Masjid Dirar di PIK 2?

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

#30HMBCM

Oleh: Nunik Soewarno

CemerlangMedia.Com — Agung Sedayu Grup, pengembang kawasan PIK 2, pada (14-11-2025) lalu mengadakan syukuran atas selesainya pembangunan struktur atap dan dimulainya finishing Masjid Al Ikhlas PIK 2. Pemancangan tiang utama Masjid telah dilakukan pada (25-3-2025) lalu dihadiri oleh Menteri Agama Nasaruddin Umar.

Di kawasan yang sama, selain masjid juga didirikan gereja, vihara, dan kelenteng yang menyimbolkan toleransi dan keberagaman di tengah modernisasi kota. Dengan budget sekitar Rp45 miliar dan mampu menampung kurang lebih 600 jemaah, masjid ini diharapkan menjadi pusat kebersamaan dan pembelajaran keagamaan yang inklusif sesuai komitmen Agung Sedayu, membangun lingkungan modern, sarat nilai spiritual dan budaya.

Masjid Al Ikhlas ditargetkan selesai dibangun dan diresmikan awal 2026. Masjid ini diproyeksikan menjadi kawasan yang mencerminkan harmoni agama, bukti toleransi yang dijalankan di Bumi Pertiwi.

PIK 2: Proyek Swasta yang Sempat Jadi PSN

Banyak kontroversi terkait proyek PIK 2 yang berlokasi di Tangerang. Proyek ini sarat kasus yang merugikan masyarakat juga negara.

Ahmad Khozinudin, Ketua Tim Advokasi Melawan Oligarki Rakus Perampas Tanah Rakyat, lebih jauh menyebut, ada tiga kawasan yang berpotensi merugikan negara. Hal ini meliputi persoalan perampasan wilayah laut negara, penguasaan lahan rakyat seluas 900 hektare dengan modus tumpang tindah, dan konversi hutan lindung menjadi area komersial PIK 2 yang bahkan sempat mendapat status PSN.

Masjid Dirar

Masjid Dirar adalah masjid yang dibangun oleh orang-orang munafik Madinah atas perintah Abu Amir, seorang tokoh Madinah yang merasa kehilangan pengaruh dan kalah pamor dari Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam. Masjid ini dibangun dekat Masjid Quba dengan niat untuk memecah belah umat.

Ketika masjid selesai dibangun, diundanglah Rasulullah untuk salat di sana. Akan tetapi, sebelum itu datang, Jibril membawa wahyu, memberikan peringatan yang artinya,
“(Di antara orang-orang munafik itu) ada yang mendirikan masjid untuk menimbulkan bencana (pada orang-orang yang beriman), (menyebabkan) kekufuran, memecah belah di antara orang-orang mukmin, dan menunggu kedatangan orang-orang yang sebelumnya telah memerangi Allah dan Rasul-Nya. Mereka dengan pasti bersumpah, “Kami hanya menghendaki kebaikan.” Allah bersaksi bahwa sesungguhnya mereka itu benar-benar pendusta (dalam sumpahnya).” (QS At Taubah: 107).

Allah mencegah Rasulullah memenuhi undangan kaum munafik, sebab niat yang ada di balik pembangunannya. Kaum munafik menggunakan masjid itu untuk merencanakan makar jahat terhadap muslimin serta membuka akses orang kafir mengintai kegiatan Rasulullah dan umatnya.

Rasulullah kemudian menyuruh beberapa orang sahabat membakar dan menghancurkan Masjid Dirar. Bahkan, memerintahkan agar bekas masjid itu dijadikan tempat pembuangan sampah dan bangkai.

Masjid Al Ikhlas di PIK 2

Agung Sedayu selaku pengembang menyebut bahwa pembangunan Masjid Al Ikhlas PIK 2 ini sebagai amanah spiritual dan menjadi cermin nilai toleransi, tauhid, serta ketakwaan. Di kawasan ini juga dibangun secara berdampingan tempat ibadah agama lain, menjadi simbol perwujudan toleransi, persatuan, dan kedamaian di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk.

Niat yang tampak indah dan manis didengar untuk sebuah rumah ibadah yang dibangun di kawasan —yang dibangun di atas darah dan airmata rakyat kecil yang dipaksakan dengan konspirasi oligarki. Masjid Al Ikhlas ini dibangun untuk mengembangkan inklusivitas, membawa pemahaman atau wawasan keagamaan yang terbuka, toleran, dan mengakui kebenaran serta nilai-nilai dari agama dan budaya lain, meski disebut tanpa mengabaikan ajaran Islam.

Islam inklusif secara populer sering dinilai lebih dekat kepada pemahaman Islam moderat yang lebih menekankan titik temu (principle of identity) dengan kelompok lain. Ada pula yang menyebutnya sebagai Islam liberal.

Masjid Al Ikhlas disebut —dibangun untuk menunjukkan berjalannya toleransi. Sayangnya, yang dimaksud toleransi di sini bukanlah toleransi yang isinya saling menghormati antar agama tanpa harus masuk ranah peribadatan.

Berbeda dengan toleransi yang saat ini giat digaungkan atas nama moderasi beragama. Dalam heterogenitas masyarakat, moderasi beragama disebarkan dengan melibatkan para pemimpin agama untuk berperan aktif mempromosikan, menjadi penghubung antar komunitas agama, memfasilitasi dialog antar umat beragama dan mempromosikan pemahaman yang saling menghormati.

Praktiknya, toleransi jadi kebablasan. Mengenalkan keberagaman agama, bahkan sampai membawa umat masuk dalam rumah ibadah dan peribatan agama lain. Mencintai dan menghormati antar agama, tetapi mudah membenci saudara seagama.

Toleransi Hakiki Hanya dalam Islam

QS Al Kafirun dari ayat 1 sampai dengan 6 menegaskan prinsip muslim pada orang kafir terkait peribadatan. Masalah ibadah datangnya dari Allah langsung. Ayat-ayat ini menunjukkan pengakuan sekaligus penetapan batas dalam hubungan antar umat beragama.

Menghormati agama lain bukan dengan mengorbankan prinsip agama. Hal ini sesuai dengan toleransi yang dijalankan Rasulullah dan diterapkan para sahabat sebagaimana tertuang dalam Piagam Madinah, yaitu konstitusi yang memberikan jaminan kebebasan menjalankan peribadatan agama tanpa gangguan dan tidak mengusik ketauhidan.

Islam menjaga interaksi antar agama dengan teliti. Tidak ada celah yang membuat pertikaian, entah di internal muslim apalagi dengan kafir. Islam meniscayakan perbedaan. Selama masing-masing memiliki landasan syari’i, maka tidak apa-apa berbeda asal tidak timbul pertikaian.

Apabila saat ini banyak perpecahan, itu karena sebagian umat belum membaca kembali tafsir ayat dengan benar. Menganggap semua dari Barat lebih baik, lebih hebat, sehingga menumpukan langkah ke sana. Astaghfirullahalazim

(*Naskah ini tidak disunting oleh editor CemerlangMedia) [CM/Na]

Views: 35

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *