#30HMBCM
Oleh: Linda Ariyanti
CemerlangMedia.Com — “Tidaklah Allah menciptakan penyakit, kecuali Dia juga menciptakan obatnya-yang akan diketahui oleh yang mengetahuinya dan tidak akan diketahui oleh orang bodoh-kecuali kematian.” (HR Ahmad dan At-Thabrani)
***
“Nda, aku duluan, ya.” Dia pamit dengan ucapan itu sembari memegang bahuku. Kujawab dengan cepat.
“Jangan ngomong gitu, Ma. Kamu pasti sembuh dan kita bisa ngobrol lagi. Dokter lagi nyari ruangan, semangat, ya, Ma. Kamu pasti kuat!”
Setelah mendengar ucapanku, dia menatapku cukup lama. Aku tidak tau apa yang ada di benaknya. Dia pun melanjutkan.
“Kita pulang aja, yuk. Udah waktunya, udah deket ini. Gak usah pindah ke rumah sakit lain.”
Rumah sakit yang memiliki dokter spesialis jantung dan ventilator pun akhirnya kami dapatkan. Dia pun dimasukkan ke dalam mobil ambulans, sedangkan aku mengambil video untuk melaporkan kondisinya ke grup keluarga. Tidak pernah terbesit bahwa video tersebut akan menjadi kenangan yang tertinggal.
Sirene ambulans terus berbunyi. Namun, suaranya makin samar karena sudah melaju lebih jauh. Aku menatapnya dengan rasa tidak percaya. Dia yang selalu kuat saat harus menjalani rangkaian pengobatan, kita harus dirujuk menggunakan mobil ambulans. Aku bergegas kembali ke rumah untuk rehat sejenak, sebab semalam sudah tidak tidur.
Tak Bisa Menua Bersama
Baru satu jam dari keberangkatan mobil ambulans, aku mendapat telepon agar segera ke RS. Setibanya di sana, semua orang sudah menangis karena detak jantungnya sudah tidak ada. Semua tim medis naik ke ranjang dan melakukan pacu jantung untuk mengembalikan detak jatungnya. Aku berteriak histeris, kupanggil namanya berulang kali, kusebut doa demi doa. Alhamdulillah, dia kembali.
Namun, kondisinya terus melemah. Pacu jantung kedua dan ketiga tidak membuatnya membaik. Pada akhirnya, kami harus mengikhlaskan kepergiannya. Aku berada tepat di sampingnya, dalam mobil ambulans pembawa jenazah, dengan suara sirene yang menyakitkan. Semua sudah berakhir, perjuangan melawan penyakitnya sudah usai.
Dia sudah kembali keharibaan Ilahi, padahal kami sering membayangkan kehidupan saat menua bersama. Setiap ada foto dua orang nenek-nenek, pasti ada saja yang share di grup keluarga, seolah mereka adalah aku dan kakak perempuanku. Ada banyak POV yang dituliskan, dari hal serius sampai hal yang membuat kami tertawa terbahak.
Memang benar, semua penyakit ada obatnya. Namun, ada satu penyakit yang tidak ada obatnya, yakni kematian. Hal tersebut sudah disampaikan oleh Rasulullah saw. dalam hadis riwayat Ahmad dan At Tabrani. Manusia tidak akan bisa menghindarinya, meski berlindung di dalam gedung yang tinggi sekalipun.
Jangan Berandai-andai
Membicarakan kematian adalah hal yang biasa aku dan kakak perempuanku lakukan. Bahkan, saat kami sedang mengalami masalah kehidupan, kami selalu mengatakan, “Halah! Ujung-ujungnya kita juga bakal mati, kok, ngapain pusing-pusing.” Namun, rasa kehilangan ternyata tidak sesederhana saat aku masih bisa bicara dengannya.
Kalimat berulang yang dia sampaikan saat kami membicarakan tentang kematian adalah, “Aku dulu aja, ya, Nda yang meninggal. Kamu jangan. Kamu masih dibutuhkan umat.” Akhirnya, ucapannya benar-benar terwujud, padahal aku tidak pernah membenarkan ucapannya. Hanya saja, memang semua sudah Allah Swt. takdirkan, manusia hanya bisa ikhlas menerima.
Sebagai agama sempurna, Islam mengatur persoalan hati, terutama perkara tauhid. Setiap muslim hendaknya tidak berandai-andai terhadap suatu perkara karena bisa terjerumus dalam perkara syirik. Sebab, pengandaian bisa membuat seseorang mengingkari takdir yang sudah Allah Swt. tetapkan.
Rasulullah saw. bersabda, “Bersemangatlah untuk meraih segala hal yang bermanfaat bagimu. Mintalah pertolongan Allah dan jangan lemah. Apabila engkau tertimpa sesuatu (yang tidak menyenangkan) janganlah berkata, ‘Seandainya aku dulu berbuat begini niscaya akan menjadi begini dan begitu’. Akan tetapi katakanlah, ‘Qaddarallahu wa maa syaa’a fa’ala, Allah telah mentakdirkan, terserah apa yang diputuskan-Nya’. Karena perkataan seandainya dapat membuka celah perbuatan syaitan.” (HR Muslim).
Khatimah
Sahabat muslimah, meski kehilangan adalah perkara yang berat, tetapi semangat hidup dan beramal saleh harus terus terjaga. Sebab, tidak ada bekal terbaik untuk bertemu dengan Rabbul’alamin, kecuali amal-amal kebaikan.
Yuk, kita jaga hati kita agar senantiasa ikhlas menerima takdir baik dan buruk. Pastikan kita senantiasa berjalan di atas rel ketaatan dan jangan berpindah kepada kemaksiatan. Pergunakan waktu yang tersisa untuk meraih predikat takwa.
(*Naskah ini tidak disunting oleh editor CemerlangMedia) [CM/Na]
Views: 24






















