Manusia Pilihan?

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

#30HMBCM

Oleh: Irna Sari

CemerlangMedia.Com — Setiap manusia lahir dengan potensinya. Seiring perkembangan dan pertumbuhannya maka potensi ini dibentuk. Dikembangkan oleh pola asuh, pola makan, dan diperkuat oleh pola pikir. Begitulah prosesnya, terkait hasil dari proses ini, baik atau buruknya tergantung pada prosesnya.

Ibarat gelas kosong, apabila diisi dengan air comberan, maka hasilnya tidak bisa diminum. Aromanya tentu saja berbau. Beda lagi jika diisi oleh jus. Pasti rasanya manis dan bikin ketagihan. Demikian dengan akal dan potensi manusia. Selama potensi ini diasah oleh kebaikan, maka outputnya pun kebaikan.

Dalam fase perjalanan hidup ini, manusia dihadapkan dengan dua opsi dan menetapkan satu pilihan. Menjadi manusia pilihan terbaik atau manusia pilihan yang buruk. Keduanya ada di tangan hamba.

Kita bisa berkaca pada kehidupan Raja Fir’un. Manusia pilihan dengan kekuasaan berlimpah. Kemewahan hidup yang nilainya sangat wow. Akan tetapi pada akhirnya, neraka menjadi seburuk-buruk tempat dia kembali.

Kita bisa pula berkaca pada kehidupan Bilal bin Rabbah, seorang hamba dengan kulit hitam pekat, budak. Namun, surga menjadi sebaik-baik tempat dia kembali. Dari kalangan wanita, dia seorang anak pemimpin, dijanjikan surga, suami dan anak keturunan yang saleh. Namun kesehariannya, dia tidak seperti anak raja, bukan wanita manja, dialah Fatimah Azzahra binti Muhammad.

Apakah yang dijamin surga hanya mereka yang seperti Fatimah? Hidup dalam keterbatasan materi? Oh, tentunya saja tidak. Ada Ratu Bilqis, seorang wanita yang memilki kekuasaan, tetapi juga masih mendapatkan jaminan surga. Juga ada Ibunda Siti Khadijah, seorang saudagar kaya raya, menikah dengan kekasih-Nya. Namun, tidak membuat dia lupa diri, apalagi enggan dalam kebaikan. Justru harta, dan jiwanya menjadi penopang dakwah sang suami.

Letak perbedaannya di mana? Ya, ternyata perbedaan yang sesungguhnya bukan pada status sosial, kaya-miskin, raja dan rakyat. Akan tetapi, pada kekuatan iman dan cinta kepada Sang Khalik.

Keimanan menjadi aspek utama dalam menentukan pilihan. Jika keimanan pada Allah Swt. dan hari akhir dinomor satukan, maka seorang hamba akan memilih untuk melakukan kebaikan dan ketaatan. Potensinya, ya, melakoni kebaikan. Entah sebagai ahli sedekah, ahli ilmu, berdakwah, dan lain sebagainya.

Sebaliknya, potensi buruk yang dipilih jika manusia menggunakan akal dan pikiran serta potensi tadi dalam hal kemaksiatan. Apalagi sampai melawan hukum Allah, pastilah usahanya untuk melakukan kejahatan. Alhasil, lahirlah sikap sombong, tidak amanah, tidak melaksanakan kewajiban sebagai hamba, dan alangkah ruginya jika menjadi budak dunia. Untuk itu, kita selalu berharap agar diri kita selalu menjadi manusia pilihan. Terpilih dengan ketakwaan.

(*Naskah ini tidak disunting oleh editor CemerlangMedia) [CM/Na]

Views: 24

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *