#30HNBCM
Oleh: Purwanti
CemerlangMedia.Com — Ketika Allah Swt. menciptakan Nabi Adam as. dan memuliakannya, iblis menolak sujud kepadanya karena kesombongan. Iblis berkata bahwa ia lebih baik dari Nabi Adam as. karena diciptakan dari api, sedangkan Nabi Adam as. dari tanah liat.
Iblis meminta kepada Allah Swt. agar diberikan penangguhan hingga hari kiamat. Ia berjanji akan menyesatkan manusia, menghiasi keburukan agar tampak indah, menanamkan angan-angan palsu, dan mengalihkan manusia dari jalan Allah.
Sumpah ini Allah abadikan dalam banyak ayat. Salah satunya di dalam QS An Nisa’ ayat 119 yang berbunyi:
“Dan sungguh akan aku (setan) sesatkan mereka, dan akan aku bangkitkan angan-angan kosong pada mereka, dan akan aku perintahkan mereka (memotong telinga-telinga binatang ternak), lalu mereka benar-benar memotongnya, dan akan aku perintahkan mereka, lalu mereka benar-benar mengubah ciptaan Allah. Barang siapa yang menjadikan setan sebagai pelindung selain Allah, maka sungguh ia menderita kerugian yang nyata.”
Ibnu Katsir menegaskan bahwa ayat ini adalah peringatan keras agar manusia tidak menjadikan setan sebagai pemimpin dan panutan kehidupan. Siapapun yang menaati setan dan mengikuti jalannya, maka ia berada dalam kerugian yang nyata di dunia dan di akhirat.
Setan tahu bahwa manusia sering terjatuh bukan karena kebencian kepada kebenaran, melainkan karena tertipu oleh janji manis dunia. Hari ini, setan tidak menyesatkan manusia dengan penyembahan berhala secara fisik, melainkan dengan ideologi, gaya hidup, dan arus pemikiran yang menjauhkan manusia dari Allah. Manusia diajak untuk hidup bebas tanpa batas dan menjadikan hawa nafsu sebagai standar kebenaran.
Tidak hanya itu, setan selalu menyerukan kepada manusia untuk menunda perbuatan baik dengan alasan klise. Menganggap masih muda, padahal kematian tak pandang usia. Menyatakan bahwa Alllah Maha Pengampun, sementara ia terus bergelimang dosa sehingga dosa dinormalisasi, sementara tobat ditunda.
Manusia hari ini memiliki obsesi yang berlebihan terhadap standar kecantikan palsu sehingga tanpa rasa bersalah melakukan operasi plastik sana sini. Namun, yang diubah bukan hanya fisik, tetapi juga fitrah.
Dewasa ini, kaum lelaki tanpa malu menyerupai perempuan dengan dalih penyakit bawaan. Kaum lelaki menyukai sesama lelaki atau sebaliknya. Akibatnya, agama diutak-atik agar sesuai dengan selera zaman, bukan manusia yang menyesuaikan diri dengan tuntunan wahyu.
Hal yang paling mengkhawatirkan dari sumpah setan adalah ketika manusia menjadikan setan sebagai ‘wali’ tanpa sadar. Bukan dengan menyebut namanya, melainkan mengikuti bisikannya. Hawa nafsu dijadikan Tuhan. Tren dijadikan kiblat. Opini publik dijadikan hukum. Akhirnya, manusia hidup bukan berdasarkan petunjuk Allah, tetapi mengikuti arus yang mengalir tanpa arah.
Allah Swt. membuka rahasia ini dalam Al-Qur’an agar manusia waspada. Bukan karena Allah ingin menakut-nakuti, tetapi karena Allah ingin menyelamatkan kita. Ayat ini mengajarkan bahwa tidak semua yang modern itu benar, tidak semua yang bebas itu membawa kebaikan, dan tidak semua yang tren itu layak diikuti.
Untuk menghadapi zaman yang penuh dengan tipu muslihat, tidak cukup menjadi manusia yang cerdas secara intelektual saja, tetapi harus memiliki keimanan yang kokoh. Sebab, mukmin hari ini berarti melawan arus bukan sekadar ikut yang ramai. Menjaga hati di tengah kerusakan, menjaga akal di tengah propaganda, dan menjaga iman di tengah godaan.
Dengan demikian, jangan berikan jalan bagi setan sebagai penasehat dalam diam. Setiap bisikan yang menjauhkan dari salat, melemahkan iman, dan meremehkan dosa merupakan jalan setan. Dan siapapun yang mengikuti jalan itu, maka ia merugi. Sebaliknya, siapa yang berpegang teguh kepada syariat Allah, menjaga tauhid, dan melawana hawa nafsu, maka ia sedang berjalan menuju kesematan.
(*Naskah ini tidak disunting oleh editor CemerlangMedia) [CM/Na]
Views: 34






















