foto dirinya bersama teman-temannya yang sedang membawa piala kemenangannya bertanding sepak bola.
“Kamu hebat, Win,” puji Pak Rahman seraya memegang foto yang diberikan Darwin untuknya. Senyum lebar dan binar mata Pak Rahman menggambarkan rasa bangga pada anak pertamanya itu.
“Wah, dapat piala sama uang, ya,” sahut Kadek sambil mengambil alih foto di tangan Pak Rahman, ia mencoba mendekatkan diri pada anak tirinya yang baru pertama kali bertemu dengannya.
Awalnya Kadek tidak tahu kalau Pak Rahman sudah pernah menikah dua kali dan memiliki anak. Saat di Bali ia tak mengatakan apa pun, dan Kadek mengira Pak Rahman seorang bujangan. Saat tinggal di Desa Warujati inilah semua kebenaran terungkap. Awalnya, saudara dan para tetangga yang memberi tahu.
Lalu Kadek bertanya sendiri pada Pak Rahman tentang desas-desus kehidupannya sebelum menikah dengannya. Dengan berat hati, akhirnya Pak Rahman mengakui semuanya di hadapan Kadek.
Ternyata Kadek tidak marah, ia bisa menerima apa adanya keadaan masa lalu Pak Rahman. Justru kemudian ia ingin menjalin silaturahmi dengan istri dan anak-anaknya dari pernikahan yang terdahulu. Dan hari ini, setelah genap setahun Kadek tinggal di Desa Warujati, ia bisa bertemu dengan anak pertama Pak Rahman, Darwin.
Awalnya, Kadek kaget karena Pak Wisnu yang sengaja mengantar Darwin ke Desa Warujati seperti marah-marah kepada dirinya. Ia seperti tak terima dengan kehadiran wanita lain di dalam kehidupan Pak Rahman. Namun, amarah Pak Wisnu mereda saat tahu Kadek adalah wanita yang legowo dan berbesar hati menerima Darwin, Diandra, dan Bu Rani dalam kehidupannya.
“Mana adik sama Ibu, Win? Kok, nggak ikut?” tanya Kadek lembut pada Darwin.
“Ibu sama adik lagi ada acara keluarga di Surakarta, jadi nggak bisa ikut,” jawab Darwin dengan raut wajah datar penuh kepolosan.
Satu kata yang tertahan di dalam hati dan jiwa Darwin. Kenapa, meskipun tawa dan canda selalu menghiasi bibirnya, ada belenggu kepedihan yang tak pernah bisa ia temukan ujungnya untuk mengurai dan melepaskannya.
(*Naskah ini tidak disunting oleh editor CemerlangMedia) [CM/Na]
Views: 23






















