#30HMBCM
Oleh: Fila KA
CemerlangMedia.Com — Hasad dan terpuji, dua sifat yang bertolak belakang. Kenapa demikian? Karena hasad adalah sifat yang buruk dalam Islam, maknanya iri hati. Sedang terpuji adalah kumpulan sifat-sifat baik. Lantas, bagaimana bisa, iri hati menjadi bagian sifat terpuji?
Iri hati itu adalah perasaan tidak senang ketika seseorang memiliki sesuatu yang tidak kita miliki. Kita iri karena merasa seharusnya kita juga memiliki hal serupa. Biasalah manusia, suka tidak puas dengan yang dirinya miliki. Padahal belum tentu yang dimiliki orang lain akan lebih baik jika dimiliki oleh kita.
Lebih-lebih, Rasulullah mengajarkan untuk mensyukuri yang sedikit terlebih dulu baru yang bayak. Maksudnya, syukuri dahulu yang kita miliki. Kalau yang kecil saja tidak mampu kita syukuri, bagaimana bisa kita mensyukuri nikmat besar yang Allah beri?
Jujur aku juga pernah iri, sedih sekali ketika aku sudah di negeri Timur, dekat sekali dengan Makkah, tetapi belum juga diberi kesempatan mengunjunginya. Aku suka iri dengan beberapa mahasiswa yang bisa dengan mudah bolak balik satu dua kali umrah ke sana. Aku tetap mengupayakannya, tetapi hasil selalu atas izin Allah.
Ketemu hadis yang membahas hasad terpuji, kirain sifat hasad selalu identik negatif dan tercela saja. Diriwayatkan oleh Ibnu Umar radiallahu anhuma -semoga Allah merahmati keduanya, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“لا حسد إلا في اثنتين: رجل آتاه الله القرآن فهو يتلوه آناء الليل و آناء النهار, و رجل آتاه الله مالا فهو ينفقه آناء الليل و أناء النهار” [متفق عليه].
“Tidak boleh hasad kecuali dalam dua hal: seseorang yang diberi Allah kepandaian Al-Qur’an lalu ia membaca dan mengamalkannya pada malam dan siang hari. Dan seseorang yang diberi Allah harta, lalu ia menginfakkannya pada malam dan siang hari.” (HR Bukhari dan Muslim).
Ternyata kita boleh iri hati dengan orang yang membaca Al-Qur’an dan orang yang berinfak karena dua perkara baik tersebut layak untuk diusahakan kita ikuti. Ini juga dapat menjadi dalil, sebagai motivasi, supaya terus-menerus membaca dan mengamalkan Al-Qur’an. Begitu juga menjadi bekal semangat untuk senantiasa berinfak di jalan Allah.
Hasad dua perkara ini sangat terpuji karena bermakna mengajak pada diri untuk berlomba-lomba dalam kebaikan dan itu sangat dianjurkan. Berlomba untuk terus-menerus membaca Al-Qur’an di setiap waktu dan berlomba menginfakkan harta karena dalam keikhlasan berinfak tidak akan mendatangkan kerugian.
Hati suka tersentil ketika menyaksikan penderitaan Palestina, tetapi anak-anak Gaza tidak henti berusaha menghafal Al-Qur’an di keadaan tersulit itu. Berdasarkan hadis tersebut, kita boleh iri kepada mereka-mereka yang sulit, tetapi tetap meluangkan waktu untuk tetap dekat dengan Al-Qur’an. Sedangkan kita yang di kondisi aman, banyak waktu luang, masih malas untuk menyentuh Al-Qur’an. Kita boleh iri dan berusaha memiliki kebiasaan baik itu.
Begitu juga dengan berinfak, kita juga diberi tamparan oleh warga Gaza yang turut berdonasi untuk musibah yang datang pada saudara kita di Sumatra. Padahal kondisi di Gaza juga sedang banyak hujan dan mengakibatkan banjir, serta musim dingin, dingin yang jauh lebih ekstrem. Namun, mereka tetap membantu Sumatra, sedang kita bagaimana? Sangat layak rasanya iri dan berusaha untuk memiliki kebaikan serupa.
Pada momen di mana Allah memberi kita lebih banyak rezeki, orang yang paling beruntung adalah yang memanfaatkan rezeki hartanya itu untuk berinfak. Dan saat Allah memberi kebagusan bacaan Al-Qur’an pada lisan, maka orang yang beruntung adalah orang yang selalu mau terus-menerus membaca Al-Qur’an, mengamalkannya, serta mengajarkannya pada orang lain.
Berinfak dan mengajarkan ilmu adalah dua hal yang disabdakan Rasulullah akan menjadi pahala amal jariyah, amal yang tidak terputus walaupun kita telah tiada di bumi. Pas sekali untuk kita jalankan, bukan hanya jadi rasa iri yang tidak kita usahakan. Iri tersebut adalah terpuji dan jika kita melakukannya, maka akan menjadi pahala jariyah.
Keren banget, kan? Ada dua hadis yang saling berkesinambungan, yakni hadis mengenai hasad terpuji dengan hadis mengenai amal jariyah yang pahalanya tidak terputus. Semoga aku dan juga pembaca termotivasi untuk senantiasa mengusahakan dua hasad terpuji itu.
(*Naskah ini tidak disunting oleh editor CemerlangMedia) [CM/Na]
Views: 16






















