Cinta di Ujung Senja

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

#H30MBCM

Karya: Fitri Nur Laila
Bab 8 Bertemu Madu

CemerlangMedia.Com — “Yah, aku dan Darwin besok mau ke Madiun. Bagaimanapun juga, yang meninggal adalah kakeknya anak-anak.” Bu Rani menyampaikan keinginannya untuk bertakziah ke Desa Warujati, kepada ayahnya yang sedang membersihkan sangkar burung di halaman rumah.

“Iya, Ran, Ayah juga mau ikut. Tapi kita berangkatnya hari Sabtu saja, biar nanti Darwin izin sekolahnya tidak terlalu lama,” jelas Pak Wisnu, terdengar masih ada nada kesal pada perkataannya. Ingatannya selalu tertuju pada Pak Rahman setiap kali mendengar kata Madiun.

“Baiklah, kalau keinginan Ayah seperti itu, sekarang masih hari Senin, masih lima hari lagi,” ucap Bu Rani manyun. Ia terpaksa menuruti kata ayahnya meskipun dirinya sebenarnya ingin berangkat esok hari.

“Oh, iya, Ran, nanti uang pensiun Ayah, tolong kamu ambilkan. Sekalian buat belanja keperluanmu sama anak-anak,” ucap Pak Wisnu seraya mengembalikan sangkar burung yang sudah dibersihkan ke tempat tautan paku yang tertancap di dinding teras. Di sana terpajang beraneka jenis burung koleksi Pak Wisnu, yang ia letakkan di teras samping rumah.

“Iya, Yah,” jawab Bu Rani dengan senyum terkembang. Ia baru ingat, kalau selama kembali dari Madiun, dia belum membeli baju baru sama sekali. Pikirannya hanya terfokus pada kebutuhan anak-anaknya. Rupanya hal itu sudah menjadi perhatian dari Pak Wisnu. Ia tahu jika Bu Rani selalu mengutamakan anak-anaknya ketimbang kebutuhannya sendiri.

Mungkin juga Bu Rani ingin membayar tuntas kekurangannya selama masih hidup di Desa Warujati. Sesak batinnya masih terasa nyata mengingat kesedihan Darwin saat teman-temannya bisa makan enak dan memakai baju yang layak. Sementara Darwin setiap hari bisa makan untuk menyambung hidup sudah bersyukur dan memakai baju bekas yang diberi orang lain yang merasa kasihan karena bajunya hanya beberapa saja, itupun penuh dengan tembel dan jahitan di sana sini.

Detak waktu berjalan terasa lamban, Bu Rani sudah tak sabar menanti hari Sabtu datang. Ia ingin segera bertakziah ke Madiun dan mengetahui keadaan di sana. Ia bahkan tak peduli jika nanti ada Pak Rahman ataupun tak ada. Hatinya sudah mati rasa terhadap laki-laki yang sering menancapkan serpihan luka di hatinya.

Hari ketujuh meninggalnya Pak Tarsim telah berlalu, kini saatnya ia dan Tina untuk kembali ke Surabaya.

Sabtu pagi mereka sudah berkemas dan meninggalkan Desa Warujati. Sementara itu di Surakarta, Bu Rani tengah bersiap-siap untuk berangkat ke Madiun. Ia mengemas segala keperluannya dalam satu koper ukuran sedang. Di dalamnya ada barang-barang miliknya, Darwin, Diandra, dan Pak Wisnu. Rencananya mereka akan menginap semalam di sana.

Bu Rani tadi juga sudah membuatkan surat izin tidak masuk untuk hari Seninnya dan dititipkan pada Riko. Untuk urusan laundry, Bu Rani menyerahkan pada Sari untuk dua hari ke depan.

Sepulang sekolah, Darwin langsung mandi dan berganti baju. Ia memakai hem dan celana jins panjang. Hati Darwin merasa sedih sekaligus senang. Sedih karena kakeknya di Madiun telah meninggal, senang karena ia akan bertemu dengan keluarga dan teman-temannya di sana.

Pukul tiga sore, Bu Rani dan keluarganya sampai di Desa Warujati. Darwin menarik napas lega, udara terasa begitu segar saat ia sampai di gang rumah kakeknya. Pandangannya berkelana ke sana ke mari, melihat setiap sudut yang selalu ia rindukan.

Saat sampai di depan pintu rumah kakeknya, Pak Wisnu mengucapkan salam, “Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumsalam,” terdengar suara Mak Karsia dari dalam rumah.

Mak Karsia berjalan menuju pintu ruang tamu, memegang gagang pintu dengan perlahan. Begitu pintu dibuka dan tahu siapa yang datang, wajah Mak Karsia bersinar dan tersenyum manis. Matanya berkaca-kaca kemudian memeluk bocah yang ada di hadapannya.

“Darwin, nenek kangen sekali sama kamu,” wanita tua itu meresapi setiap pelukan hangat yang ia rasakan. Ada rasa lega yang terlepas saat orang yang kehadirannya dinanti-nanti datang.

“Darwin juga kangen sekali sama nenek,” suara Darwin terdengar lirih, hampir saja ia menangis karena terbawa arus haru, sedih, dan bahagia.

Setelah melepas pelukan dengan Darwin, Mak Karsia disalami Bu Rani lalu memeluknya erat seperti memeluk Darwin tadi, tetapi kali ini ada kesedihan lain yang disembunyikannya dari Bu Rani. Bukan karena kematian suaminya, tetapi kesedihan bahwa Bu Rani dan Pak Rahman yang tak mungkin bersatu kembali.

Sebelum kehadiran Pak Rahman dengan istri barunya, Tina, Mak Karsia masih mengharapkan anaknya bisa kembali lagi dengan Bu Rani. Namun setelah itu, harapannya pupus seperti suara yang terhenti meninggalkan keheningan yang menyakitkan.

Untungnya Mak Karsia sudah berpesan pada semua orang agar merahasiakan pernikahan Pak Rahman dengan Tina pada Rani ataupun Darwin. Ia tak ingin menambahkan luka di atas luka yang masih menganga. Mak Karsia sangat mengasihi dan menyayangi cucunya yang tak pernah mendapatkan limpahan kasih sayang dari ayahnya.

“Turut berduka cita ya, Bu atas meninggalnya Pak Tarsim,” ucap Pak Wisnu ramah dan penuh empati.

“Iya, Nak, tolong dimaafkan atas kesalahannya semasa hidup, ya?” pinta Bu Karsia dengan sendunya dan penuh harap.

“Pak Tarsim orang baik, Bu… insyaallah husnul khatimah,” timpal Pak Wisnu.

“Aamiin,” sahut Mak Karsia.

“Oh, ya, Nek, mana Ayah? Apa dia sudah pulang dari bekerja di luar kota?” tanya Darwin polos, ekor matanya menyisir setiap sudut ruangan, barang kali terlihat bayangan ayahnya.

“A-ayahmu sudah kembali ke luar kota, kemarin dia pulang seminggu sampai selesai kirim doa tujuh hari,” jawab Mak Karsia dengan sedikit terbata.

“Ohw, sekarang kerja di mana, Mas Rahman?” tanya Bu Rani dengan nada datar.

“Sekarang kerja di Surabaya, ikut proyek besar katanya,” terang Mak Karsia seraya mengusap tengkuknya. Wajahnya menyiratkan senyum yang dipaksakan.

Pak Wisnu memperhatikan segala gerak-gerik Mak Karsia. Ia merasa ada sesuatu yang membuat Mak Karsia seperti tak tenang. Tingkahnya itu mengingatkan saat dahulu dirinya berhadapan dengan komandannya dan takut melakukan kesalahan.

“Kenapa Ayah balik tidak menunggu kami datang, apa Ayah tidak kangen sama aku dan Ibu?” ucap Darwin dengan nada kecewa.

“Ayahmu cutinya sudah habis, Win, kalau nggak segera balik, nanti kena marah mandornya,” Mak Karsia berusaha mencari alasan yang tepat agar ia tak merasa diabaikan.

“Iya, benar, Win, kasihan ayahmu kalau sampai kena marah,” timpal Bu Rani seraya menatap wajah Darwin dalam-dalam dan penuh penekanan.

Darwin terdiam membisu. Namun, hatinya sudah mengerti dan faham.

“Sebentar, ya, biar saya panggilkan Lika, kalau kamu sudah datang,” ucap Mak Karsia kepada Rani dengan rona berbinar.

Kemudian Mak Karsia berjalan perlahan-lahan menuju belakang. Namun, segera Rani memegang pundak ibu mertuanya itu seraya berkata, “Ibu duduk saja, aku sendiri yang akan memanggil Mbak Lika.” Lantas Rani mendudukan mertuanya yang sudah renta itu di kursi ruang tamu. Sementara itu, Mak Karsia menurut saja.

“Mbak Lika… Mbak, ini aku, Rani,” teriak Rani saat membuka pintu belakang rumah Lika terbuka separuh.

Rani masuk ke dalam seraya menyapu setiap sudut ruang mencari keberadaan kakak iparnya. Saat sampai di ruang tengah, Rani mendapati Lika sedang menimbang cabai kecil di dalam karung. Sepertinya ia baru mendapatkan dagangan dari petani yang biasanya menjual hasil tanamannya kepada Lika.

“Mbak Lika,” ujar Rani dengan suara keras. Lika yang terkaget segera menoleh ke sumber suara itu,

“Rani, kapan datangnya?” tanya Lika sambil berdiri dan bersalaman dengan Rani.

“Barusan,” jawab Rani tersenyum hangat.

“Ih, kamu sekarang makin segar saja, Ran,” puji Lika sembari memperhatikan tubuh Rani.

Hatinya ikut senang sekarang, kehidupannya di Surakarta sudah lebih baik daripada dahulu saat di Warujati, hidupnya memprihatinkan. Lika juga tahu jika Rani adalah anak orang berada. Dia rela hidup menderita di Warujati hanya karena demi cintanya pada Rahman.

Rani dan Lika kemudian bercerita panjang kali lebar dan kali tinggi. Sampai tanpa terasa, satu jam telah berlalu, mereka berdua masih asyik bercerita. Tiba-tiba muncul Eli, anak kedua Lika, ia kemudian bersalaman dengan Rani.

“Eh, Ran, misalnya Eli ikut kamu ke Surakarta gimana? Katamu tadikan di sana buka laundry juga sekarang. Kalau dia kerja ikut saudara, akunya nanti juga bisa tenang meskipun jauh,” ucap Lika sambil memberi isyarat pada Eli agar mau ikut ke Surakarta. Sementara Eli hanya diam menurut saja.

“Ohw… gitu, ya! Bentar, aku berunding dulu dengan ayah,” ucap Rani beranjak dari duduknya. Ia kemudian menemui ayahnya di ruang tamu mertuanya dan menyampaikan keinginan dari Lika untuk mengajak Eli bekerja di sana di Surakarta.

Beberapa saat kemudian, “Mbak Lika, kata ayah… Eli boleh ikut ke Surakarta, kebetulan pekerjaanku di sana juga banyak. Nanti di sana biar ada temannya Sari di laundry,” jelas Rani dengan wajah berseri. Ia juga ikut senang saat ayahnya mengizinkan Eli ikut ke Surakarta.

“Alhamdulillah kalau begitu,” timpal Lika dengan raut wajah tak kalah berseri. Sedangkan Eli sendiri tersenyum lebar mendengar ia diperbolehkan ikut bekerja di Surakarta.

Sejak lulus SD tahun kemarin, dia tidak melanjutkan sekolah. Sebenarnya dia ingin bekerja seperti teman-temannya yang lainnya, ada beberapa tawaran kerja di pabrik kompor dan camilan plintir. Tetapi tempat kerjanya jauh dan Eli masih belum berani. Mendengar dirinya diperbolehkan ikut ke Surakarta, Eli sangat senang, apalagi kerjanya di tempat saudara sendiri.

Keesokan harinya, Rani, Darwin, Pak Wisnu, dan Eli berangkat ke Surakarta pukul tujuh pagi. Sebelum pergi, Pak Wisnu memberi beberapa lembar uang kertas berwarna merah pada Mak Karsia sebagai bentuk belasungkawa. Lika juga mendapat uang saku dua lembar uang berwarna biru dari Pak Wisnu.

(*Naskah ini tidak disunting oleh editor CemerlangMedia) [CM/Na]

Views: 17

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *