Oleh: Ummu Iffah
CemerlangMedia.Com, FAKSI — Malam terasa begitu panjang. Rumah kos berlantai tiga itu senyap. Hanya suara air hujan yang seolah dicurahkan dari langit terdengar menusuk gendang telinga gadis itu. Sesekali kilat putih melewati kaca jendela, menembus gorden yang berwarna hijau.
Mata Aini tidak bisa terpejam sama sekali. Apalagi ia sendirian, teman satu kamarnya sedang mudik menengok orang tuanya yang sedang sakit. Aini meringkuk di balik selimut sembari menutup telinganya dari suara hujan dan petir yang bersahut-sahutan.
**
Magrib sudah hampir menjelang, tetapi hujan badai yang turun sedari sore hari tidak kunjung reda. Taufan sudah berangkat ke tempat kerja. Tinggallah Aini sendirian ditemani kucing kesayangannya.
Hujan turun makin deras diiringi petir yang menyambar-nyambar. Hati Aini tidak menentu. Takut dan was-was. Meskipun jarum jam sudah di angka sebelas, tetapi matanya tidak mampu terpejam.
Aini berusaha menghalau rasa takutnya dengan membaca buku. Namun, makin ia berusaha menghilangkan suara hujan dari telinga, makin terasa keras pula bunyi yang ditimbulkannya.
Dalam derasnya hujan, tiba-tiba ada suara ketukan. Aini bergegas menyambar kerudungnya dan mengintip di balik jendela yang ditutupi gorden berwarna marun.
Aini lalu membukakan pintu ketika mengetahui siapa yang datang. Taufan basah kuyup, mantel yang dikenakannya tidak mampu menahan derasnya hujan.
“Tadinya, Mas mau tidur di musala karena hujan begitu lebat.” Ucap Taufan sambil melepas mantelnya dan mengambil pakaian ganti yang diserahkan Aini.
“Mas ingat kamu yang sendirian di rumah.” Ucapnya sambil tersenyum dan berlalu ke kamar mandi.
Wajah polos Aini tampak terheran. Sejak menikah satu bulan yang lalu, Aini belum pernah bercerita kalau ia takut hujan. Perempuan itu malu jika sang suami tahu tentang phobia yang tak lazim pada dirinya.
Sejak kecil, Aini memang takut dengan hujan. Bahkan, setiap kali hujan turun, Aini menangis ketakutan.
Ketika beranjak remaja, Aini berusaha mengusir rasa takut itu dengan sering mandi hujan bersama kawan-kawan seusianya. Terkadang juga mandi hujan saat pulang sekolah.
Namun ternyata, hal itu tidak mampu juga menghilangkan rasa takutnya secara total. Setidaknya, ketika hujan turun ia tidak lagi bersembunyi di balik selimut atau menangis seperti masa kecilnya.
Namun, entah kenapa, sejak Aini bekerja di kota, rasa takut dengan hujan makin menjadi. Apalagi jika hujan turun di malam hari. Aini akan terus terjaga hingga hujan reda.
**
“Mas, sudah mendung. Sebentar lagi turun hujan. Tunggu ya, sampai hujan reda baru berangkat,” ucap Aini memelas. Perempuan itu bergelayut di lengan suaminya.
“Masa takutnya sama hujan, kurang asyik. Takutnya sama yang lain, donk!” Ucap Taufan menggoda sambil merapikan rambutnya di depan cermin.
“Mas, kok gitu, sih! Ledekannya bikin kesal,” ucap Aini mayun. “Namanya orang takut, kan bisa sama apa saja,” jawab Aini. Pegangan tangannya makin kencang seiring rintik hujan yang mulai turun dengan deras.
“Hari ini, Mas ada meeting project nasional, tidak apa-apa ya, Mas tinggal. Gak mungkin, donk, Mas meeting dari rumah,” Taufan membujuk Aini.
“Lagi pula, ini kan siang hari. Nanti kalau kenapa-napa, langsung telepon saja. Mas segera pulang,” ucap Taufan berjanji.
“Jangan lupa berdoa! Saat hujan turun adalah salah satu waktu diijabahnya doa-doa kita,” ucap Taufan tersenyum.
Aini pasrah. Ia melepas kepergian Taufan dengan berat hati. Rintik hujan mulai turun makin deras. Aini menutup serta mengunci seluruh pintu dan jendela. Perempuan itu mengurung diri di kamar sambil menyelesaikan naskahnya yang di ambang deadline.
Suasana di luar rumah mulai gelap seperti malam hari. Jalanan di depan rumah mulai sepi seperti tidak ada kehidupan. Gerimis kecil berubah menjadi hujan deras bak dicurahkan dari langit.
Meskipun Aini berusaha fokus ke layar laptop, tetapi pikirannya melanglang buana mendengar suara hujan. Ia sama sekali tidak bisa berkonsentrasi. Tiba-tiba listrik mati. Lengkap sudah ketakutannya. Aini teringat pesan Taufan.
Meski tidak sanggup memandang keluar rumah karena gelap gulita, Aini berdoa, “Ya Allah, turunkanlah hujan yang berkah. Berikah kami rezeki yang berlimpah lagi berkah, mudahkan segala urusan kami, sehatkan tubuh kami, jadikanlah rumah tangga kami keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah, dan wafatkan kami dalam keadaan husnul khatimah.” Doa itu ia lantunkan terus-menerus sembari berzikir.
Di tengah hujan yang makin deras, sayup-sayup Aini mendengar suara motor Taufan. Ia menghambur dari balik selimut dan berlari ke pintu. Aini memasang senyum kemenangan. Di saat ketakutannya memuncak, ternyata Allah merencanakan sesuatu yang lebih indah.
Pesan Inspiratif: “Jangan hanya fokus pada gemuruh petir, tetapi fokuslah pada siapa yang menurunkan hujan. Ubahlah sapaan alam yang menakutkan menjadi jembatan komunikasi kita dengan Allah melalui doa.” [CM/Na]
Views: 28






















