#30HMBCM
Oleh: Lailatul Maulina
CemerlangMedia.Com — Manusia sebagai makhluk yang diberikan kemampuan untuk berpikir oleh Sang Pencipta, tentu tidak hanya sekadar untuk memikirkan hal yang remeh temeh atau bahkan sia-sia. Lebih parahnya lagi, justru memikirkan sesuatu yang berbau kemaksiatan. Padahal Allah memberikan kita kemampuan itu untuk menjadikan kita tetap tenang di atas jalan yang sudah diatur oleh-Nya.
Oleh karena itu, tidak wajar jika ada seseorang yang berakal justru masih bingung di saat menghadapi berbagai persoalan besar atau ujian yang terasa berat. Hal ini akan memaksa mereka justru harus memutar otak demi mencari solusi. Kepala mungkin terasa pusing karena terbebani dengan berpikir keras atau terasa hingga menyesakkan dada. Semua manusia pasti pernah mengalaminya. Tentu hal itu wajar karena hidup itu memang tempat ujian bagi kita sebagai seorang muslim. Bahagia dan kesenangan hanya akan dapat diraih di dalam surga.
Jadi jangan berharap hidup tanpa masalah saat di dunia karena segala yang merintangi hidup kita saat ini adalah jembatan kita menuju kebahagiaan. Namun, satu hal yang perlu kita ketahui bahwa kesulitan yang kita hadapi akan menjadi batu loncatan bagi kita menuju tangga yang lebih tinggi.
Banyak yang mengira bahwa masalah yang besar atau ujian yang berat sebagai bentuk murka Allah terhadap hamba-Nya. Padahal bisa saja itu sebagai bentuk kasih sayang-Nya agar kita selalu terikat dan memohon kemudahan hanya kepada-Nya. Terkadang ujian atau masalah itu datang untuk menjadikan kita lebih kuat karena hadirnya membuat kita makin tumbuh dengan memutar otak mencari solusi atau jalan keluarnya.
Ujian atau masalah justru akan membawa petaka di saat belum berusaha sedikit pun, kita justru putus asa dengan hadirnya. Hal ini akan menjadikannya lemah dan kurang kuat bertahan di atas badai.
Jika menjalani hidup sekadar untuk tempat mencari pemenuhan nafsu dan berbuat semaunya, maka siapa pun akan menganggap masalah atau ujian itu sebagai perenggut kebahagiaannya. Akhirnya, tanpa bekal ilmu sebagai akibat dari kelalaiannya selama hidup, membuat dirinya mencari jalan instan dengan mengakhiri hidupnya. Ia lupa bahwa kehidupan setelah dunia adalah tempat mempertanggungjawabkan perbutaannya, bukan tempat pelarian dari permasalahan dunia.
Allah tidak akan pernah memberikan ujian di luar batas kemampuan kita. Kita dibekali akal dan pedoman hidup dari-Nya untuk mencari dan menemukan solusi. Setiap ujian, di awal mungkin akan terasa berat. Namun, setelah menenangkan diri dengan mengadu pada-Nya, solusinya hanyalah menjalani sesuai alur yang sudah ada tanpa menyalahi aturan-Nya.
Jangan sampai kita berlarut dalam sedih karena terlalu terburu-buru dan ingin tuntas segalanya dengan cepat. Padahal semua ujian akan selesai di waktu yang tepat. Kita hanya butuh sabar, bukan berarti hanya diam tanpa berprogres dan berpikir menemukan solusi serta berusaha. Selama kita berusaha dan yakin akan pertolongan-Nya, maka kita akan menghadapi segalanya dengan hati yang lapang.
Memutar otak akan membuat kita berpikir dengan sungguh- sungguh dalam segala hal. Tidak sekadar berpikir dangkal yang justru berujung pada penyesalan. Bahkan, untuk mengatasi hal sesulit apa pun, kita mungkin hanya perlu belajar. Hal mudah akan terasa sulit karena kita belum tahu dan memahaminya dengan benar.
Di saat kita belum menemukan ide, bukan berarti kita bodoh, mungkin kita hanya butuh banyak diskusi dan membaca. Jangan sampai otak kita hanya berisi hal yang tidak berguna dan penuh drama. Parahnya lagi, apabila otak dibiarkan kosong tanpa pengetahuan mengenai syariat-Nya, maka yang ada hanya akan memunculkan keluh kesah dan rasa kurang percaya diri.
Selama Wahyu menjadi landasan berpikir kita, memecahkan masalah akan menjadi perkara yang mudah. Yakinlah bahwa Allah selalu ada untuk menuntun kita menemukan setiap jalan keluar. Memutar otak untuk menemukan solusi karena masalah tidak akan selesai hanya dengan berdiam diri.
(*Naskah ini tidak disunting oleh editor CemerlangMedia) [CM/Na]
Views: 20






















