Penulis: Sintia
Gen Z tidak “diciptakan” dalam satu malam. Oleh karena itu, pentingnya sinergi antara keluarga, lingkungan, bahkan hadirnya negara dalam menciptakan generasi pembangkit kejayaan umat. Upaya tersebut akan lebih sulit jika dilakukan perorangan, tetapi harus dilakukan secara masif dan terstruktur, mulai dari lingkup keluarga, masyarakat dan negara.
CemerlangMedia.Com — Pergeseran zaman mengantarkan masyarakat pada masa yang dinamakan era digital, di mana informasi bisa mudah didapatkan dengan sekali klik. Ruang bebas yang tidak terbatas sering kali mengantarkan penggunanya dari sekadar rame di timeline menuju keterlibatan sosial-politik yang nyata. Akibatnya, era digital ini ibarat dua mata pisau, bisa mengantarkan gen Z menuju kemudahan (kritis) atau mengantarkan mereka pada kejatuhan, yakni krisis diri yang bercabang menjadi krisis mental, sosial, dan finansial.
Gen Z sering dianggap sebagai generasi stroberi di tengah masyarakat. Dalam penjelasan populer di Indonesia, generasi stroberi adalah generasi muda yang punya ide dan kreativitas tinggi, melek teknologi, dan tampil menarik, tetapi mudah menyerah dan gampang sakit hati ketika menghadapi kritik atau tekanan kecil.
Rentang usia Gen Z adalah mereka yang lahir di tahun 1996—2012, yang artinya setelah generasi milenial. Sebutan Gen Z sendiri adalah iGeneration. Sebutan itu terinspirasi dari nama-nama produk teknologi terkemuka di dunia, yakni Apple. Jadi, iGeneration maksudnya adalah generasi yang memanfaatkan internet dan teknologi untuk menjalani kehidupan (feb.ung.ac.id, 25-05-2025).
Di era digital saat ini, 81% masyarakat Indonesia menggunakan media sosial dari berbagai platform. Survei Diginex yang bekerja sama dengan Inventure dan Ivosights menyebutkan, daftar media sosial yang mendominasi aktivitas digital responden Indonesia. Hasilnya, WhatsApp duduk di peringkat pertama sebagai media sosial yang banyak digunakan dengan 84,7% (data.goodstats.id, 11-12-2025). Dominasi ini melahirkan hegemoni digital, yaitu keadaan ketika platform bukan lagi sekadar penyedia jasa, tetapi produsen budaya dan pembentuk kesadaran masyarakat.
Gen Z Terseret dalam Arus Sekuler Kapitalisme
Ruang media sosial saat ini sudah menjadi kebutuhan yang sulit dipisahkan dari kehidupan Gen Z. Pedihnya, umat harus menerima kenyataan bahwa ruang ini tidak bersifat netral, terlalu luas jangkauannya sehingga membuat Gen Z terseret dalam arus sekuler kapitalisme.
Tidak adanya aturan jelas membuat setiap orang bisa bebas menuangkan kreativitasnya. Jika viewers-nya banyak, apa pun kontennya, akan menjadi konsumsi publik yang paling digandrungi. Ujung dari segala hiburan itu adalah cuan, hedonisme, dan gaya hidup kapitalis.
Konten kreator muda memanfaatkan kebebasan berekspresi untuk meningkatkan literasi digital Gen Z. Hal tersebut menjadi ruang belajar yang bisa diakses dengan mudah, bahkan sering menjadi roda penggerak ketika adanya krisis di tengah masyarakat. Mereka bisa lebih vokal dalam menyampaikan pendapat.
Namun, di balik hal tersebut, tersimpan sekelumit masalah baru. Terlalu cepat dan mudahnya arus informasi, membuat mental Gen Z menjadi mudah goyah, ditambah algoritma yang muncul di timeline media sosial mereka, bisa dengan mudah mengubah arah pandang.
Gen Z yang bisa disebut sebagai generasi digital native (lahir dan tumbuh di era digital) membuat mereka lebih mudah untuk mengikuti arus (fomo/pragmatis) dalam menyikapi hal yang sedang terjadi. Beberapa orang menjadi lebih haus validasi pada beberapa hal, bisa saja itu terjadi karena terbiasa untuk mengharapkan pujian atau respons ketika membagikan postingan di media sosial. Ini tidak bisa dianggap remeh karena lewat 3F (Food, Fashion and Fun), Gen Z menjadi sasaran utama yang bisa dimanfaatkan dalam sistem saat ini.
Persoalan di atas tidak bisa dinormalisasi, apalagi didiamkan karena Gen Z akan menjadi calon pemimpin umat di masa depan. Oleh karena itu, ketika ingin kembali membangkitkan umat, perlu menyelamatkan generasi Z ini dari kungkungan ideologi sekuler kapitalisme yang pemahamannya sudah banyak tersebar luas di media sosial. Kemudian kembali mengangkat ide-ide Islam dengan senjata yang sama, yakni media sosial. Menggunakan bahasa, pendekatan yang bisa lebih diterima oleh mereka.
Tokoh Islam, Teladan bagi Gen Z
Islam tidak kekurangan tokoh-tokoh muda yang inspiratif seperti Muhammad Al Fatih (sang pembebas Konstantinopel), Salahuddin Al Ayyubi (pembebas Baitulmaqdis). Keduanya bisa menjadi contoh bahwa pentingnya membina generasi muda dalam rangka membangkitkan kembali kejayaan Islam.
Dari kedua tokoh tersebut, Gen Z bisa belajar bahwa mereka tidak “diciptakan” dalam satu malam, pentingnya sinergi antara keluarga, lingkungan, bahkan hadirnya negara dalam menciptakan generasi pembangkit kejayaan umat. Upaya tersebut akan lebih sulit jika dilakukan perorangan, tetapi harus dilakukan secara masif dan terstruktur, mulai dari lingkup keluarga, masyarakat dan negara.
Keluarga bisa menjadi tonggak utama lahirnya pemimpin yang amanah, penuh kelembutan dan kritis dalam berpikir. Seburuk apa pun lingkungan membawa mereka, tetap bisa survive karena dukungan keluarga. Selain keluarga, dibutuhkan juga peran masyarakat yang peduli terhadap generasi, masyarakat yang lahir dari ikatan perasaan dan aturan sama, yakni syariat.
Khatimah
Gong dari perubahan Gen Z agar menjadi generasi unggul adalah negara, yakni dengan membangun sistem pendidikan yang mampu membentuk manusia menjadi khalifah (pengelola bumi), bukan menjadi manusia yang melihat bumi sebagai sumber daya yang harus dikeruk untuk kepentingan pribadi. Mari bergerak bersama, melakukan sekecil apa pun yang mampu dilakukan untuk mengembalikan kaum muslim terutama Gen G agar fokus sama, yakni izzul Islam wal muslimiin. Allahu Akbar!
Wallahu a’lam [CM/Na]
Views: 31






















